Hasil Tes CPNS Mimika Menimbulkan Duka, Salahnya Dimana? Solusinya Bagaimana?

Bagikan Bagikan
Peserta Seleksi CPNS Mimika pada seusai mengikuti tahapan seleksi pada Juni 2019 lalu. (Foto: SAPA/Jefri Manehat)

SELAMAT pagi seluruh masyarakat Kabupaten Mimika dan seluruh pembaca Salam Papua di mana pun berada. Semoga semuanya dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa, sehat dan siap beraktivitas pada hari ini.

Hasil tes CPNS Kabupaten Mimika Formasi 2018 yang diumumkan Pemerintah Provinsi Papua, Kamis (16/7/2020) melalui vidio conference (Vicon) ternyata menimbulkan rasa prihatin dan duka cita bagi Lembaga Musyawarah Adat Suku Kamoro (Lemasko) sebagaimana yang disampaikan oleh Marianus Maknaipeku.


Mengapa sampai Lemasko berkabung dan diselimuti duka cita? Karena dari 300 CPNS yang diterima di Kabupaten Mimika, hanya ada 27 orang dari dua suku besar di kabupaten ini, Amungme dan Kamoro. Sisanya dari suku-suku lain di Papua dan non Papua.


Dari 27 orang Suku Amungme Kamoro tersebut belum diketahui pasti berapa Amungme dan berapa Kamoro. Apakah 14-13. 13-14, 15-12 atau 10-17, kita tunggu saja nama-nama yang akan diumumkan kemudian. Angka 27 atau 9 persen dari 300 ini tergolong sangat amat kecil. Sangat amat tidak adil bagi Amungme dan Kamoro sebagai pemilik hak ulayat.


Dari 300 CPNS yang lolos,  219 merupakan orang asli Papua (OAP) dan 81 orang non Papua. Bila 219 OAP dikurangi 27 Amungme Kamoro berarti 192 OAP non Amungme Kamoro. Jumlah yang lumayan banyak.

Pertanyaannya, adakah minimal 3 orang Amungme Kamoro yang diterima sebagai CPNS dalam Formasi 2018 sebagai bagian dari OAP di kabupaten lain di Papua seperti Jayapura, Merauke, Sarmi, Kerom, Asmat, Puncak, Puncak Jaya atau Nduga yang bertetangga langsung dengan Mimika? Silahkan dijawab sendiri.

Untuk jatah non Papua yang diterima di Papua, apakah ada timbal baliknya? Apakah minimal ada satu orang Amungme dan satu orang Kamoro, atau satu OAP yang diterima di salah satu kabupaten-kota di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, NTT, Maluku dan Ambon? Silahkan di jawab sendiri.

Jatah non Papua ini sebenarnya bertujuan mulia agar ada pemerataan, ada warna nasionalisme. Agar OAP dan non Papua bisa saling belajar satu sama lain untuk lebih maju. Namun bila melihat jumlah ASN (PNS) di Mimika saat ini yang sudah dikuasai non Papua, dimana Amungme Kamoro bisa dihitung dengan jari, maka kuota 20 persen untuk non Papua perlu dievaluasi. Bila tidak maka sampai kapan pun, OAP, terlebih khusus Amungme Kamoro tidak bisa menjadi mayoritas PNS di Mimika.

Kembali ke angka 27 yang lolos tes CPNS yang membuat Lemasko berduka, salahnya dimana? Solusinya bagaimana?

Apakah benar hal ini terjadi karena tidak ada atau minimnya orang Amungme dan Kamoro yang melamar dan mengikuti tes di penerimaan tenaga pendidikan dan kesehatan?  Jawaban terhadap pertanyaan ini juga dalam bentuk oertanyaan. Apakah hingga tahun 2018 tidak ada orang Amungme Kamoro yang sarjana pendidikan dan kesehatan? Apakah tidak ada yang honorer mengajar di sekolah-sekolah? Apakah juga tidak ada yang honorer di Kantor Dinas Kesehatan, rumah sakit dan Puskesmas? Apakah ribuan sarjana hasil beasiswa dari LPMAK (sekarang YPMAK), yang menggunakan dana kemitraan PT Freeport Indonesia (PTFI), tidak ada yang sarjana pendidikan dan kesehatan? Kalau ada, apakah tidak melamar dan ikut tes di Formasi 2018? Atau mengikuti tes tapi dinyatakan tidak lolos?  Jawabannya, mari kita lihat, apakah ada sarjana pendidikan dan kesehatan yang ikut tes ini, 'memprotes' karena dinyatakan tidak lolos? 

Hasil tes sudah diumumkan. Suka atau tidak suka harus diterima dengan lapang dada. Prihatin dan berduka adalah suatu reaksi yang manusiawi.  Namun itu tidak menyelesaikan masalah. Menjadikan hasil tes tahun 2018 sebagai pelajaran berharga untuk menghadapi tes CPNS tahun-tahun berikutnya adalah solusi terbaik.

Tidak hanya Lemasko, tapi juga Lemasa, mulai saat ini harus mendata seluruh sumber daya manusia (SDM) yang dimilikinya. Berapa orang sarjana pendidikan, kesehatan, hukum, ekonomi dan lain-lain yang ada. Sarjana-sarjana kemudian dibekali dengan keterampilan lain seperti penguasaan program-program komputer dan teknologi informasi lainnya, yang membuat mereka bisa brrdaing dengan orang lain. Bisa mengikuti tes online dan sebagainya. Agar tes CPNS secara online yang sebelumnya menjadi masalah bisa diatasi.

Bila sarjana pendidikan dan kesehatan minim, maka Lemasa, Lemasko dan YPMAK harus mempersiapkan SDM di dua bidang itu. Agar apa yang terjadi di tes CPNS Formasi 2018 tidak terulang dan terulang lagi.

Harus ada persiapan diri dan tekad yang kuat agar di tes CPNS tahun-tahun berikutnya, hasilnya dikuasai orang Amungme dan Kamoro. Misalnya, dari 300 yang diterima, 200 orang dari Amungme Kamoro. Sisanya 100 dari suku lain di Papua dan non Papua. Amungme Kamoro bisa. (Yulius Lopo)









Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

2 komentar:

  1. Hobi bermain game, Takut kalahh?? Tenang qqharian mempunyai promo Welcome cashback,
    anda dapat meraih kemenangan anda di kesempatan kedua sesuai modal pertama anda 100%,
    tunggu apa lagi hanya di qqharian yang berani memberikan bonus promo casback, buruan bergabung sekarang juga Di QQHarian

    BalasHapus
  2. lampiaskan ini ke otsus jilid 2 saja to,,,,..jilid 2 belum berjalan lagi,,,sda ada keganjalan2 di tiap2 pemangku hak ulayat..

    BalasHapus