Kris, Anak Yatim yang Lumpuh Otak Butuh Sentuhan Kasih Sesama dan Pemkab Mimika

Bagikan Bagikan
Kris, warga Kamoro Jaya yang alami lumpuh otak (Foto:SAPA/Acik)

SAPA (TIMIKA) – Kris Wandikbo yang merupakan anak yatim beralamat di RT 33 RW 09 Kelurahan Kamoro Jaya Distrik Wania butuh sentuhan kasih dari sesama warga termasuk Pemkab Mimika.

Meski telah berusia 13 tahun, tetapi dengan kondisinya yang lumpuh otak, hanya bisa merebahkan diri dan mengharapkan bantuan orang lain.

Pantauan Salam Papua sekira pukul 15.17 WIT, Kamis (17/9/2020) kondisi Kris sangat memprihatinkan. Di depan teras rumahnya, Kris ditinggal sendiri mengenakan baju kaos lusuh dan popok yang basah dengan kotorannya sendiri. Sembari merayap, ia berteriak tak jelas seolah meminta tolong kepada orang lain untuk memberinya seteguk air dan sesuap nasi. Tubuhnya gemetaran dan kaku, kedua tangannya menyentuh lumpur yang menggenang di halaman rumahnya yang tak terawat. 

“Mama air. Mama makan. Mau ikut mama saja. Mama limpahku sakit,” keluhnya saat dipeluk pendiri Yayasan Cinta Bela (YCB), Elisabeth Carolin Samiri yang sengaja datang menjenguknya.

Air matanya tiba-tiba menetes saat menatap Ibu Elisabeth seolah menaruh harapan kasih sayang. Saat didekap dan dibelai Ibu Elisabeth, air matanya kian berderai sesekali berkata “Mau ikut mama”.


Mau ikut mama ke Yayasan?
Yo mau ikut mama saja. 
Oke mama akan bawa kau ke Yayasan. Kita sama-sama di yayasan.
Percakapan di antara keduanya berlangsung. 
Kata mama, sakit, haus, lapar dan dingin jelas diucapkan bocah yang mengalami lumpuh otak sejak usia balita ini. 

“Saat lahir Kris dalam kondisi normal, tapi karena sering kena malaria makanya dia kejang-kejang dan menjadi lumpuh seperti ini,” ujar Elisabeth.

Sejak pagi Kris ditinggal sang Ibu, sehingga sejak pagi pula Kris tidak makan ataupun minum.

Dibesarkan oleh seorang ibu yang setiap harinya menjual sayur di pasar tentunya tidaklah cukup memenuhi kebutuhan Kris. 

Meski sesekali mendapatkan perhatian dari Yayasan Cinta Bela, akan tetapi hal itu tidak cukup. Sebab, selain kebutuhan makan, minum dan nutrisi, Kris butuh perawatan yang baik. 

“Saya kewalahan untuk merangkul anak-anak yang seperti Kris. Untuk bantuan makanan dan minum bisa saja kita dapat dari berkat Tuhan melalui orang-orang, tapi saya sulit temukan orang yang mau merawat mereka. Saya sangat kesulitan,” ungkap Ibu Elisabeth sembari mendekap Kris.

Menurut dia, Kris merupakan manusia yang mempunyai hak hidup dengan baik. Namun hingga saat ini badannya menjadi kurus bahkan mengalami gizi buruk lantaran tidak adanya perhatian serius dari siapapun termasuk Pemerintah, padahal seharusnya pemerintah itu ada untuk orang-orang yang seperti Kris.

Dijelaskan bahwa selama tujuh tahun Kris mendapatkan perhatian dari Yayasan Cinta Bela. Ketika ayahnya hidup, setiap hari Kris diperhatikan dengan baik, sehingga kondisinya sehat dan badannya berisi, akan tetapi setelah ayahnya meninggal dunia, Kris pun hidup bersama Ibu dan seorang adiknya. Namun, perhatian penuh tidak lagi didapati Kris lantaran Ibunya sebagai tulang punggung sering menghabiskan waktu di kebun dan ke pasar guna menjual hasil kebunnya. 

“Saya tidak khawatir saat dulu ayahnya hidup, karena Kris diperhatikan dengan baik, tapi sekarang kondisinya jadi seperti ini. Kris menjadi kurus dan sakit-sakitan. Jadi saya butuh bantuan untuk menyambung hidup Kris,” ujarnya.

Saat ini pihaknya terpikir untuk membedah rumah untuk Kris, tetapi apakah dengan bedah rumah bisa membantu Kris, karena saat ini Kris dalam kondisi sakit, lapar dan haus serta membutuhkan orang yang memandikan, mengganti popok dan baju, serta memberinya obat.

“Kris manusia. Dia butuh bantuan dari orang-orang yang punyai hati. Dia harus hidup sampai Tuhan berkenan memanggilnya, bukan dengan cara dibiarkan sakit, lapar dan haus,” katanya. 

Saat ini Kris telah dibawah ibu Elisabeth ke Rumah Singgah Yayasan Cinta Bela, SP3 guna mendapat perawatan. 

“Kris  sudah lama mau ikut saya ke Yayasan, tapi sayangnya saya tidak punya orang yang bisa bantu untuk merawat dia. Makanya saya merasa berdosa sekali sampai saat ini belum bisa temukan orang yang mau bantu Kris,” tutup Elisabeth. (Acik)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar