Proyek Taman Trotoar Senilai Rp 2 Miliar Dihentikan, Bappeda Mimika Dinilai Tidak Profesional

Bagikan Bagikan

Pembangunan taman trotoar yang telah dihentikan (Foto:SAPA/Acik)

SAPA (TIMIKA) – Atas perintah Bupati Mimika, Eltinus Omaleng, SE.,MH proyek pembangunan taman trotoar jalan cendrawasih dihentikan lantaran melakukan pembongkaran trotoar yang telah rapi, sehingga hanya merusak keindahan kota Timika.

Proyek dimaksud merupakan program Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Mimika tahun 2020 yang digadang-gadang senilai Rp 2 Miliar.

Mengetahui hal ini, Wakil Ketua II DPRD Mimika, Yohanes Feliks Helyanan mengaku bahwa adanya proyek dadakan ini membuktikan bahwa Bappeda Mimika tidak profesional. Trotoar yang telah dibangun dan memuat Mimika kelihatan indah, sehingga sangat tidak perlu lagi dibongkar dan dijadikan taman kota. Apalagi fungsi trotoar adalah untuk pejalan kaki maka jika ingin diperindah hanya ditempatkan beberapa pot bunga ataupun pohon peneduh.

"Pekerjaan itu jadi salah satu bukti kalau Bappeda itu tidak profesional. Dalam artian, proyek taman trotoar itu sebenarnya tidak perlu, karena kalau sudah ada taman di median jalan, lalu kenapa harus ada taman lagi di trotoar?," ungkapnya di kantor DPRD Mimika, Selasa (3/11/2020).

Bappeda semestinya jeli melihat semua usulan kegiatan dari setiap OPD agar harus sesuai dengan rencana kerja (Renja) serta visi dan misi Bupati. Selain itu harus melalui kajian atau monitoring dari bidang Fispranya agar memastikan kelayakan proyek terkait.

"Proyek ini kalau tidak salah senilai Rp 2 miliar lebih. Itu anggaran luar biasa, lalu hanya untuk bangun pot bunga saja?," katanya.

Mengingat anggarannya diperkirakan Rp 2 miliar maka perlu adanya pengawasan dan pemeriksaan dari Kejaksaan dan Kepolisian. Waktu program pembangunan tahun 2020 akan selesai, akan tetapi masih ada pekerjaan yang baru dimulai dan terkesan mendadak.

"Makanya harus dibongkar. Bila perlu dialihkan ke kompleks bandara saja," ujarnya.

Kabid Tata Ruang PUPR Mimika, Pither Eduwai mengaku bahwa pekerjaan tersebut tanpa melalui koordinasi antar dinas terkait bersama PUPR ataupun bersama konsultan, juga belum ada perencanaan dan master plannya.

"Kebetulan kita hanya dengar informasi saja dan berita makanya kami tinjau langsung, karena ini adalah tanggungjawab PUPR soal trotoar ini," ujar Pither.

Menurut dia, untuk trotoar seharusnya tidak harus ditempatkan pot bunga dan yang lainnya mengingat trotoar khusus untuk pejalan kaki. Dengan demikian, jika ada koordinasi yang baik maka bisa ditentukan titik yang akan dibangunkan taman kota seperti di area sekitaran bandara ataupun tempat lainnya yang cocok.

"Kan sudah ada median jalan untuk taman. Untuk apa lagi ada taman di trotoar? Jujur saja kami di PUPR sangat kesal dengan kondisi ini. Kita akan minta keterangan dari dinas terkait supaya ke depannya harus ada koordinasi,” ujarnya.

Pantauan Salam Papua bersama Komisi C DPRD Mimika menunjukan kondisi pembongkaran trotoar ini sangat merusak pemandangan. Sebab selain membongkar trotoar yang telah rapi, bangunan beberapa pot yang berbentuk kotak panjang juga nyaris menutupi akses masuk beberapa tempat usaha di depan Polres Mimika. (Acik)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

1 komentar: