Miras Membunuh Generasi OAP, Kematian Lima Pemuda Jadi Teguran Keras Untuk Pemkab Mimika

Bagikan Bagikan
Den Ben Hagabal dan Anton Bukaleng. (Foto:
SAPA/Acik)

SAPA (TIMIKA) – Legislator asli suku Amungme mengutuk keras atas bebasnya peredaran minuman keras (Miras) dan menilai bahwa kehadiran miras seolah secara perlahan ingin membunuh generasi orang asli Papua (OAP).

Kematian lima pemuda di Mimika beberapa hari terakhir membuktikan bahwa Pemkab Mimika membiarkan miras tetap beredar di Mimika. Padahal di Papua telah ada pakta integritas oleh Gubernur dan beberapa Kepala Daerah termasuk Bupati Mimika, tapi hingga saat ini tidak direalisasikan dan miraspun tetap ada di Mimika.

“Kami sangat sayangkan adanya beberapa pemuda di Mimika yang meninggal karena miras. Ini membuktikan bahwa miras ini membunuh generasi OAP secara perlahan. Ini karena ada pembiaran dari Pemkab Mimika. Padahal pakta integritas sudah ada dan sejak lama tokoh agama, tokoh adat dan beberapa lembaga telah menolak keberadaan miras,” kata Anggota Komisi C DPRD Mimika, Den Ben Hagabal, Rabu (8/7/2020).

Menurut Den, beberapa waktu lalu Kapolres dan Wakil Bupati Mimika telah menyampaikan akan berupaya menutup tempat-tempat penjualan miras, tapi sampai saat ini tidak dilaksanakan, hingga beberapa pemudapun meninggal dunia.

“Kasihan anak-anak yang meninggal itu masih mudah dan berusia 22 tahun. Padahal masa depannya masih panjang. Makanya Pemkab harus punya hati,” tuturnya. 

Selain kematian lima pemuda itu merupakan bukti yang kesekian kalinya mengingat, sejak lama juga telah banyak perang dan kriminalitas lainnya di Mimika karena miras. Peperangan di Mimika selalu terjadi dengan korban meninggal dunia lebih dari lima hingga belasan korban. Kecelakaan lalu lintas terjadi hampir di setiap bulan dan sebagian besar terjadi karena mengonsumsi miras.

“Apakah pemerintah punya hati atau tidak, sehingga izinkan miras itu beredar bebas. Kalau dihitung-hitung jumlah orang yang meninggal karena miras itu sudah sangat banyak. Perang juga terjadi dengan korban jiwa yang banyak. Lalu kenapa Pemkab Mimika biarkan miras itu? Pemkab harus punya hati untuk menjaga generasi muda kita,” jelasnya.

Jika Pemkab beralasan bahwa miras memberikan kontribusi untuk PAD Mimika, maka itu sangat salah dan tidak bisa dijadikan alasan. Sebab, Mimika memiliki potensi lain yang bisa lebih banyak untuk menambah PAD. 

“Apakah kontribusi miras lebih berarti dan berharga dari sisi kemanusiaan dan masa depan anak-anak kita? Pemkab harus tegas dan memikirkan hal ini. Kalau dibiarkan maka OAP makin curiga bahwa miras dibiarkan untuk membunuh generasi OAP secara perlahan,” jelasnya. 

Diharapkan Pemkab Mimika segera bertindak untuk menutup tempat penjualan miras. Penjualan miras harus diatur secara khusus dan tidak dibiarkan di lorong-lorong dan bebas dijual kepada anak-anak.

“Kami sangat setuju dan mendukung statement Kapolres yang mau tutup beberapa tempat penjualan miras. Kalau begitu, berarti Kapolres peduli dengan masyarakat Mimika khususnya generasi muda,” ujarnya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Anton Bukaleng. Anton yang juga anggota Komisi C ini mengatakan, saat ini sangat banyak tempat penjualan miras yang ada di Mimika. 

Bebasnya masyarakat menjual miras menimbulkan tingginya persaingan, hingga akhirnya ada yang berani menjual miras yang oplosan.

“Yang oplosan itu yang murah dan dijangkau oleh anak-anak, tapi resikonya adalah menyebabkan kematian,” jelasnya.

Iapun setuju dengan yang disampaikan Den Hagabal bahwa miras membunuh generasi OAP. Hal ini terbukti dengan telah banyaknya orang Papua yang meninggal karena miras.

Karena itu DPRD sangat setuju jika Pemkab menutup tempat penjualan miras. Sebab, meski pajak miras tinggi dan menambah PAD, tetapi jauh lebih berarti lagi adalah masa depan generasi Mimika.

“Kematian itu milik semua orang, tapi kalau mati karena miras, maka pemerintah harus memikirkan. Kalau memang ada kesepakatan mau tutup, maka harus ditutup. Kalaupun pajak miras tinggi, tapi harus ditutup untuk kemanusiaan,” ujar Anton. (Acik)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar