Sinyal Keretakan Hubungan Bupati dan Wabup Pada Rolling Jabatan Kabupaten Mimika

Bagikan Bagikan

Amole… Nimaowitimi
Isu tentang rolling jabatan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Mimika bermula pada saat pelaksanaan Apel Gabungan ASN di lapangan kantor Puspem Kab Mimika pada 13 Januari 2020 yang lalu. Pastinya seluruh pejabat tersentak dan mulai was-was ketika itu. Namun Bupati Mimika saat itu mengaku bahwa dirinya tidak akan melakukan rolling jabatan tapi malah akan memberhentikan pejabat yang bekerja tidak becus.

Sepertinya Bupati Mimika, Eltinus Omaleng memiliki pertimbangan lain setelah satu bulan kemudian. Pada Apel pagi di lapangan kantor Puspem Kab Mimika, Senin (18/2/2020), Bupati seakan mengoreksi pernyataannya sebelumnya dengan mengatakan pada saat itu bahwa rolling jabatan akan dilakukan pada bulan Maret 2020 melalui tahapan lelang jabatan.

Hari berganti hari, bulan Maret 2020 pun sudah lewat, ternyata rolling jabatan itu belum juga dilakukan. Sampai akhirnya pada hari Jumat (17/7/2020) yang lalu, rolling jabatan itu pun secara resmi dilakukan bertempat di Rumah Dinas Bupati, Jalan SP3 Timika.

Walaupun pada pelaksanaan rolling jabatan itu tidak menuai aksi protes langsung dari ASN seperti yang pernah terjadi dalam pelantikan pejabat pada bulan Januari 2018 yang silam, namun hal ini melahirkan pertanyaan besar di tengah masyarakat.



Dalam pelaksanaan rolling jabatan itu terlihat tidak dihadiri oleh Wakil Bupati, Yohannes Rettob. Sungguh… masyarakat Mimika sangat terkejut ketika keesokan harinya diketahui bahwa ternyata Wakil Bupati tidak dilibatkan dalam proses penentuan rolling jabatan itu. Masyarakat semakin terkejut ketika mengetahui bahwa tahapan pelelangan jabatan oleh panitia penyelenggara ternyata masih tetap berlangsung, atau mungkinkah Bupati lupa? Mungkin!

Fakta ini mensinyalir adanya keretakan hubungan Bupati dan Wakil Bupati Mimika. Padahal, pasangan sejoli yang diagung-agungkan pada kampanye Pilkada yang lalu ini, baru 10 bulan memimpin daerah ini.

Memang penentuan rolling jabatan ini merupakan hak prerogatif Bupati sepenuhnya, tapi bukan berarti Wakil Bupati tidak memiliki andil sama sekali di dalamnya. Sebab logikanya, dalam Undang-Undang Pilkada, yang diajukan adalah Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati, bukan Individu Bupati saja. Itu berarti konsekuensi logis dari Undang-Undang Pilkada itu adalah Bupati dan Wakil Bupati merupakan satu kesatuan yang utuh. Bagaikan dua sisi koin yang tidak terpisahkan…

Mengingat pesan Gubernur Papua, Lukas Enembe, pada acara Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Mimika bulan September 2019 yang lalu, dimana Gubernur menyampaikan bahwa Bupati dan Wakil Bupati Mimika harus bersama-sama membangun keterpaduan, keintegrasian dan kebersamaan. Menurut saya, pesan ini merupakan emas berharga yang jauh lebih berharga daripada emas yang terkandung di tanah Amungsa ini.

Ingat, “ikan busuk mulai dari kepalanya”…

Artinya, jika pemimpin saja sudah kurang harmonis, bagaimana mungkin mengharapkan keharmonisan jajaran pejabat ASN di lingkaran pemerintahan dan masyarakat di Kabupaten Mimika ini.

Dalam fakta sejarah, pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang melepaskan harga dirinya dan melayani masyarakat. Atau orang biasanya menyebutnya sebagai “pemimpin yang melayani” (servant leader). Seperti misalnya, Yesus Kristus, Nabi Muhammad, Konfusius, Martin Luther King Jr., Mother Teresa, serta tokoh-tokoh agama dan tokoh-tokoh sosial lainnya (yang tidak mungkin didaftarkan satu per satu di tulisan ini).

Kita mengetahui bersama, Bupati Omaleng yang merupakan putra daerah ini dan menjadi tokoh panutan bagi masyarakat di tanah Amungsa yang kita cintai ini, masuk pada periode terakhir dalam mengabdi di Kabupaten Mimika ini. Masyarakat sangat berharap ada begitu banyak kesan baik dan positif yang ditinggalkan setelah tidak menjabat dalam keberhasilan membangun daerah ini,  sehingga hasil pengabdiannya itu dapat diingat oleh generasi-generasi penerusnya.

Sungguh harus diberi apresiasi dan dukungan yang penuh atas alasan mendasar yang diungkapkan Bupati Omaleng pada pelaksanaan rolling jabatan yang lalu, yakni “untuk meningkatkan kinerja penyelenggaraan tugas dan pelayanan publik terutama yang berkaitan dengan kegiatan prioritas pembangunan”. Masyarakat menunggu ini…
Bupati Omaleng perlu menunjukkan kepada masyarakat Mimika khususnya, bahwa anggapan ketidakharmonisan di dalam tubuh pemimpin daerah ini sama sekali tidak benar. Tunjukkan di hadapan publik Mimika, bahwa Bupati dan Wakil Bupati tetap solid dan saling bergandengan tangan. Bersama-sama harus memiliki visi dan misi yang sama, di mana rakyat selalu menjadi orientasi utama. Tingkatkan sumber daya manusia di daerah ini, salah satunya anak-anak Amungme Kamoro. Tunjukkan keberhasilan pembangunan yang dapat dilihat dan dirasakan langsung secara merata di tanah Amungsa yang diberkati Tuhan ini. Salam! (Jiru)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar