Ditinggal Petugas, Tiga Bulan Tidak Ada Layanan Kesehatan di Naiaro Mimika

Bagikan Bagikan
Dr. Leonardus Tumuka (Foto:SAPA/Acik)

SAPA (TIMIKA) - Masyarakat kampung Naiaro Distrik Mimika Baru keluhkan bahwa selama kurang lebih tiga bulan tidak mendapatkan layanan kesehatan lantaran tidak adanya petugas pelayan kesehatan.

Tokoh pemuda Kamoro, Dr. Leonardus Tumuka mengaku telah berkomunikasi dengan masyarakat Naiaro bahwa tenaga kesehatan tinggalkan tugas lantaran sebelumnya ada konflik bersama oknum warga setempat. Dimana, seorang oknum di Naiaro dalam keadaan mabuk minuman keras atau sejenisnya lalu mengganggu petugas kesehatan. Namun, masalah itupun telah diselesaikan setelah  petugas kesehatan yang merasa terganggu melaporkannya kepada aparat keamanan yang ada.

"Setelah kejadian itu, petugas kesehatan menarikan diri dari kampung Naiaro. Sampai saat ini belum ada layanan kesehatan dan kami juga sudah sampaikan ke instansi terkait agar ada koordinasi bersama agar ada dukungan dari kepala kampung yang ada di sana," ungkap Leonardus sekira pukul 29.22 WIT di Cendrawasih 66 Hotel dan Resto, Kamis (12/11/2020).

Yang dikhawatirkan adalah ketika tidak ada pelayanan kesehatan maka menjadi kewalahan bagi masyarakat setempat ketika adanya situasi darurat yang membutuhkan pertolongan seperti Ibu melahirkan dan adanya pasien yang harus dirujuk.

"Sebetulnya tidak terlalu jauh, dari Naiaro ke Timika, tetapi medannya yang menyulitkan masyarakat di saat adanya situasi darurat khususnya dengan persoalan kesehatan. Ditambah lagi dengan petugas kesehatannya tidak ada di sana. Sangat disayangkan kalau sampai ada pasien di sana yang tidak bisa terselamatkan," katanya.

Dengan demikian, diharapkan agar tenaga kesehatan bisa kembali bertugas agar proses layanan kesehatan bisa berjalan. Di sisi lain, ada persepsi dari petugas kesehatan yang bertugas bahwa seluruh masyarakat Naiaro harus meminta maaf atas kejadian tersebut, akan tetapi kejadian tersebut adalah ulah oknum dan bukan kemauan seluruh masyarakat Naiaro, selanjutnya telah diselesaikan, sehingga tidak perlu dipersoalkan lagi.

"Memang kejadian seperti itu sangat tidak diinginkan oleh siapapun. Sebab tenaga kesehatan itu harus memperoleh perhatian dan dukungan yang baik dari masyarakat supaya mereka bisa semangat melakukan pelayanan," jelasnya.

Sisi lain masyarakat Naiaro adalah masyarakat awam yang pemahamannya terbatas, sehingga perlu adanya pengertian, sabar dan mempunyai hati yang legowo dalam mengkomunikasikan setiap persoalan dengan aparat ataupun kepala kampung yang bisa menyambung tali silaturahmi agar miskomunikasi yang hilang bisa tersambung kembali dan layanan kesehatan pun bisa berjalan lagi.

Sangat diharapkan, Dinkes Mimika bisa mengurus kembali petugasnya tanpa terus menerus menyalahkan masyarakat. Petugas kesehatan dan masyarakat harusnya saling mengintrospeksi diri guna menemukan benang merahnya dan diselesaikan secara damai.

Menurut dia, layanan kesehatan selalu dibutuhkan masyarakat, sehingga ketika ditinggalkan petugas kesehatan maka secara pasti tidak lagi mendapatkan layanan ataupun obat. Contohnya, ketika ada warga yang punya TBC, kemudian dalam kondisi pandemi covid-19, terpaksa didatangkan ke Timika, sehingga sangat mudah terpapar covid-19.

"Bagaimanapun menyelamatkan hidup manusia itu lebih penting daripada pertahankan ego atas konflik yang pernah terjadi," ungkapnya. (Acik)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar