Kawal Penerimaan Siswa Baru, 23 Personel Polres Mimika Jaga SMAN 1

Bagikan Bagikan
Suasana penjagaan di SMAN 1. (Foto: SAPA/Kristin)

SAPA (TIMIKA) - Mengawal proses pelaksanaan penerimaan siswa baru (PSB) tahun ajaran 2020/2021 di SMAN 1, sebanyak 23 personel Polres Mimika diturunkan menjaga keamanan, Senin (6/7/2020).

Pengawalan dilakukan lantaran sebelumnya pada Jumat (3/7/2020) pihak Polres Mimika mendapat laporan ada oknum orang tua siswa yang sempat melakukan keributan hingga memecahkan kaca.

Kabag Ops Polres Mimika AKP Dionisius Vox Dei Paron Helan mengatakan pengawalan pengamanan yang dilakukan oleh Polres Mimika ini, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

"Terkait pengamanan di SMAN I ini merupakan perintah dari Kapolres Mimika AKBP I Gusti Gde Era Adhinata. Hal ini karena, pada beberapa hari lalu terjadi pengancaman terhadap guru-guru di SMAN 1," ujar Kabag Ops kepada wartawan.

Karena permasalahan tersebut akhirnya pihak Dinas Pendidikan Provinsi Papua menyurat ke Polres Mimika untuk meminta pengamanan di SMAN 1 dalam proses penerimaan siswa baru.

“Kami turunkan 23 personel yang dipimpin Kasat Sabhara AKP Rosman Latuconsina selaku perwira pengendali,” ujarnya.

Ia berharap agar siswa dan orang tua yang mengikuti proses PSB bisa memiliki jiwa kedewasaan.

"Jangan sampai melakukan hal-hal yang merugikan pihak lain, dan kami ada untuk mengawal agar PSB berjalan dengan baik,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala SMAN 1 Mimika, Matheus Mamo membenarkan bahwa sebelumnya pihaknya mendapatkan insiden tersebut sehingga pihaknya melaporkan ke Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi, selanjutnya Kadis Pendidikan Provinsi menyurat ke Polres Mimika untuk dilakukan pengamanan dalam satu hari.

"Kami juga tidak memprediksikan jika kejadian seperti itu terjadi karena semua proses sudah dilaksanakan dengan baik, dan karena ada sedikit peristiwa itu, maka kami laporkan ke Dinas Pendidikan Papua, dan langsung menyurat ke kepolisian. Sehingga hari ini ada personel kepolisian yang melakukan pengawalan,”  ujarnya.

Dijelaskan kejadian tersebut karena oknum orang tua marah hanya karena adanya mis komunikasi, dimana sebenarnya anak dari orang tua tersebut sudah diterima dan sudah dilaksanakan proses administrasi.

“Tetapi setelah dijelaskan oleh staf di kesiswaan maka orang tua tersebut paham dan tidak marah lagi," tuturnya. (Kristin)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar