Puluhan Anak Lumpuh Otak di Yayasan Cinta Bela Butuh Perhatian Pemkab Mimika

Bagikan Bagikan
Anak-anak Lumpuh Otak di YCB Timika (foto:SAPA/Acik)


SAPA (TIMIKA)  Puluhan anak lumpuh otak (cerebral palsy) di rumah singgah Yayasan Cinta Bela (YBC) di SP3 saat ini membutuhkan sentuhan dan bantuan dari Pemkab Mimika melalui dinas-dinas terkait, baik untuk kebutuhan kelanjutan hidup maupun fasilitas pendukung fisioterapi.

Hal ini disampaikan pendiri rumah singgah YCB, Elisabeth Carolina Samori. Menurut dia, saat ini telah ada tenaga fisiotrapi, akan tetapi masih membutuhkan fasilitas pendukung seperti tempat tidur dan air conditioner (AC) atau kipas angin termasuk kebutuhan sehari-hari bagi puluhan anak-anak berkebutuhan khusus tersebut.

“Sekarang sudah ada fisiotrapi kami yang datang dari Sumatera, tapi kami masih membutuhkan bantuan lagi seperti tempat tidur dan kipas angin. Selain kebutuhan makan dan minum, anak-anak itu juga butuh pampers, susu dan nutrisi lainnya supaya mereka tetap sehat,” ungkapnya di rumah singgah YCB, Selasa (15/9/2020).

Ibu Elisabeth Carolin Samori bersama Fisioterapi Mhd. Hery Bhuwana

Dijelaskan, YCB ini telah ada selama tujuh tahun lebih dan tetap menjalani perhatian terhadap anak-anak dengan kebutuhan khusus terutama yang cerebral palsy. Anak-anak yang diperhatikan sebanyak 80 lebih, akan tetapi saat ini hanya sebanyak 30 orang anak yang bisa dijangkau.

Karena itu, saat ini kami tetap membutuhkan bantuan dari Pemkab Mimika melalui dinas terkait untuk memperhatikan anak-anak yang mengalami kelumpuhan otak. Sebab, anak-anak inilah yang menjadi bagian perpanjangan tangan dari pemerintah. Dalam artian, sudah saatnya pemerintah memperhatikan anak-anak yang lumpuh otak ini, karena anak-anak ini juga mempunyai hak hidup yang sama dengan anak-anak normal.

“Sudah saatnya pemerintah harus memperhatikan anak-anak dengan kelumpuhan otak ini. Kita wajib memperjuangkan hak hidup mereka. Harapan kami supaya Bapak Bupati mau memperhatikan anak-anak Yayasan Cinta Bela, karena sudah tujuh tahun berada di Mimika dan menjadi bagian dari Mimika. Di antara mereka ada yang telah meninggal dunia dengan kondisi yang sangat memprihatinkan,” tuturnya.

Selama ini yang rutin setiap bulan melihat kebutuhan di yayasan hanya dari TNI AU, kemudian dibantu juga oleh donatur lainnya seperti dari komunitas-komunitas yang ada di Timika. Namun, dari pengurus yayasan juga selalu berupaya mencari tambahan keuangan dengan menjual kue-kue dan sayur-sayuran hidroponik.

Seharusnya tahun ini di tanggal 6 Oktober ada kampanye khusus cerebral palsy, karena itu adalah hari cerebral palsy sedunia, tetapi dengan keadaan atau situasi pandemi covid-19 maka semuanya tidak bisa dilaksanakan.

“Nantinya untuk merayakan hari cerebral palsy, kami hanya akan mengunjungi rumah anak-anak disabilitas atau cerebral palsy,” ujarnya.

Seorang Fisioterapi yang ada di situ, Mhd. Hery Bhuwana mengatakan bahwa fisioterapi yang diterapkan di YCB adalah totok syaraf.  Totok syaraf ini merupakan ilmu yang masih sangat langka, karena berbeda dengan fisioterapi yang lainnya.

Anak-anak yang mengalami lumpuh otak ini bila tidak ditangani secara fisioterapi maka akan tetap menjadi seperti boneka. Anak-anak dengan kelumpuhan otak harus diterapi minimal dua kali setiap hari agar syaraf mereka bisa berfungsi.

“Saya baru tiga minggu di YCB. Kemungkinan di Indonesia ini tinggal saya sendiri yang jalani totok syaraf. Kedatangan saya  di YCB lantaran berawal dari informasi yang ada di media sosial, sehingga merasa tertarik dan prihatin dan akhirnya memutuskan untuk datang ke Timika,” katanya.  

Selain itu, bagi masing-masing orang tua juga akan dilatih agar bisa melakukan trapi secara mandiri kepada anak-anaknya yang mengalami kelumpuhan otak.

Fisioterapi ini bukan hanya melayani anak-anak cinta bela saja, tetapi juga bisa melayani orang luar. Sebab Fisiotrapi bukan hanya untuk menangani anak-anak dengan gangguan otak, tapi juga untuk orang-orang yang dengan gangguan syaraf lainnya seperti stroke dan yang lainnya.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa untuk membantu jalannya fisioterapi, anak-anak ini juga membutuhkan bantuan untuk pemenuhan nutrisinya. Sebab, fisiotrapi saja tidak bisa dilakukan tanpa nutrisi mengingat fisioterapi itu dilakukan untuk memperlancar peredaran darah ke setiap syarafnya, karena itu peredaran darahnya membutuhkan nutrisi yang cukup.

“Makanya mereka masih membutuhkan bantuan dari masyarakat umum, khususnya Pemkab Mimika untuk menanggulangi nutrisi anak-anak ini. Kalau kita bebankan ke masing-masing orang tua maka sangat kasihan, karena ternyata rata-rata kehidupan orang tuanya juga tergolong di bawah standar,” jelasnya. (Acik)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar