Ujian Semester Secara Online Hasilnya Tidak Efektif

Bagikan Bagikan
(Foto:Ilustrasi)

SAPA (TIMIKA) – Berdasarkan kalender pendidikan, ujian semester untuk Sekolah Dasar (SD) akan dilaksanakan pada tanggal 16 hingga 20 November mendatang.

Di masa pandemi covid -19 ini anak-anak SD secara khusus masih melaksanakan pembelajaran online, termasuk ujian semester, yang biasanya dilaksanakan dengan sangat ketat tanpa bantuan siapapun untuk mengukur kemampuan siswa selama pembelajaran satu semester.

Hal ini mendapat respon dari orang tua, salah satunya adalah Clara seorang ibu dengan dua anak yang kini duduk di bangku SD dan selalu aktif mengikuti pembelajaran online.

Menurut Clara yang juga merupakan guru SD di salah satu sekolah di Mimika mengatakan, jika ujiannya dilakukan secara online, tentu hasilnya nanti di raport tidak efektif, mungkin sekitar 40 persen anak-anak bisa mampu menjawab soal ujian.

“Kalau anak saya gunakan aplikasi tapi untuk pemahaman 40 persen mereka bisa menuangkan dalam ujian. Kalau ulangan semester mereka pakai aplikasi, kerja di rumah kita tidak tahu apakah itu hasil murni dari anak atau tidak. Karena walaupun ulangan semester, orang tua terlibat di situ mendampingi, dan bukan dikerjakan oleh anak itu sendiri. Jadi kalau anak jawab salah kan pasti orang tua akan membantu. Ini kan ulangan, orang tua juga tidak mau anaknya jawab salah di ulangan, pasti terkendala,” kata Clara kepada Salam Papua, Senin (2/11/2020).

Clara mengatakan guru pun tidak bisa melihat bahwa pembelajarannya berhasil, karena tidak bisa diukur dengan pembelajaran daring. Namun ia sebagai orang tua yang juga guru akan berusaha untuk murni hasil kerja anak.

“Nanti hasilnya di rapot tidak efektif, karena dari saya sebagai guru walaupun daring, saya tidak tahu anak mana yang sudah mengerti dan anak mana yang belum, karena ini bertatapan dengan aplikasi saja. Setelah masuk ternyata anak tidak tahu apa-apa, mungkin hanya satu atau dua anak saja yang bisa tangkap, anak merasa itu menonton bukan belajar apalagi usia SD,” ujarnya.

Ia pun menyebutkan kendala selama pembelajaran online yang dialaminya yaitu semua materi hanya dikirim oleh guru, dan yang menjelaskan pun harus orang tua sendiri yang berperan sebagai guru.

“Memang secara online kurikulum yang disederhanapun saya masih terkendala, materi masih terlalu berat juga untuk anak, bukan hanya satu hari itu satu. Terus anak-anak juga kalau di depan HP terus gangguan di mata, itu dari segi kesehatan,” katanya.

Lainnya lagi terkendala di pulsa internet, Clara mengatakan untuk anaknya memang mendapatkan pulsa dari pemerintah, namun apakah itu merata, dimana semua anak-anak juga mendapatkan pulsa atau tidak.

“Terus soal perangkat mengajar seperti gadget, HP dan lainnya, macam saya juga hanya punya satu HP, terus punya anak dua dengan beda-beda jenjang kelasnya. Kendalanya di situ juga setengah mati. Akhirnya anak- anak jadi berebutan HP,” ujarnya.

Di sisi lain, Kepala Sekolah SD Inpres Kwamki II, Heronia Marwanaya mengatakan pihak sekolah kini memang sudah menyiapkan soal ujian Daring dan Luring.

“Untuk Luring nanti orang tua ambil di sekolah, kemudian dikerjakan oleh anak, besoknya dikembalikan lagi, sementara untuk online, nantinya anak akan mengikuti ujian secara online,” ujarnya.

Ia juga tak menampik bahwa selama pembelajaran di rumah saja, ada pula siswa yang tidak aktif.

“Ada juga yang tidak aktif, karena mungkin kurang pendampingan dari orang tua. Namun upaya kami dari sekolah tetap beruasaha untuk berhubungan dengan orang tua, jika anak tidak aktif sama sekali maka kami mencoba untuk mencari informasi apa kendala yang dihadapi selama belajar di rumah,” tuturnya. (Kristin)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar