Membaca “Ketidakadilan” bagi Putra-Putri Amor di Balik Hasil Seleksi CPNS

Bagikan Bagikan


AMOLONGO - NIMAO WITIMI...
Meskipun hari ini mungkin masyarakat Mimika sedang membicarakan terkait rolling jabatan di lingkungan Pemkab kemarin, tapi berita tentang 219 Orang Asli Papua (OAP) dari 300 orang yang dinyatakan lolos seleksi CPNS di Kabupaten Mimika seperti disampaikan Bupati Mimika, Eltinus Omaleng, pada Kamis (16/7/2020) yang lalu terasa masih mendengung keras di telinga dan ingatan kita.

Jumlah 219 OAP yang lolos seleksi CPNS tersebut merupakan angin segar bagi sirkulasi Otsus di Papua, tapi sepertinya menjadi kabar buruk bagi anak asli di tanah Amungsa ini, khususnya putra-putri suku Amungme-Kamoro (Amor), sebab hanya 27 orang dari mereka yang lolos.

Anak-anak Amor membaca hasil seleksi CPNS ini sebagai ketidakadilan bagi mereka di tanah mereka sendiri, seperti misalnya menyalahkan pemerintah daerah yang tidak memihak atau memberi perhatian khusus. Untuk hal ini, alangkah baiknya pemerintah daerah mengumumkan secara transparan di publik terkait hasil ujian anak-anak Amor agar tidak ada tuduhan-tuduhan miring yang tercipta.

Di samping itu, ada pula yang menghubungkannya dengan tidak terlaksananya undang-undang Otsus Papua di tanah Amungsa ini.

Memang benar, dalam undang-undang Otsus Papua pasal 62 ayat 2 mengatakan, Orang Asli Papua berhak memperoleh kesempatan dan diutamakan untuk mendapatkan pekerjaan dalam semua bidang pekerjaan di wilayah Papua berdasarkan Pendidikan dan keahliannya.

Namun, mari kita sedikit berkaca dari penggalan undang-undang Otsus Papua tersebut. Orang Asli Papua khususnya dalam konteks di Kabupaten Mimika ini adalah Putra-Putri Amungme-Kamoro, memang diberi kesempatan yang begitu besar untuk mendapatkan pekerjaan di semua bidang, tapi bukan tanpa syarat. Harus tetap berdasarkan pada pendidikan dan keahliannya. Sehingga kata kuncinya ada pada budaya pendidikan.

Sebelum terlalu cepat menilai ketidakadilan dari hasil seleksi CPNS itu, ada baiknya putra-putri Amor perlu bertanya pada diri masing-masing, bagaimana dengan kualitas pendidikan mereka khususnya yang berada di tanah Amungsa ini?

Sudah banyak kajian ilmiah dan bahkan guru-guru di tanah ini yang mengeluhkan begitu rendahnya budaya dan kualitas pendidikan khususnya anak-anak asli daerah ini. Hal itu sekaligus berdampak pada begitu rendahnya juga kualitas output atau lulusannya. Semoga hasil kajian itu terbantahkan dan keluhan guru-guru itu keliru. Semoga!

Jika pun ada putra-putri Amor yang berkualitas, biasanya langsung disekolahkan atau diberi beasiswa untuk melanjutkan studi ke luar daerah, baik oleh Pemerintah Daerah, oleh bantuan dana 1% PT. Freeport melalui YPMAK (dulunya LPMAK), maupun oleh keluarganya. Sehingga banyak putra-putri Amor yang sudah merasa berhasil di luar daerah ini, tidak kembali lagi untuk membangun daerah asalnya. Kalaupun kembali, mereka lebih banyak memilih bekerja di perusahaan besar seperti PT. Freeport, Trakindo dan sebagainya daripada mengabdikan dirinya sebagai tenaga PNS di ranah Pemkab Mimika. 

Mungkin yang tersisa di daerah ini adalah yang kualitasnya di bawah rata-rata, mungkin!

Jika memang harus dipaksakan dengan beralasan pada undang-undang Otsus Papua, akan seperti apa perkembangan tanah Amungsa ini jika para pegawai PNSnya memiliki kualitas pendidikan yang begitu rendah? 

Ada pula yang berharap tenaga honorer anak Amor, atas alasan lamanya waktu bekerja, agar bisa langsung diangkat menjadi PNS. Padahal proses mengangkat seseorang menjadi tenaga honorer biasanya (mungkin juga, pada umumnya) tidak melalui proses seleksi seperti yang dilakukan pada seleksi CPNS, tapi melalui hubungan kerabat dan kedekatan sosial lainnya. Sehingga kita bisa menilai sendiri kualitasnya seperti apa? Tapi semoga bayangan saya ini, sekali lagi, keliru!

Melalui hasil CPNS kali ini, seharusnya menjadi evaluasi dan motivasi tersendiri bagi putra-putri daerah ini untuk lebih meningkatkan kualitas pendidikannya. Ubah pandangan orang yang mengatakan bahwa di tanah ini budaya pendidikannya cukup rendah dengan cara putra-putri Amor menempuh proses pendidikan secara lebih ketat dan berkualitas.

Tidak ada orang bodoh. Yang ada adalah orang yang malas belajar dan hanya mau mendapatkan Ijazah dengan cara-cara yang sangat memalukan, seperti halnya tidak pernah atau hanya beberapa kali datang kuliah di suatu Perguruan Tinggi, tiba-tiba sudah memperoleh gelar.

Saya sangat yakin, jika putra-putri daerah ini mau berkomitmen untuk mengubah budaya pendidikannya menjadi lebih baik, rajin ke sekolah, belajar dengan sungguh-sungguh, suka membaca buku, dan sebagainya, maka niscaya, di tanah Amungsa yang kita cintai ini akan ada begitu banyak SDM suku asli daerah ini yang akan menjadi tuan atas tanah yang diberkati ini. Salam (JIRU)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

1 komentar:

  1. Hanya di qqharian website judi online terpercaya yang berani memberi anda kemenangan dan terpercaya!!
    Daftarkan dirimu segera dan langsung bermain dan dapatkan macam bonus promo.
    Ingin membuktikannya ???
    Langsung gabung bersama kami, Di QQHarian

    BalasHapus