Tajuk: Menanti Kejujuran Harapkan Kepastian Kemajuan SDM Amor di MIMIKA (2-Selesai)

Bagikan Bagikan

KABUPATEN Mimika masih memiliki persoalan-persoalan besar yang belum terselesaikan hingga saat ini sebagai refleksi HUT Mimika ke-24. Paling tidak, ada 2 persoalan utama. Menanti kejujuran, harapkan kepastian.

Kedua, sudah sejauhmana peningkatan SDM Amungme-Kamoro sebagai salah satu cita-cita berdirinya Kabupaten Mimika?

Mengutip pernyataan salah satu founding father Kabupaten ini, Athanasius Allo Rafra,SH,M.Si dalam berita Salam Papua edisi 16 Agustus 2020 dan edisi hari ini, Minggu (11/10/2020), yang menyatakan bahwa tujuan berdirinya Kabupaten Mimika adalah memajukan orang Amungme-Kamoro. Sudahkah tercapai cita-cita ini pada saat Mimika memasuki usianya yang ke-24?

Masa lalu, semanis atau sepahit apapun rasanya, itu tetap Sejarah…

Sejarah adalah edukasi, koreksi dan afirmasi bagi sebuah masa depan cerah…

Berkaca dari beberapa isu yang sempat mengumandang di daerah ini, khususnya terkait nasib SDM Amungme-Kamoro yang seakan menjadi “tamu di rumah sendiri”. Tamu memang adalah raja, namun seperti apapun spesialnya raja itu, dia tetap bukan sang pemilik rumah itu.

Anak-anak Amungme-Kamoro sering berteriak dan memprotes keberadaan mereka karena merasa kurang terpakai di tanah Amungsa bumi Kamoro ini. Fakta yang pernah ada bahwa mereka mengaku banyak yang tidak menempati posisi-posisi penting dan bahkan ada yang di-PHK secara tidak prosedural di beberapa perusahaan “asuhan” PT Freeport Indonesia. Mereka juga mengatakan tidak terakomodir secara maksimal pada penerimaan PNS di daerah ini. Ada pula yang mengungkap bahwa pengusaha-pengusaha dari kalangan mereka tidak memperoleh proyek-proyek di daerah ini dengan anggaran yang sesuai berdasarkan hak mereka atas dana Otsus yang termaktub dalam UU Otsus Papua. Di sisi lain, para cendekiawan mereka akhirnya lebih memilih berkarya di luar karena merasa tidak dipergunakan secara maksimal sesuai kompetensinya di atas tanah mereka ini.

Terlepas dari berbagai argumentasi politis yang diungkap di publik, tokoh-tokoh kunci pemegang kebijakan di daerah ini perlu mendengar berbagai teriakan orang-orang Amungme-Kamoro di atas. Jadilah orang tua yang baik bagi mereka, yang selalu memikirkan masa depan cerah mereka di tanah ini. Bukan saja dipikirkan, tapi juga perlu disertai dengan tindakan-tindakan nyata. Hargai dan fungsikanlah mereka sesuai kemampuannya “di rumahnya sendiri”. Jika ada di antara mereka masih memiliki kelemahan secara intelektual dan kompetensi, berikan solusi melalui budaya pendidikan yang ketat dengan menjunjung tinggi pada proses pembelajaran yang ditetapkan dalam dunia pendidikan. 

Hindari menggolontorkan anggaran yang besar tapi tanpa sasaran yang jelas dan/atau mengatasnamakan “identitas” mereka melalui program-program yang memakan biaya yang fantastis tapi sesungguhnya terselubung niat jahat karena demi mendapatkan keuntungan yang fantastis juga untuk pribadi atau kelompok tertentu. Keberhasilan mengayomi SDM Amungme-Kamoro (dan 5 suku kekerabatan) adalah salah satu faktor penting keberhasilan Kabupaten Mimika.

Bersamaan dengan itu, orang-orang Amungme-Kamoro (dan 5 suku kekerabatan) harus memiliki atau mempertahankan komitmen dan semangat juang yang tinggi untuk mengikuti proses pendidikan secara disiplin dalam meningkatkan potensi diri agar dapat dihargai dan dipakai di tanah ini. Hindari budaya “selalu menanti pemberian dari orang lain” bagaikan bayi yang hanya menanti orang tuanya memberi makan dan minum. 

Di samping itu, orang-orang Amungme-Kamoro yang telah mendapat kepercayaan menduduki kursi penting di daerah ini, diharapkan tetap memiliki hati dan komitmen untuk berorientasi pada kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Amungme-Kamoro. Hindari habitat kenyamanan di kursi yang menghasilkan banyak keberuntungan tersebut namun akhirnya melupakan masa depan dan kesejahteraan saudara-saudarinya yang saat ini sedang menghadapi realita “hidup segan, mati tak mau” di tanahnya sendiri. 

Harus diberi apresiasi yang sangat tinggi bagi orang-orang Amungme-Kamoro yang berjuang dengan semangat yang mungkin sampai berwujud “rawe-rawe rantas, malang-malang putung” sehingga akhirnya memperoleh dana fantastis dari PT Freeport Indonesia itu, namun perjuangan dan hasilnya tersebut perlu dibuktikan secara konkrit dan transparan untuk “jembatan emas” masyarakat asli di tanah Amungsa bumi Kamoro ini. 

Setiap anggota masyarakat asli di daerah ini pun perlu tetap mempertahankan komitmen dalam mengembangkan dana yang telah diperoleh untuk proses mencapai kesejahteraan hidup dan menjadi tuan di atas tanahnya sendiri sembari menjauhi budaya pragmatisme dan materialisme yang berwujud “dapat sehari, habis sehari”.

Akhirulkalam, lebih baik diakui daripada dimaklumi. Sebab, “diakui” lebih kepada makna orang memberi apresiasi atas berbagai potensi diri yang dimiliki dan mampu diimplementasikan dengan baik kepada orang banyak. Sedangkan “dimaklumi” cenderung bermakna bahwa orang menerima apa adanya sesuai situasi dan kondisi tanpa memperhintungkan potensi diri.

Amolongo, Nimao witimi… Salam! (Jiru)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

1 komentar:

  1. Ayoo.. Kunjungi dan bergabung bersama Dupa88 titik org sarana slot Game online yang memberikan kenyamanan buat para maniac gamers.!! Bonus bonus yang menakjubkan selalu di persiapkan
    untuk teman teman yang ingin bergabung bersama kami, yuks.. jangan buang waktu segera buktikan kalau Dupa88 titik org paling best ya guys...Slot games

    BalasHapus