Timika Mengalami Deflasi Tertinggi di Indonesia Pada Bulan September 2020

Bagikan Bagikan
(Foto:Ilustrasi)


SAPA (TIMIKA) - Pada Bulan September 2020 Timika tercatat mengalami Deflasi -0,83 persen atau terjadi pengurangan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 107,39 pada Agustus 2020 menjadi 106,50 pada September 2020. Dan itu merupakan deflasi tertinggi di Indonesia.

Hal ini dikatakan Kepala BPS Kabupaten Mimika, Ir Trisno L Tamanampo kepada Salam Papua, Kamis (1/10/2020).

Ia menjelaskan Deflasi di Timika sebesar -0,83 persen terjadi karena adanya penambahan harga yang ditunjukkan oleh pengurangan pada indeks harga konsumen Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau dan Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar Rumah Tangga.

"Inflasi tahun Kalender (September 2020 terhadap Desember 2019) Timika pada September 2020 sebesar 3,48 persen dan inflasi year on year (September 2020 terhadap September 2019) sebesar 3,54 persen," katanya.

Dirincikan, Deflasi Timika September 2020 sebesar -0,83 persen terjadi karena adanya pengurangan harga yang ditunjukkan dengan perubahan indeks pada Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau yang mengalami deflasi sebesar -1,87 persen dengan andil sebesar -0,85 persen, Kelompok Perumahan, Air, Listrik dan Bahan Bakar Rumah Tangga mengalami Deflasi sebesar -0,14 persen dengan andil -0,02 persen, Kelompok Perlengkapan, Peralatan dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga mengalami inflasi sebesar 0,09 persen dengan andil 0,00 persen, Kelompok Kesehatan mengalami inflasi sebesar 0,02 persen dengan andil 0,00 persen, Kelompok Informasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan mengalami inflasi sebesar 0,03 persen dengan andil 0,00 persen, Kelompok Rekreasi, Olahraga dan Budaya mengalami inflasi sebesar 0,15 persen dengan andil 0,00 persen, Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya yang mengalami inflasi sebesar 0,63 persen dengan mempunyai andil sebesar 0,03 persen.

Sementara itu, besaran andil subkelompok pendorong inflasi yaitu pada subkelompok perawatan pribadi lainnya sebesar 0,02 persen, subkelompok barang dan layanan untuk pemeliharaan rumah tangga rutin sebesar 0,01 persen; subkelompok perawatan pribadi sebesar 0,01 persen, subkelompok pemeliharaan, perbaikan, dan keamanan tempat tinggal/perumahan sebesar 0,01 persen.

Sedangkan besaran andil subkelompok penahan inflasi yaitu  subkelompok makanan sebesar -0,85 persen; subkelompok listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar -0,02 persen dan furnitur, perlengkapan dan karpet sebesar -0,01 persen.

"Faktor pendorong terjadinya Inflasi di Timika dilihat dari andil komoditas antara lain  bawang putih, bunga papaya, pisang, jeruk,  jagung manis, emas perhiasan dan apel," jelasnya.

Adapun komoditas yang membuat penahan terjadi inflasi antara lain yakni kangkung, sawi hijau, cabai rawit, bayam, cabai merah, kacang panjang, daging ayam ras.

Trisno menjelaskan untuk perbandingan antar kota pada September 2020, Timika mengalami Deflasi sebesar -0,83 persen, Merauke mengalami Inflasi sebesar 0,21 persen dan Kota Jayapura mengalami Deflasi sebesar -0,09 persen.

Timika menempati urutan ke-90 di tingkat nasional dan ke-21 di tingkat Sulampua, Merauke menempati urutan ke-10 di tingkat nasional dan ke-3 di tingkat Sulampua, sedangkan Kota Jayapura menempati urutan ke-57 di tingkat nasional dan ke-9 di tingkat Sulampua.

Jika dilihat dari komposisi di Sulampua dari 21 kota Inflasi terdapat 7 Kota terjadi Inflasi dan 14 Kota
terjadi Deflasi.

Dengan kriteria Inflasi tertinggi di Sulampua terjadi di Kendari sebesar 0,26 persen dan Inflasi terendah terjadi di Makassar sebesar 0,05 persen.

"Adapun Deflasi tertinggi terjadi di Timika sebesar -0,83 persen dan Deflasi terendah terjadi di Gorontalo sebesar -0,06 persen," ujarnya.

Dan dilihat dari komposisi di tingkat Nasional dari 90 Kota inflasi terdapat 34 Kota terjadi Inflasi dan 56 Kota terjadi Deflasi.

Dengan kriteria di tingkat Nasional inflasi tertinggi terjadi di Gunungsitoli sebesar 1,00 persen dan inflasi terendah terjadi di Pontianak sebesar 0,01 persen. Adapun Deflasi tertinggi terjadi di Timika sebesar -0,83 persen dan Deflasi terendah terjadi di Bukittinggi sebesar -0,01 persen.

Untuk diketahui, deflasi adalah suatu periode yang mana harga-harga secara umum jatuh dan nilai uang bertambah. (Kristin)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar