Tokoh-Tokoh Penting Masyarakat 3 Kampung yang Dievakuasi di Timika Sepakat Minta Segera Pulangkan Mereka

Bagikan Bagikan
Saat pertemuan di Mile 32, para Kepala Kampung, Tokoh Agama, Pemuda dan Perempuan 3 kampung yang dievakuasi di Timika  (Foto:SAPA/Acik)

SAPA (TIMIKA) – Kapolda Papua, Bupati Mimika, Kapolres Mimika, Dandim 1710 Timika dan Manajemen PT Freeport Indonesia (PTFI) dimohon untuk memfasilitasi pemulangan seluruh warga Waa, Banti I, Banti II, Aroanop dan Opitawak yang bulan Maret lalu dievakuasi ke Mile 32 Timika.

Kepala Kampung dan tokoh-tokoh penting Banti mengaku bahwa lembah Waa, Banti, Aroanop dan Opitawak adalah surga kecil yang telah disediakan Tuhan untuk mereka tempati, sehingga tidak bisa ditinggalkan dengan alasan apapun.

“Kampung kami di Waa Banti itu adalah surga yang Tuhan ciptakan untuk kami. Jadi kami tidak bisa melepas begitu saja dan kamipun tidak bisa menjalani kehidupan di Timika. Kami minta kepada Bupati, Kapolres, Dandim dan manajemen PTFI untuk kembalikan kami semua ke kampung halaman,” kata Kepala Kampung Waa, Yohanis Jamang kepada Salam Papua di Mile 32, Selasa (15/9/2020).

Yohanis mengatakan bahwa sejak dievakuasi dari kampung pada 8 Maret lalu ke Mile 32, hingga saat ini dibutuhkan solusi dari Pemkab, TNI dan Polri agar mereka bisa dipulangkan ke kampung lantaran selama tujuh  bulan di Timika tidak bisa berbuat apa-apa, dan telah ada beberapa orang yang meninggal dunia.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Kepala Kampung Opitawak, Julianus Omabak dan Kepala Kampung Banti II, Deminus Natkime.

Julianus Omabak mengatakan bahwa apa yang disampaikan Yohanis Jamang adalah benar bahwa surga kami adalah di lembah Waa Banti, Aroanop dan Opitawak. Dengan demikian, kita harus kembali dan tidak bisa meninggalkan kampung kelahiran tersebut berlama-lama.

“Untuk hal ini kami minta respon dari Bupati dan PTFI agar masyarakat kami bisa kembali ke kampung asalnya yang merupakan surga,” kata Julianus.
Di samping itu, Deminus Natkime berharap agar Bupati, Kapolres dan Dandim harus berupaya mengembalikan seluruh masyarakat ke kampung Banti.

“Saya sangat setuju dengan apa yang disampaikan oleh bapak Julianus Omabak dan Johanis Jamang. Bagaimanapun masyarakat tiga kampung harus dikembalikan. Masyarakat kami tidak terbiasa hidup di Timika, karena memang tempat yang Tuhan sediakan untuk mereka adalah di lembah Waa Banti, Opitawak dan Aroanop,” ungkap Deminus.

Tokoh Pemuda Banti, Jhoni Magal menuturkan bahwa masyarakat tidak mengetahui apa sesungguhnya yang terjadi di Banti, tetapi semuanya hanya Tuhan yang tahu.


Dijelaskan, semua orang tahu bahwa Timika juga merupakan tempatnya orang Amungme. Demikian juga di Waa Banti, Opitawak dan Aroanop adalah tempatnya orang Amungme, tetapi masyarakat dari tiga kampung ini tidak cocok hidup di Timika lantaran suhu dan pola hidup yang jauh berbeda.

Dengan demikian, masyarakat banyak yang ingin untuk kembali ke surga mereka yaitu di Waa banti, Opitawak dan Aruanop.

“Tolong Bupati Mimika, Majemen PTFI, TNI dan Polri harus ingat hal ini. Masyarakat harus dipulangkan ke kampungnya. Hanya itu yang ingin kami sampaikan,” ujar Jhoni.

Selain itu, tokoh pemuda Waa, Jemy Natkime juga menyampaikan bahwa selama masyarakat dievakuasi ke Timika banyak kelompok, organisasi atau lembaga yang memanfaatkan masyarakat yang dievakuasi. Nama masyarakat yang dievakuasi dicatut untuk kepentingan pribadi, organisasi ataupun lembaga. Hal itu tidak perlu dilakukan lagi, karena saat ini masyarakat berkeinginan untuk dikembalikan ke kampung asalnya di Tembagapura.

“Jangan lagi ada yang mengatasnamakan masyarakat kita dari tiga kampung yang dievakuasi ini. Selama ini banyak sekali orang dan kelompok tertentu yang membawa nama masyarakat yang dievakuasi untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya,” kata Jemy.

Tokoh Agama, Pdt. Hengky Magal  mengaku bahwa pelayanannya mencakup seluruh masyarakat Waa Banti, Tsinga, Aroanop, Opitawak dan sekitarnya. Namun, dengan kondisi seperti ini pelayanan untuk mengajarkan kebaikan Tuhan menjadi terhenti. Padahal, Tuhan telah memanggil dan menempatkan dirinya untuk melayani masyarakat di Waa dan sekitarnya.

Surga bagi masyarakat adalah di lembah Waa Banti, sehingga semuanya harus dikembalikan agar bisa menyatu bersama alam yang telah Tuhan sediakan.

“Saya tidak tahu apakah pelayanan saya kepada masyarakat harus berhenti hingga Tuhan datang. Kehendak manusia itu boleh dipindahkan ke mana-mana, tapi kehendak Tuhan itu tidak boleh seperti itu. Masyarakat saya sudah meminta saya harus kembali ke kampung. Tidak apa-apa kalau memang saya mati dibunuh di kampung untuk pelayanan kepada masyarakat. Kesusahan dan kematian kerena penyakit dan dibunuh bukan hanya ada di Banti, tetapi ada di semua tempat,” ungkapnya.

Iapun mengatakan bahwa berbicara  dan mempublikasikan soal masyarakat yang dievakuasi harus bersumber dari orang-orang yang sesuai dan bukan oleh orang-orang yang hanya inginkan kepentingannya tercapai.

“Selama ini banyak yang bersuara lewat media soal masyarakat kami yang dievakuasi, tetapi upaya nyatanya tidak ada untuk masyarakat terkait dan hanya untuk kepentingannya sendiri,” katanya.

Sedangkan tokoh perempuan Waa Banti, Martina Natkime mengatakan, di antara sekian banyak warga yang dievakuasi terdapat banyak Janda, anak yatim piatu dan orang dengan keterbelakangan mental, buta dan bisu. Orang-orang seperti itu sangat menderita setelah dievakuasi ke Timika lantaran tidak tahu bagaimana harus menjalani kehidupan.

Kehidupan mereka seharusnya di surga mereka sendiri yang telah disediakan Tuhan yaitu di Banti. Mereka tidak bisa hidup di Timika dengan kondisi suhu yang panas dan harus hidup menumpang di sesama masyarakat yang sebetulnya dalam satu keluargapun telah dihuni oleh lebih dari satu Kepala Keluarga (KK). Mereka juga kesulitan mencari uang di Timika.

Menurut dia, yang paling miris adalah saat ini telah tercatat ada sebanyak delapan orang yang meninggal lantaran menderita sakit dan kesulitan menjalani hidup di Timika.

Karena itu, masyarakat sangat tidak ingin penderitaan dan kematian itu terus bertambah. Meski harus menderita dan meninggal dunia, yang terpenting itu terjadi di kampung kelahirannya di Waa Banti, Opitawak dan Aroanop.

“Mereka hidup susah dan terlantar di Timika. Adapun yang tinggal di kontrakan, tetapi kemudian pemilik kontrakan mengusir mereka, karena tidak bisa membayar. Ada yang meteran listriknya dicabut, airnya di kasih stop. Itu karena mereka tidak punyai uang untuk bayar kontrakan. Padahal kalau di kampung mereka bisa jalani hidup apadanya dari hasil kebun,” kata Martina.

Iapun mengharapkan agar selaku anak gunung, Bupati Mimika, Eltinus Omaleng harus mengetahui hal ini, harus mencari solusi untuk kepulangan warga ke kampungnya masing-masing.

Sedangkan Tokoh masyarakat Banti,  Anis Natkime mengaku bahwa persoalan ini harus disampaikan dan didengar oleh Kapolda Papua karena sehubungan dengan keamanan.

Menurut dia, Kapolda Papua adalah sosok seorang ayah yang dipercaya bisa mengabulkan keluh kesah yang disampaikan oleh para kepala kampung, tokoh agama, pemuda, perempuan dan seluruh masyarakatnya.

Dijelaskan, Kapolda sebagai orang cerdas, pastinya bisa mengatur dan berbicara bersama pilar penting di Mimika yaitu Bupati, Kapolres, Dandim 1710 Timika, Polsek dan Camat Tembagapura.

“Dalam hal ini kalau seorang anak minta telur, itu berarti tidak mungkin ayahnya akan memberikan racun. Yang disampaikan oleh para kepala kampung dan tokoh-tokoh ini adalah keluh kesa dari lubuk hati masyarakat. Jadi tolong dengarkan keluhan masyarakat ini. Berikan kesempatan kepada mereka agar mereka bisa kembali ke asal mula mereka,” jelasnya. (Acik)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

1 komentar:

  1. Ayoo.. Kunjungi dan bergabung bersama Dupa88 titik co sarana slot Game online yang memberikan kenyamanan buat para maniac gamers.!! Bonus bonus yang menakjubkan selalu di persiapkan
    untuk teman teman yang ingin bergabung bersama kami, yuks.. jangan buang waktu segera buktikan kalau Dupa88 titik co paling best ya guys...Slot games

    BalasHapus