Merasa Ditipu Hingga Puluhan Juta oleh Kontraktor, Masyarakat Lapor ke Polres Mimika

Bagikan Bagikan
Masyarakat yang datang dan ikut mediasi di SPKT Polres Mimika. (Foto:SAPA/Kristin)

SAPA (TIMIKA) - Merasa ditipu hingga puluhan juta oleh PT. Dwi Jaya Karya yang menjanjikan pembangunan rumah tinggal, puluhan masyarakat datangi Polres untuk melaporkan Budi selaku pemilik kontraktor tersebut.

Masyarakat yang bermukim di Jalan Irigasi langsung menjemput Budi sebagai pemilik Kontraktor kemudian bersama - sama mendatangi Polres Mimika, Selasa (4/8/2020).

Di mana menurut masyarakat yang merasa dirugikan, pihaknya sudah menyerahkan uang sesuai dengan type rumah yang dijanjikan.

Adapun rumah yang mau di bangun tersebut adalah tanah milik warga yang mau membangun rumah, dengan lokasi ada yang di Irigasi yang ditengarai sekitar 24 unit rumah.

Ayub Wandikbo sebagai salah satu warga Irigasi yang merasa dirugikan menjelaskan awalnya pihaknya diberi penjelasan oleh kontraktor bahwa program pembangunan rumah tersebut dari kementerian PUPR.

Karena situasi masyarakat yang memang membutuhkan rumah, akhirnya menyetujui untuk bisa dibangunkan rumah.

Dalam kesepakatan tersebut kata Ayub, kontraktor dijembatani oleh Yanius seorang aparat kampung juga memberikan penjelasan bahwa ada paket perumahan jadi kalau masyarakat mau membangun bisa mendaftar.

"Kami daftar bulan Mei, lalu kami membayar karena menurut Budi sebagai kontraktor ini untuk administrasi awal mereka harus bayar sekian, sesuai dengan Type rumah," jelas Ayub.

Ia menjelaskan harga rumah sesuai type dimana type 9 X 8 diminta membayar 30 juta, kemudian ukuran 9 X 12 adalah 40 juta, dan ada pula Type 13 X 16 seharga 210 juta.

Adapun jumlah uang yang sudah disetor masyarakat juga bervariasi, ada yang sudah menyetor 10 juta, 30 juta, bahkan 80 juta, serta untuk rumah yang harga 210 juta sudah disetorkan setengah ke kontraktor.

"Dia minta administrasi jadi ada yang sudah bayar 10 juta, ada yang 20, 30 juta ada yang 50 ada yang 80 karena mereka mau ambil dua unit," kata Ayub.

Kemudian karena lahan yang akan dibangunkan rumah adalah lahan milik sendiri, kontraktor meminta agar masyarakat membersihkan lahannya.

"Sehingga dengan inisiatif sendiri masyarakat langsung ambil alat berat lalu mereka  mulai membersihkan sendiri," ujarnya.

Menurutnya, pihaknya juga belum mendapatkan penjelasan yang detil apakah pekerjaan tersebut betul PUPR atau dari kontraktor yang menamakan dirinya kontraktor PT. Dwi Jaya Karya.

"Jadi masyarakat mulai kumpul uang itu, setelah kumpul satu bulan kemudian baru diturunkan material sedikit-sedikit satu bulan baru pasir satu ret, batu satu ret, kemudian jalan bulan kedua karena kami telpon-telpon terus akhirnya mereka kirim tukang, tukang kasih naik pondasi," katanya.

Ia menjelaskan pembangunan juga belum merata karena sampai hari ini yang lainnya belum ada sama sekali, hanya sebatas meminta masyarakat gusur tanah, kemudian sebagiannya lagi baru fondasi lalu pasang slop dan belum lanjut.

"Makanya masyarakat hari ini emosi karena ini mereka telepon tidak direspon, mereka cuma butuh komunikasi, pembangunan sampai kapan, tetapi tidak ada komunikasi yang baik akhirnya masyarakat jemput kontraktor di rumah lalu bawa ke kantor polisi tadi dengan catatan harus ada penjelasan di depan Polisi," ujarnya.

Di samping itu anggota masyarakat lainnya dari irigasi yakni Lines Gwijangge menjelaskan pihak kontraktor mengatakan pembangunan di mulai dari tanggal 8 Juni. Pihaknya pun sudah menerima kontraktor tersebut dengan upacara bakar batu.

"Masyarakat percaya karena bahasanya, ini pembangunan dari PUPR makanya masyarakat punya impian untuk bangun rumah," katanya.

Lines melanjutkan, uang masyarakat ada yang bukan uang pribadi namun uang pinjaman hanya untuk mau membayar proses pembangunan rumah. Dokumen administrasi dan foto semua ada, hanya saja untuk kwitansi pembayaran ada yang diberikan oleh kontraktor, ada pula yang tidak diberikan.

Usai mediasi di kantor Polres Mimika, ungkap Lines, pihaknya sudah mengambil keputusan bahwa yang lain minta kembali uang, tetapi yang lain masih memiliki keinginan punya rumah, sehingga kontraktor berjanji akan siap membangun rumah masyarakat.

Untuk itu, Jumat (7/8/2020) mendatang akan ada lagi pertemuan antara masyarakat dengan pihak kontraktor untuk membuat surat pernyataan bahwa benar pembangunan akan dilakukan.

"Kita hanya tunggu dia punya janji saja bahwa rumah itu tetap akan dibangun," tuturnya.

Wakapolres Mimika, Kompol I Nyoman Punia, S. Sos membenarkan bahwa pihaknya mendapatkan laporan masyarakat.

"Kita sudah fasilitasi dan pertemukan mereka, kemudian alasan kontraktor adalah karena ada beberapa keterlambatan seperti materialnya, dan kontraktor bersedia membangun rumah itu, tidak ada niat dari kontraktor untuk melakukan penipuan," kata Wakapolres.

Pihak kepolisian pun mengarahkan mereka untuk melakukan pertemuan kedua pada hari Jumat di Kantor Pelayanan Polres Mimika.

"Sehingga masyarakat bisa percaya bahwa kontraktor siap membangun rumah yang sudah dijanjikan mengingat mereka sudah membayar uang muka," kata Wakapolres.

Wakapolres juga menjelaskan bahwa berdasarkan keterangan kontraktor di ruang SPKT bahwa pembangunan rumah itu adalah non subsidi bukan bantuan dari Kementerian PUPR.

"Kita tetap akan kawal ini," ujarnya.

Sementara itu, Budi selaku pemilik Kontraktor PT. Dwi Jaya Karya saat dimintai konfirmasi oleh awak media, dirinya enggan untuk berkomentar. (Kristin)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar