Pemkab Mimika, Freeport dan YPMAK Bahas Dana Kemitraan 1 Persen, yang Mencapai 800 Miliar Per-Tahun

Bagikan Bagikan

Bupati Mimika, Eltinus Omaleng,SE,MH (Kiri), Direktur PTFI, Claus Oscar R. Wamafma (Tengah), Direktur YPMAK, Vebian Magal (Kanan)
SAPA (TIMIKA) - Pemerintah Kabupaten Mimika duduk bersama PT. Freeport Indonesia (PTFI) dan Yayasan Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) membahas dana kemitraan sebesar 1 persen  yang diperuntukkan bagi masyarakat Amungme dan Kamoro yang dikelola oleh YPMAK.

Pertemuan yang digelar di salah satu hotel di Timika pada Rabu (7/10/2020) dipimpin langsung Bupati Mimika, Eltinus Omaleng,SE,MH.

Kepada wartawan Bupati Omaleng berharap program yang nanti dicetuskan YPMAK terhadap masyarakat Amungme dan Kamoro melalui dana kemitraan itu harus jelas dan tepat sasaran, serta program yang nantinya dijalankan harus mendukung program pemerintah.

Omaleng yang ditanya seusai pertemuan itu menegaskan, dana 1 persen yang diperuntukkan bagi masyarakat dua suku besar di Mimika itu bukan dari CSR PTFI.

"Dana satu persen sumbernya tersediri, dan dana satu persen tidak ada kaitannya dengan saham 7 persen yang diperuntukkan bagi pemerintah Kabupaten Mimika," tegas Omaleng.

Sementara itu Direktur PTFI, Claus Oscar Ronald Wamafma mengungkapkan dana kemitraan 1 persen akan terus berjalan hingga izin operasi tambang selesai, yang mana akan berakhir pada tahun 2041.

"Harapan kita, dana kemitraan  yang dikelola oleh YPMAK bisa menciptakan program ini lebih baik, yang nantinya bisa sampai pada masyarakat, dan kita ingin masyarakat yang selama ini tidak pernah merasakan, bisa ikut merasakan manfaatnya," tutur Claus.

PTFI tentunya menginginkan program-program ini dilakukan secara transparan, dengan memberikan laporan pertanggungjawaban melalui rencana kerja belanja (RKB) kepada pemerintah setiap tahun. Disampaikan pemerintah sendiri selalu melakukan evaluasi terhadap hal tersebut setiap 4 bulan sekali, jadi tidak ada ruang untuk melakukan di luar daripada itu.

Pria kelahiran 1973 itu menjelaskan, Dana 1 persen diambil dari hasil penjualan, dan hasil menjual sebelum dikurangi pajak langsung dikalikan satu persen untuk mendapatkan dana kemitraan tersebut. Dana kemitraan yang digelontorkan setiap tahun mencapai Rp 800 Miliar.

"Besar kecilnya dana satu persen tergantung hasil penjualan yakni volume produksi dan harga tambang, dan ketika volume produksi naik dan harga tambang meningkat tentunya dana kemitraan akan besar, namun ketika volume produksi menurun dan harga tambang menurun juga akan berdampak pada dana kemitraan," terangnya.

Claus yang ditanya wartawan itu menambahkan, di luar dana kemitraan, PTFI punya banyak kegiatan lainnya untuk membiayai kegiatan sosial dan itu di luar dari dana satu persen dan dalam 20 tahun terakhir mencapai  100 juta dollar atau setara dengan 1,4 Triliun Rupiah.

Di samping itu Direktur YPMAK, Vebian Magal menuturkan, program yang dikelola oleh YPMAK yang bersumber dari dana kemitraan tentunya sesuai pelayanan dasar (Pendidikan, Kesehatan dan Ekonomi).

"Pada tahun ini (2020) kita masih dalam tahap transisi jadi kita masih dalam proses menyiapkan  perangkat kerja Yayasan sehingga program ekonomi belum berjalan, sedangkan pendidikan dan kesehatan sudah berjalan," kata Vebian.

Dikatakan, program layanan dasar akan dikolaborasikan dengan program pemerintah, namun harus melalui MoU terlebih dahulu. Ke depan tentunya YPMAK akan memperhatikan segala perencanaan, sehingga semua bisa berjalan baik dan menyentuh masyarakat. (Jefri Manehat)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar