Meminta Isolasi Mandiri adalah Sikap Tidak Kooperatif dalam Mencegah Penyebaran Covid-19

Bagikan Bagikan
Reynold Rizal Ubra (Foto:SAPA/Acik)


SAPA (TIMIKA) – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) sekaligus Jubir Tim Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Penanganan covid-19 Mimika, Reynold Rizal Ubra mengaku bahwa salah satu kluster baru penyebaran covid-19 di Mimika adalah kluster perkantoran BUMN.

Dijelaskan, Presiden Joko Widodo pernah sampaikan bahwa kasus bermula secara import, kemudian menular di wilayah kantor hingga menyebar ke keluarga. Hal itu juga yang sedang terjadi di Mimika dan yang terdata telah ada sebanyak kurang lebih 20 kasus.

“Sekarang sudah terjadi beberapa kluster perkantoran. Salah satunya kantor BUMN dan merambat hingga kluster keluarga,” ungkapnya, Selasa (8/9/2020).

Yang disayangkan dengan kluster ini adalah tidak kooperatif dan mereka selalu meminta untuk isolasi mandiri. Isolasi mandiri ada dalam protokol kesehatan, tetapi jangan sampai lupa bahwa dalam tata laksana penanganan covid-19 dibagi menjadi dua bagian besar yaitu masalah kebijakan dan administrasi yang diurus Dinkes. Namun juga ada intervensi yang sifatnya medis, karena kondisi kesehatan seseorang tidak bisa dilihat dari tampilan luar.

“Seharusnya kalau mereka kooperatif maka ketika dinyatakan positif, seharusnya ada pertimbangan dari dokter untuk dirawat di RS atau diisolasi di shalter. Nah tidak kooperatif ini yang menjadi penghambat. Ketika isolasi mandiri, apakah mereka jamin menjalani isolasinya secara benar di rumah atau tidak?” katanya.

Angka reproduksi efektif di Timika ada pada dua wilayah yaitu Portsite dan kluster kantor sampai ke rumah.

“Klister-kluster ini sudah bertahan selama satu bulan ini. Saya tidak bisa sampaikan kluster kantor BUMN itu. Yang jelas ini sebagai salah satu ancaman baru bagi kita,” ujarnya.

Selama pra new normal, kluster keluarga bisa diputus selama satu bulan, tapi hingga memasuki bulan September, kluster kantor ke rumah itu masih terus terjadi.

Yang akan menolong situasi ini adalah melihat kembali angka rata-rata positif selama masa new normal ke empat ini berada di bawah 5%. Angka reproduksi efektif pun tetap bertahan di bawah 2%, kecuali pada Minggu lalu berada di atas 20% secara Kabupaten.

Untuk kluster perkantoran ini, pemerintah  bertanggungjawab dengan tetap melakukan layanan Swab secara gratis, contact teaching serta memberikan pengobatan.

“Kalau pemerintah sudah jalankan tanggungjawabnya maka selanjutnya setiap warga harus bertanggungjawab kepada keluarganya dan setiap warga harus menjaga sesama warga di sekitarnya,” jelasnya. (Acik)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar