Kekerasan Seksual Bukan Hanya Niat Pelakunya, Tapi Juga Korban Memakai Pakaian Mininya

Bagikan Bagikan
(Foto:Ilustrasi)

SAPA (TIMIKA) – Kekerasan seksual terjadi bukan hanya karena niat pelakunya, tapi juga karena korban memakai pakaian mininya. Hal ini terungkap dalam pernyataan Kepada Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Mimika, Maria Rettob, yang mengatakan bahwa anak perempuan yang berpakaian mini menjadi salah satu faktor terbesar terjadinya kekerasan seksual, Kamis (24/9/2020).

Dinas P3AP2KB Kabupaten Mimika mencatat sebanyak 12 kasus kekerasan terhadap ibu dan anak yang terjadi dari bulan Januari hingga September 2020.

Maria menuturkan 12 kasus yang dilaporkan, kebanyakan merupakan kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur, dan diikuti oleh kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Dia mengatakan, beberapa faktor terjadinya kasus kekerasan seksual terhadap anak, selain faktor lingkungan yang membuat pergaulan anak begitu bebas, pengawasan orang tua yang kurang baik, juga karena kebiasaan anak dalam berpakaian.

“Cara berpakaian anak (perempuan, Red) yang sangat minim juga menjadi faktor terbesar terjadinya kekerasan seksual terhadap anak. Anak yang berpakaian minim itu bisa menarik perhatian orang lain untuk melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Untuk itu kami berharap para orang tua bijak dalam mengawasi anak ketika beraktivitas di luar rumah, dan ketika berada di luar rumah dengan tetap menggunakan pakaian yang tidak minim (sepantasnya, Red),” kata Maria.

Menurut dia, kekerasan seksual terhadap anak ini dilakukan oleh orang-orang terdekat. Dari beberapa kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur di Mimika, dilakukan oleh orang tua (ayah) kandung dan ayah tiri, serta biasanya orang tua ini dipengaruhi juga oleh minuman keras (Miras).

Untuk itu Pemerintah Kabupaten Mimika melalui dinas P3P2KB, ungkap dia, terus berupaya untuk memberikan pemahaman kepada anak dan juga orang tua melalui kegiatan-kegiatan sosialisasi.

Namun selama pandemic covid-19 ini, Maria mengaku, kasus kekerasan seksual dan KDRT menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Menurut catatan Dinas P3AP2KB kasus kekerasan seksual dan KDRT yang terjadi di tahun 2019 sebanyak 54 kasus.

“Mungkin karena adanya pandemi covid-19 ini, sehingga pengawasan orang tua terhadap anak lebih banyak, tidak seperti biasanya, sehingga kekerasan terhadap anak ini berkurang,” ujarnya. (Jefri Manehat)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar