Renungan Minggu – Mengisahkan Raja Manasye: Pemimpin yang Individualis dan Penghancur Peradaban

Bagikan Bagikan

(Sumber:Wikipedia)

“Ia (Raja Manasye) melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, sesuai dengan perbuatan keji bangsa-bangsa yang telah dihalau Tuhan dari depan orang-orang Israel” (2Raj 21:2) 

RAJA Manasye merusak kembali segala sesuatu yang telah dikerjakan oleh Hizkia, ayahnya. Pada masa pemerintahannya, kehidupan keagamaan masyarakat Israel merosot kembali. Raja Manasye menanamkan sinkretisme agama dan memperkenalkan ulang kekejian Kanaan dan ibadah Asyur yang telah dihancurkan Ayahnya. Penyembahan benda-benda langit, spiritisme, penyembahan Baal dan bahkan pengorbanan anak yang mengerikan itu, menodai tanah tersebut. 

Bukan saja itu, tetapi ritual tersebut disetujui dengan resmi. Dengan terang-terangan mereka menentang Allah, serta menempatkan mezbah-mezbah untuk menyembah segala tentara langit di halaman Bait Allah, sedangkan patung-patung ukiran dewi Asyera, isteri Baal, ditempatkan di dalam Bait Allah itu sendiri. 

Kondisi religius seperti ini otomatis membuat bangsa Israel juga turut berperan aktif dalam melakukannya. Hal ini dikarenakan setiap orang pada saat itu dilarang keras untuk memperjuangkan Penyembahan kepada Allah yang benar sebagai agama eksklusif dan siapapun yang mencoba melanggarnya pasti dieksekusi (dihukum).

Pada masa pemerintahan Manasye, anak laki-laki Hizkia ini, Esarhardon dan Asyur-Banipal memperluaskan wilayah kekuasaan Asyur ke Tebes di Mesir menjelang tahun 663 SM. Esarhadon berhasil merebut kota Memfis pada tahun 671 SM dan merebut kendali pengawasan atas daerah muara di Mesir. Sedangkan Raja Asyur-Banipal bergerak lebih jauh lagi dengan menyerbu dan berhasil menghancurkan kota Tebe pada tahun 663 SM (lih. Nah 3:8-10). 

Dengan begitu, Asyur untuk pertama kalinya memperluas suatu jajahan dari Mesopotamia hingga ke lembah Nil. Kekuatan rezim Asyur ini, didasarkan atas garnisun militer besar yang pernah digali di Tel-Yemmeh, sebelah selatan pantai Palestina. 

Dapat dipastikan bahwa hanya raja penurut seperti Manasye saja yang dapat menikmati dengan baik penggantian raja yang teratur ke takhta nominalnya serta memerintah dengan pemerintahan bersama ayahnya selama sepuluh tahun dan empat puluh lima tahun dalam pemerintahan yang otonom. 

Berbeda dengan ayahnya (Raja Hizkia), adanya tekanan-tekanan yang begitu kuat dari kerajaan Asyur, menimbulkan kebijakan politik Raja Manasye tidak sesuai dengan hati rakyatnya.

Walaupun Manasye trauma dengan apa yang disaksikannya, ketika pemberontakan ayahnya dihukum Asyur pada tahun 701 SM, namun dia tetap menjadi budak yang setia kepada Asyur, walaupun nantinya kerajaan Asyur akan runtuh. Dia mencari dukungan orang-orang “saleh” dan sheik-sheik lokal untuk melawan tokoh-tokoh terkemuka serta mengundang para pedagang dengan kultus mereka dari pesisir ke dalam kerajaannya. 

Raja Manasye mau mengorbankan segala sesuatunya untuk sepenuhnya tunduk dalam diplomasinya dengan kerajaan Asyur, karena ingin menguasai keseluruhan tanah Israel

Hal ini disebabkan karena kerajaan Israel Utara sudah hancur dan sudah pasti banyak pendatang-pendatang dari luar. Para pendatang itu berasal dari berbagai tempat dari kerajaan Israel Utara yang hancur dan otomatis sifat religiusitas mereka adalah sinkritisme yang diwariskan dari kerajaan Israel Utara. 

Ketika Manasye naik tahta, maka secara lokal dia menginginkan semua orang tunduk padanya dan memberikan upeti pada pemerintahannya, di luar ketundukkannya terhadap Asyur.

Dia melakukan otonomi yang radikal namun ternyata terjebak pada sikap amoral. Dia tidak peduli dengan apapun yang sedang dan akan dihadapi oleh masyarakatnya. Dia menggunakan kekuasaannya untuk memenuhi maksud pribadinya. Sebagai seorang globalis, dia memandang nasionalisme sebagai suatu tindakan lokalisme. 

Pada realpolitik pemerintahan Raja Manasye, terdapat manipulasi-manipulasi yang walaupun menguntungkan keadaan ekonomi, tetapi sangat berakibat fatal bagi kehidupan moral bangsa. Dengan hal itu, dia menjadi seorang yang impasif bagi rakyatnya, penghancur peradaban.

Sebuah tindakan yang dilakukan oleh seorang raja, sangat berpengaruh bagi kehidupan rakyatnya. Rakyat jelata seakan-akan diperlakukan seperti bola oleh para pemimpin negara. 

Sikap tunduk kepada raja membuat mereka harus menyangkali imannya kepada Allah yang mereka kenali selama ini. Perilaku amoral terjadi di mana-mana akibat perbuatan seorang pemimpin yang lebih mementingkan kepentingan pribadi daripada kepentingan orang banyak.

Kebijakan yang tidak menciptakan kesejahteraan bersama (common welfare) tetapi hanya mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan finansial kelompok tertentu, pasti berdampak negatif pada survival komunitas dan kinerja, yang nantinya akan menuju pada kehancuran. 

Tidak ada satupun tindakan yang murni, semua pasti bernuansa politik busuk demi mendapatkan pujian dari pihak lain. Bukan saja itu, ternyata semua yang dikerjakan hanya untuk bisa memenuhi lumbung ekonomi diri sendiri, tanpa memikirkan orang lain. 

Tanpa disadari, kaum jelata (grassroot) menjadi sangat dirugikan, bahkan ditendang sampai tidak mempunyai jati diri. Imperalis dan impasif merajalela dalam paguyuban itu. Menggunakan kedudukan untuk sarana pencapaian maksud pribadi yang sudah ada dalam kogitasi sebelumnya.

Kesejahteraan bersama jangan dijadikan sekedar remah-remah yang jatuh dari meja pesta para tuan besar (trickle-up effect). Jika hal itu terjadi, maka perkara demokrasi dan hak-hak asasi akan dianggap tidak relevan. 

Keluarlah dari lumpur kotor ini dan berusahalah semaksimal mungkin menjadikan kebijakan-kebijakan bagi kepentingan masyarakat atau orang banyak (public policy). Salam! (Jiru)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar