Membangun Optimisme Pemuda dalam Ruang Publik

Bagikan Bagikan

BAGI anak muda, kebebasan berekspresi adalah kunci untuk melahirkan wacana – wacana kritis maupun aksi atas gejolak sosial yang dihadapi secara langsung maupun tidak langsung. Berangkat dari pemahaman atas kebebasan berekspresi yang menjadi elemen penting dalam demokrasi, maka telah sepatutnya menjadi prioritas bagi seluruh elemen masyarakat agar dapat menaruh perhatian pada konteks ini, demi menunjang kesejahteraan masyarakat yang menyeluruh, tidak terkecuali anak muda itu sendiri. Artinya, perihal berpendapat tanpa adanya batasan dari siapapun, kemudian akan mendorong kontribusi anak muda pada lingkungannya dan membangun optimisme serta potensi diri. 

Hal tersebut juga telah termaktub pada pasal 19 Universal Declaration of Human Rights, memuat seseorang berhak untuk memperoleh hal dalam berpendapat dan juga mengekspresikannya. Selain itu, ditekankan perihal individu tersebut harus mampu berbagi pemahaman melalui cara atau format apapun, termasuk dengan beragam kelompok orang. Namun faktanya, fenomena sosial menunjukkan bahwa hambatan atas realisasi pasal tersebut adalah bukan terjadi pada konten, ide atau gagasan dari individu yang tidak berhasil dibentuk, melainkan karena tidak tersedianya wadah untuk merancang dan mendiskusikan gagasan – gagasan tersebut.

Salah satu wadah yang dapat membangkitkan ekspresi anak muda secara maksimal adalah ruang publik (public spaces). Berdasarkan konseptualisasi, ruang publik menurut para ahli adalah wadah yang dapat menampung aktivitas tertentu dari manusia, baik secara individu maupun berkelompok, serta merupakan tempat yang bagi siapapun berhak untuk menggunakannya tanpa merasa terasing karena kondisi secara ekonomi maupun sosial. 

Sederhananya, ruang publik merupakan kawasan atau ruang yang tidak memandang status sosial maupun memaksa untuk membayar retribusi jika menggunakannya. Dengan demikian, pada deskripsi tersebut, dapat disimpulkan bahwa ruang publik adalah wadah yang secara universal didedikasikan untuk kepentingan bersama dan menjadi pemenuhan hak – hak anak muda dalam mendapatkan informasi, pengalaman, pengetahuan dan partisipasi dalam menyampaikan aspirasi pribadi.

Jika melihat urgensi atas ruang publik bagi anak muda, maka perlu adanya tindak lanjut dalam sebuah rencana pembangunan daerah, tidak terkecuali bagi Kabupaten Mimika. Eksistensi ruang publik, tentu menjadi sarana dan prasarana kondusif maupun langkah konkrit dalam mencapai kematangan dari sebuah generasi. Telah dipahami juga bahwa secara khusus, ruang publik tidak hanya berfokus pada ruang terbuka hijau, melainkan juga tertutup. 

Berdasarkan pengamatan penulis, sejauh ini pemerintah Kabupaten Mimika belum memberikan perhatian khusus pada tersedianya fasilitas ruang publik, dengan spesifikasi pada ruang publik tertutup sebagai wadah dalam interaksi sosial yang menguatkan kapasitas diri anak muda. Padahal, jika ditelusuri, di Kota Timika sendiri, telah terbentuk beragam komunitas atau organisasi kepemudaan yang bergerak di berbagai bidang, baik di bidang seni, olahraga, budaya, sosial, dan sebagainya. Keberagaman komunitas ini perlu dilihat sebagai pilar – pilar yang akan menggerakan kemajuan daerah itu sendiri. Jikapun mereka bertemu dan bersosialisasi, pasti ada beberapa kendala yang menghambat efektivitas dari pertemuan yang dijalankan. Sebagai contoh, perlu membayar retribusi tempat, membayar minum dan makan jika dilaksanakan di tempat makan, tidak tersedia meja dan kursi maupun alat pendukung lainnya dalam berdiskusi maupun berekspresi.

Persoalan di atas mungkin terlihat sederhana dan tidak begitu genting untuk dipahami sebagai kendala dalam memaksimalkan potensi diri anak muda. Ya, tidak menjadi persoalan besar jika anggota – anggota adalah para pekerja, bagaimana jika yang bersangkutan adalah siswa maupun mahasiswa. Bukankah pengeluaran secara finansial atas kendala tersebut seharusnya bisa dimaksimalkan untuk kebutuhan pendidikan lainnya dan tidak menjadi beban tersendiri bagi mereka jika mengikuti pertemuan yang ‘berbayar’ tersebut dikarenakan tidak adanya fasilitas pendukung dalam menunjang pertemuan secara rutin. Padahal, tujuan dari eksistensi organisasi adalah untuk mendukung kemajuan tiap anggota dengan saling berkumpul dan menyampaikan aspirasi tanpa ada beban pribadi, serta dapat berbagi ilmu yang pada akhirnya akan mendorong mereka dalam berkarya dan menciptakan pengaruh positif di lingkungan sehari – hari.

Salah satu taktik yang dapat diimplementasikan terkait permasalahan di atas adalah pembangunan Youth Development Center. Esensi atas perwujudan tersebut yakni agar generasi muda dapat memaknai peran diri dan berkreasi demi menciptakan karya – karya nyata yang monumental dan tentu membawa perubahan bagi kemajuan daerah, baik ditinjau dari sisi sosial, ekonomi, dan budaya. Oleh karenanya, YDC dipercaya menjadi ruang publik tertutup atau bangunan yang dapat mewadahi anak muda dalam beraktivitas secara positif. 

Selain itu, adanya YDC di Kabupaten Mimika juga dapat mendorong terciptanya kegiatan – kegiatan seperti diskusi dalam pengerjaan proyek atau tugas, berkreasi dalam bidang seni dan olahraga, tempat untuk menggali informasi secara luas, serta tempat dalam mendidik dan mencerdaskan karakter melalui seminar – seminar yang diadakan pada waktu tertentu. Oleh karenanya dapat dipahami bahwa melalui hal ini juga, generasi muda dapat dipandang sebagai subjek yang mampu melahirkan inspirasi dalam mengatasi berbagai kondisi dan permasalahan yang sedang terjadi di lingkungan mereka sehari – hari.

Meninjau kembali peran ruang publik bagi anak muda, menjadi satu catatan penting bagi setiap elemen masyarakat, tidak terkecuali pemerintah dalam mengedepankan optimisme pada pembangunan sebuah daerah. Dengan adanya anak muda yang tergabung dalam organisasi, menjadi gambaran awal bahwasannya mereka telah dan akan memainkan peran yang lebih besar dalam mengawal jalannya reformasi maupun pembangunan itu sendiri. Perlu dipahami juga bahwa optimalisasi peran anak muda tersebut perlu didukung dengan fasilitas – fasilitas yang dapat mendorong mereka dalam menguatkan karaker, kecerdasan maupun potensi diri di masa mendatang. 

Sudah saatnya anak muda memimpin perubahan. Mereka memahami kondisi daerah dari sudut pandang yang beragam. Dan melalui ruang publik tertutup, mereka dapat melakukan atau menciptakan solusi dengan beragam bentuk interaksi yang pada akhirnya akan mengundang atau mengajak aktor – aktor penting dalam mengusung atau mendukung akselerasi perubahan.

Oleh: Harry Cahyono, S.I.P
(Mahasiswa Pascasarjana Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar