Marojahan Doloksaribu: Bina Warga Lapas Dengan Pola Pendekatan Kekeluargaan dan Penguatan Iman

Bagikan Bagikan
Kalapas Kelas II B Timika, Marojahan Doloksaribu (SAPA/Acik)


SAPA (TIMIKA) – Kepala Lapas Kelas II B Timika, Marojahan Doloksaribu, SH mengaku, pembinaan terhadap 230 orang warga binaan di lapas Timika dilakukan dengan pola pendekatan kekeluargaan dan penguatan iman.

Penguatan iman melalui ibadah bersama dengan menghadirkan pengkhotbah khusus merupakan satu solusi untuk merubah diri dari setiap warga lapas. Di mana, khusus yang Nasrani, diwajibkan untuk salam-salaman usai ibadah bersama agar jalinan kekeluargaan bisa dipererat.

“Saya selalu beribadah dalam lapas ini supaya mem-back up keamanan sekaligus membina. Biasa ada Pastor dan Pendeta yang datang untuk memimpin ibadah. Jadi saya tahu siapa yang tidak masuk gereja untuk beribadah dan langsung saya tegur dan tanya apa alasannya kenapa. Ibadah bersama itu penting sebagai satu keluarga. Tapi selama pandemi covid-19 ini, kita tidak terapkan salam-salaman,” ungkapnya kepada Salam Papua di Lapas Kelas II B Jalan Iwaka SP V, Senin (27/7/2020).

Demikian juga dengan warga binaan yang beragama Muslim. Mereka diwajibkan untuk menjalani sholat lima waktu, baik di dalam masing-masing blok, ataupun di Masjid yang ada di dalam lapas.

“Intinya saya tidak ingin ada permusuhan di antara mereka. Mereka harus seperti satu keluarga. Sesekali mereka sholat Jumat dengan pendakwa khusus yaitu ustad,” katanya.

223 warga binaan ini bertambah setelah beberapa hari lalu diserahkan 27 orang tahanan dari Kejaksaan Negeri (Kejari). 27 orang warga baru ini telah terlebih dahulu menjalani pemeriksaan dan dinyatakan bebas covid-19 dari Dinkes Mimika.

Dia mengungkapkan, hingga saat ini daya tampung di masing-masing blok sangat memadai untuk 230 warga binaan.

“Daya tampung untuk 266 warga binaan dan saat ini masih layak. Kebetulan saya bertugas sejak tahun 2017, tapi sejak bulan Maret tahun 2018 hingga bulan Juni tahun 2020, kita telah perbaiki sebanyak 17 kamar yang tidak layak pakai,” jelasnya.

Saat ini yang telah diusulkan ke Sekjen adalah penambahan petugas jaga hingga 25 orang. Akan tetapi karena adanya pandemi covid-19, maka proses seleksinya jadi terhambat. Yang ada saat ini hanya lima orang secara bergilir saat siang hari dan malam hari.

“Dulu pernah ada delapan tahanan yang kabur dengan cara menggunting ornamen bagian belakang gedung. Itu karena minimnya  petugas jaga, makanya saya sudah usulkan agar ada penambahan petugas jaga manimal lima orang lagi supaya jadi 10 orang petugas. Kita harapkan di bulan Desember nanti sudah ada penambahan petugas jaganya,” ujarnya. (Acik)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar