Yohanes Napan: Kami Tidak Tahu Dana Sentra Pendidikan Mimika yang Diduga Merugikan Negara

Bagikan Bagikan
Yohanes Napan (Foto:SAPA/Acik)


SAPA (TIMIKA) – Kepala Sekolah SMAN 5 Sentra Pendidikan Timika, Yohanes Napan mengaku, tidak mengetahui besaran dan tidak melihat wujud dana pengelolaan sentra pendidikan termasuk dana khusus makan dan minum yang saat ini diperiksa Polda Papua lantaran diduga ada penggelapan anggaran yang merugikan Negara tersebut.

Ditemui di Sentra Pendidikan, Yohanes mengaku bahwa untuk persoalan dugaan penggelapan anggaran tersebut, ia bersama seluruh guru telah dipanggil berulang-ulang kali oleh Penyidik Kepolisian termasuk Inspektorat. Namun, pernyataan kami  tetap sama yaitu tidak mengetahui adanya anggaran tersebut.

“Kami selama ini sudah dipanggil berulang-ulang dan kamipun menghadap, tapi  jawaban kami tetap sama bahwa kami tidak tahu adanya anggaran-anggaran yang dimaksud. Yang saya tahu adalah jumlah anak-anak asrama yang harus mendapatkan makan dan minum. Contohnya untuk makan siang, saya melaporkan bahwa ada 150 orang anak yang harus dapat makan, tetapi saya juga minta lebih dari 150 kotak lantaran porsi makan setiap anak berbeda, dalam artian ada yang hanya satu kotak, tapi juga ada yang dua kotak untuk satu anak,” ungkaonya, Jumat (2/10/2020).

Dijelaskan, tentunya ia ikut terkait dalam persoalan yang saat ini bergulir mengingat selain sebagai Kepala Sekolah, juga sebagai Kepala Asrama. Dengan demikian, tanggungjawabnya adalah memastikan jumlah anak yang harus makan siang dan selanjutnya dilaporkan ke Dinas.

“Tapi siapa yang bersalah dalam masalah ini, saya dan kami semua tidak tahu. Kami hanya dipanggil untuk mengetahui setiap siswa itu makanya berapa banyak. Jumlah siswa yang tinggal di asrama dan tinggal di luar asrama berapa. Yang saya tahu anggaran yang diperiksa adalah anggaran tahun 2019. Saya tidak tahu anggaran itu, apalagi melihatnya. Kalau soal dana BOS yang jelas kami tahu dan itu langsung dari Provinsi,” katanya menegaskan berulang-ulang.

Selanjutnya terkait adanya kontrak bersama catering di bulan Oktober tahun 2019 itu hanya diketahui setelah membaca koran. Menjadi kepala asrama juga ia melalui penunjukan langsung tanpa SK khusus.

“Semua guru sudah diperiksa. Bahkan saya baru kemarin menghadap penyidik untuk BAP, tapi jawab saya tetap sama, karena memang tidak tahu,” ujarnya. (Acik)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar