Rilis Kasus Covid-19 di Mimika Tidak Lagi Dilakukan Setiap Hari

Bagikan Bagikan
(Foto:Ilustrasi)

SAPA (TIMIKA) - Evaluasi covid-19 yang seharusnya dilakukan setiap 14 hari atau setiap 2 pekan itu, hingga kini belum juga dilakukan untuk melihat sejauh apa penanganan dan perkembangan kasus covid-19 di Mimika.

Berdasarkan hasil kesepakatan bersama Pemerintah Kabupaten Mimika dengan Forkopimda yang tertuang dalam surat kesepakatan bersama nomor 443.1/1275 tentang pencegahan, pengendalian dan penanganan covid-19 adaptasi kebiasaan baru (AKB) di Kabupaten Mimika, Pemerintah kembali memperpanjang pengawasan aktivitas masyarakat mulai jam 9 malam, pada Rabu (7/10/2020) lalu dan hingga sekarang belum ada evaluasi kembali.

Dari pantauan Salam Papua, pengawasan di jalan oleh petugas gabungan pada jam 9 malam, tidak lagi dilakukan, juga pasca pergantian, tim gugus tugas menjadi satuan tugas (Satgas) covid-19, belum terlihat langkah konkrit yang bisa diambil untuk penanganan covid-19.

"Pasca dialihkan belum ada langkah konkrit, karena belum kita diskusikan. Untuk melakukan penanganan itu harus ada keterlibatan stakeholder lain, dan hari ini  baru ada pertemuan secara internal Pemda," ungkap Asisten II Setda Mimika, Syahrial seusai melakukan pertemuan internal Pemkab Mimika, di Kantor Dinas Koperasi dan UKM, Rabu (4/10/2020).

Lanjut mantan Kepala Dinas  Ketahanan Pangan Kabupaten Mimika itu, keberlanjutan penanganan covid-19 akan diputuskan bersama dengan semua stakeholder.

"Kita baru merencanakan untuk penanganan tahun 2021 itu seperti apa, agar kegiatannya lebih tertib, kita belum bahas evaluasi, kita hanya bahas penanganan berlanjutan ke depan seperti apa, agar apa yang dilakukan terarah dan sesuai aturan," sambungnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Mimika, Reynold Ubra dalam kesempatan yang sama kepada wartawan, mengharapkan di masa adaptasi kebiasaan baru masyarakat tetap menjaga kesehatan dan mematuhi protokol kesehatan.

"Masyarakat tetap beraktivitas, tapi juga tetap menjaga kesehatan, kuncinya adalah hindari kerumunan, karena setiap kerumunan pasti ada kluster, dan selama 7 bulan kita menghadapi covid-19 kita sudah harus punya pelajaran penting," ungkap Reynold.

Reynold menyadari akan pro dan kontra di tengah masyarakat terhadap penanganan covid-19, namun dirinya tetap mengharapkan agar masyarakat Mimika tetap mematuhi protokol kesehatan. Ekonomi dan kesehatan harus berjalan bersamaan, intinya kata Reynold kampanye sosial tetap jalan.

"Kami dari sektor kesehatan sendiri telah mendesain penanganan covid-19 dengan tidak lagi melakukan secara eksklusif, namun kami mencoba mengintegrasikan dengan sistem pelayanan pada penyakit menular yang sudah ada (malaria, TB, dan HIV). Tujuannya adalah agar pelayanan ini lebih komprehensif," kata Reynold.

Terhadap kontak erat, pria yang akrab disapa Rey itu mengatakan tim tetap melakukan pemeriksaan  dan menjaring kontak erat dengan kasus melalui pemeriksaan tes cepat atau rapid test antigen, sedangkan pelaku perjalanan menggunakan rapid test antibodi.

Reynold juga menyampaikan, saat ini pemeriksaan sampel sudah dilakukan di RSUD  Mimika, karena sudah ada mesin PCR. Sebelumnya pemeriksaan sampel dikirim ke Klinik Kuala Kencana milik PTFI dan dikirim ke Jayapura lantaran mesin PCR di RSUD Mimika rusak.

Meskipun begitu, Reynold mengatakan bahwa rilis atau update kasus covid-19 di Mimika yang dilakukan tim kesehatan Mimika tidak lagi dilakukan setiap hari.

"Data harian, dirilis oleh provinsi termasuk kasus yang ada di Mimika, sementara data rilis dari Mimika dilakukan seminggu sekali," tuturnya. (Jefri Manehat)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar