OAP Mau Jadi Tuan di Tanah Sendiri? Perkuat Pendidikan, Jauhi Cinta Uang!

Bagikan Bagikan


BELAKANGAN ini isu terkait Orang Asli Papua (OAP), khususnya 7 suku asli di Kabupaten Mimika, yang seakan mulai tergerus dan tidak terpakai di tanah sendiri mulai berkumandang lagi. Hal ini terungkap melalui adanya fakta tentang aksi protes karena hanya 27 orang Amungme Kamoro yang lulus seleksi CPNS Tahun 2018 di Kabupaten Mimika. Di samping itu, ada fakta lain juga yang diberitakan terkait aksi protes karyawan OAP, khususnya Putra-Putri 7 Suku Mimika, yang dipecat tanpa alasan yang jelas di PT Sandvik Timika.

Ungkapan OAP tidak bisa menjadi “tuan di tanah/rumah sendiri” pun kembali didengungkan begitu keras dalam aksi-aksi protes itu.

Anehnya, kenapa aksi protes dan ungkapan tersebut diteriakkan sangat keras dan mungkin akan kembali diteriakkan dengan begitu lantangnya ketika berhubungan dengan permasalahan OAP, khususnya 7 suku di Mimika, tidak mendapatkan pekerjaan di tanah ini?

Namun ketika ada permasalahan seperti rendahnya tingkat partisipasi sekolah OAP, kurangnya tenaga guru dan tenaga kesehatan khususnya di daerah-daerah pedalaman atau daerah terpencil di Kabupaten Mimika, kurangnya pengusaha OAP 7 suku asli Mimika, kenapa aksi protes dan ungkapan tersebut tidak diteriakkan sama kerasnya oleh OAP khususnya 7 suku asli di Mimika ini baik kepada pihak pemerintah, PT Freeport Indonesia, kepada lembaga-lembaga adat, dan bahkan kepada diri masing-masing dari OAP 7 suku asli Mimika itu sendiri?

Semoga aksi protes ini bukan lantaran alasan demi mencari kesenangan hidup yang hanya berpusat pada uang (materialisme). Semoga!

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa hidup itu membutuhkan uang. Tapi jika hidup hanya berfokus pada uang atau cinta akan uang dan melupakan kualitas, maka kita hanya akan menjadi pengemis yang selalu mengharapkan belas kasihan dari orang lain dan tidak memiliki semangat juang untuk meningkatkan potensi diri yang Tuhan telah titipkan, atau kita akan menjadi seperti Iblis yang hanya selalu menipu dan mencuri hak orang lain.

Bisakah OAP 7 suku di Mimika menjadi “tuan di tanah/rumah sendiri”? Jawabannya terletak pada diri OAP 7 suku di Mimika itu sendiri. Mulailah dengan komitmen dan tindakan nyata untuk pengembangan SDM. Baik orang tua maupun anak-anak OAP 7 suku di Mimika harus menanamkan kesadaran pentingnya pendidikan bagi masa depan diri maupun masa depan tanah ini.

Khususnya untuk orang tua OAP 7 suku di Mimika, harus membangun budaya pendidikan di rumah dan tidak hanya menaruh beban pendidikan itu sepenuhnya kepada guru di sekolah. Sebab, keberhasilan dan masa depan Putra-Putra OAP 7 suku di Mimika ini juga tergantung pada orang tuanya yang lebih banyak waktu memberdayakan budaya pendidikan di rumah. Stop jika ada kebiasaan di mana anak-anak OAP itu ketika di sekolah kewajibannya adalah belajar, tapi ketika di rumah kewajibannya adalah hanya bekerja membantu orang tua dan tidak diberi waktu untuk belajar.

Di samping itu, OAP jangan bangga atau bertahan pada zona nyaman palsu dari upaya-upaya penurunan level atau standar kompetensi dan kapasitas atas alasan ke-Papua-an dalam kepengurusan segala sesuatu, termasuk pelaksanaan tes kompetensi. Sebab, orang Papua sesungguhnya sama dan tidak kalah bersaing dengan orang non Papua, jika orang Papua mau sungguh-sungguh dan disiplin menempuh pendidikan secara normatif.

Di sisi lain, pemberian beasiswa kepada OAP 7 suku di Mimika oleh Pemkab Mimika dari APBD 4,3 Triliun dan oleh YPMAK (dulunya LPMAK) dari dana 1% yang diberikan PT. Freeport Indonesia, harus tepat sasaran, sesuai kebutuhan, dan perlu dibeberkan secara transparan kepada masyarakat, supaya terhindar dari kecurigaan “tidak ada dusta di antara kita”.

Pemkab Mimika dan YPMAK perlu mengevaluasi dan disampaikan kepada masyarakat terkait sejauh mana hasil yang diperoleh dari pemberian beasiswa kepada OAP yang dikuliahkan ke luar daerah Mimika, bahkan lebih banyak ke luar Papua. Kemana lulusan-lulusan OAP 7 suku di Mimika itu, khususnya suku Amor, hasil dari pemberian beasiswa oleh Pemkab Mimika atau oleh YPMAK, jika pada pelaksanaan seleksi CPNS yang lalu hanya lulus 27 orang?

Apakah yang diberi beasiswa itu lebih banyak mengambil jurusan di luar jurusan pendidikan dan kesehatan? Jika iya, kenapa beasiswa itu tetap diberikan kepada mereka yang mengambil jurusan selain pendidikan dan kesehatan? Bukankah alokasi dana pendidikan dari dana Otsus oleh Pemkab dan dana 1% dari PTFI oleh YPMAK difokuskan untuk pemberian beasiswa bagi yang mengambil jurusan pendidikan, kesehatan dan teknik? Jika memang diberikan beasiswa sesuai jurusan yang dimaksud di atas, lantas kemana lulusan-lulusannya? Pemkab Mimika dan YPMAK harus menjawab semua pertanyaan ini kepada masyarakat.

Pertanyaan lainnya, kenapa Pemkab Mimika dan YPMAK selalu menjadikan sasaran kampus-kampus di luar Mimika sebagai alamat pemberian beasiswa OAP 7 suku di Mimika untuk melanjutkan studinya?

Bukankah di Mimika sendiri sudah ada 5 (lima) kampus legal yang terdaftar di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi, yakni Politeknik Amamapare, Universitas Timika, STIE Jambatan Bulan, STKIP Hermon dan STKIP Terang Bangsa? Bukankah akan lebih efisien jika pemberian beasiswa itu sasarannya ke kampus-kampus di Mimika tersebut? Jika alasannya adalah nilai akreditasi, bukankah nilai akreditasi itu sangat besar dipengaruhi oleh jumlah mahasiswanya? Bagaimana mungkin nilai akreditasi kampus-kampus di Mimika akan meningkat jika Pemkab dan YPMAK tidak mendukungnya dengan mengutus mahasiswa dari daerah ini ke kampus-kampus tersebut melalui pemberian beasiswa? Kampus-kampus itu pun merasa bagaikan “orang asing di rumah sendiri”. Pemkab Mimika dan YPMAK juga harus menjawab ini.

Inti dari pembahasan ini adalah budaya pendidikan di keluarga OAP 7 suku asli Mimika perlu diperbaiki, serta program beasiswa oleh Pemkab Mimika dan YPMAK perlu dikaji ulang sesuai kebutuhan daerah ini, berfokus pada efisiensi anggaran, dan perlu selalu dilaporkan kepada masyarakat secara transparan. Semua pemangku kepentingan harus berkomitmen untuk terhindar dari godaan tindakan pencucian uang (money laundry) di ranah pendidikan demi kemurnian pembangunan SDM OAP 7 suku di Mimika agar mereka dapat menjadi “tuan di tanah/rumah mereka sendiri”.

OAP Mau Jadi Tuan di Tanah Sendiri? Perkuat Pendidikan, Jauhi Cinta Uang. Pahami betul kata "Perkuat" dan "Jauhi" difrase itu, bukan sebuah tuduhan tapi sebuah imbauan. Yang artinya, pemaknaan dan keputusan sikapnya kembali pada OAP itu sendiri. Tunjukan pada dunia bahwa Putra-Putri asli daerah ini berkualitas secara intelektual, moril dan spiritual, serta layak diperhitungkan dalam segala bidang kompetensi. Salam! (Jiru)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

2 komentar:

  1. Ini baru artikel yg berimbang dan cerdas. Introspeksi diri, jangan hanya menuntut dan menuntut. Perkuat SDM melalui pendidikan untuk memajukan daerah agar bisa bersaing dengan suku manapun di indonesia. Karena hakekatnya semua mempunyai kesempatan yg sama di dalam segala hal dan hanya yang terbaiklah yg akan keluar sebagai pemenangnya.. Salam NKRI

    BalasHapus
  2. Ayoo.. Kunjungi dan bergabung bersama Dupa88 titik co sarana slot Game online yang memberikan kenyamanan buat para maniac gamers.!! Bonus bonus yang menakjubkan selalu di persiapkan
    untuk teman teman yang ingin bergabung bersama kami, yuks.. jangan buang waktu segera buktikan kalau Dupa88 titik co paling best ya guys...Slot games

    BalasHapus