Stunting di Mimika Masih Menjadi Masalah, Semua OPD Diminta Bekerjasama Menanganinya

Bagikan Bagikan
Foto Bersama Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob,S.Sos,MM dengan Para Pimpinan OPD di Mimika. (Foto:SAPA/Jefri Manehat)


SAPA (TIMIKA) - Dinas Kesehatan menggelar sosialisasi dan advokasi pencegahan stunting lintas OPD di lingkup Pemerintah Kabupaten Mimika dengan membentuk tim dan merumuskan perencanaan untuk menangani stunting.

Stunting atau gagal tumbuh pada usia anak di bawah lima tahun atau yang biasa dikenal kerdil, disebabkan oleh kekurangan gizi yang berkepanjangan, infeksi yang berulang-ulang dan simulasi psikologis terutama pada seribu hari pertama kehidupan yaitu semasa janin hingga anak berusia 2 tahun.

Secara Nasional, pada tahun 2019, 30 persen balita di Indonesia mengalami stunting. Kondisi ini disebabkan oleh banyak faktor, mulai dari pendidikan, kesehatan hingga ekonomi. Tercatat stunting di Kabupaten Mimika pada tahun 2019 sebanyak 5 persen, angka ini meningkat dibandingkan dengan stunting pada tahun 2018 yakni 4,72 persen.

Kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Ubra mengatakan, stunting tidak saja mengganggu kesehatan dan pertumbuhan anak, namun juga dapat membunuh karakter dan masa depan anak. Untuk itu pencegahan terhadap stunting memerlukan keterlibatan dari berbagai pihak.

“Stunting bukan saja kerdil tapi juga mempengaruhi kecerdasan dan kreativitas anak. Di Mimika angka stunting masih mengalami  peningkatan, dan sampai kapan kita di Mimika akan terus begini? Apalagi visi misi Bupati dan Wakil Bupati Mimika adalah mewujudkan Mimika yang cerdas, sehingga stunting harus dapat kita turunkan,” ujarnya.

Menurut Reynold, cerdas bukan saja bisa membaca, menulis, namun juga kesehatan. Masalah kesehatan bukan saja merupakan intervensi Dinas Kesehatan, tapi juga bidang-bidang lainnya dan butuh kerja sama antar lintas sektor. Ia berharap semua OPD dapat berperan aktif dalam penanganan stunting di Mimika.

Dia menambahkan, saat ini stunting masih menjadi penyakit klasik yang terabaikan dan menjadi masalah. Sesuai target pada tahun 2024 stunting harus teratasi.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob,S.Sos,MM yang membuka secara resmi kegiatan tersebut dalam sambutannya menyampaikan, pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional dalam rangka mewujudkan visi misi Presiden dan implementasi Nawacita yang kelima yaitu meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

Perlu adanya upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif secara terpadu, menyeluruh dan berkesinambungan. Salah satu program prioritas nasional yang dimasukkan dalam rencana kerja pemerintah daerah Mimika adalah program penurunan stunting.

“Stunting adalah kondisi gagal pertumbuhan tubuh dan otak pada anak yang diakibatkan karena kekurangan gizi dalam waktu yang lama sehingga anak rentan terhadap berbagai penyakit lebih pendek atau perawakan pendek dari anak normal seusianya, dan memiliki keterlambatan dalam berpikir. Oleh karena itu permasalahan stunting merupakan masalah yang kompleks tidak semata-mata menjadi tanggung jawab bidang kesehatan, melainkan tanggung jawab kita bersama dalam upaya pencegahan penanganan dan penurunan stunting di Kabupaten Mimika selaras dengan visi misi Kabupaten Mimika,” ujar Wabup Rettob.

Menurut Wabup, stunting bisa disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dari orang tua, fasilitas kesehatan yang kurang baik, dan gizi yang tidak mendukung.

“Saya berharap Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika terus melakukan penyuluhan kepada masyarakat mengenai pentingnya perbaikan gizi dan pemberian gizi mikro bagi balita di Kabupaten Mimika. Sehingga penurunan stunting di kabupaten Mimika dapat kita wujudkan untuk mengurangi beban pemerintah dalam mengatasi berbagai penyakit menular,” ujarnya. (Jefri Manehat)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar