Bayar Rp 7 Juta Per Kepala, Pendulang Masuk Wilayah Banti Numpang Mobil Freeport

Bagikan Bagikan
Martina Natkime saat menyampaikan aspirasinya dalam pertemuan di DPRD Mimika (Foto:SAPA/Acik)

SAPA (TIMIKA) – Tokoh perempuan kampung Banti II, Martina Natkime mengklaim bahwa ada  pendulang emas yang masuk dan mendulang di wilayah Banti bukan melalui jalur tikus, akan tetapi menempuh jalur umum dengan menyewa mobil khusus milik PT Freeport Indonesia (PTFI) dengan biaya Rp 6 hingga 7 juta per kepala.

Hal ini disampaikan Martina dalam pertemuan tim gabungan Pemkab, DPRD, TNI-Polri dan perwakilan tokoh masyarakat terkait upaya pemulangan warga Banti I, Banti II dan Opitawak di aula pertemuan DPRD, Senin (21/12/2020).

“Jangan bilang para pendulang itu menempuh jalur tikus. Saya sampaikan ini di forum ini dan di hadapan Tuhan. Saya sudah tanyakan ke pendulang dan mereka jawab bahwa mereka pakai mobil PT Freeport dan bayar Rp 6 hingga 7 juta per kepala. Itu ada sebanyak 180 orang pendulang. Jadi jangan bilang pendulang itu melalui hutan-hutan. Pernyataan itu tidak benar,” ungkap Martina.

Usai pertemuan pun, kepada awak media ia mengatakan bahwa pengakuan pendulang tersebut sesuatu yang jujur dan yang sudah terjadi biarlah terjadi. Namun, sangat diharapakan agar hal tersebut tidak terus-terusan terjadi, karena hal itu hanya memanfaatkan masyarakat Banti saja. Sebab, saat ini masyarakat tiga kampung sementara susah menjalani hidup di Timika setelah dievakuasi.

“Jangan memanfaatkan kami,” katanya.

Sedangkan Martinus  Roy yang merupakan warga Opitawak mengatakan bahwa informasi lainnya dari pendulang  adalah bayarannya bervariasi dimulai dari Rp 3, 5,6 hingga 7 juta.

Dia mengungkapkan, masyarakat asli tiga kampung sementara hidup terkatung-katung dan was-was di Timika, tetapi kenapa ada warga lain yang bisa masuk? Untuk upaya Pemkab, DPRD, TNI-Polri yang saat ini dilakukan sangat didukung masyarakat tiga kampung dengan satu harapan yaitu para pendulang tersebut telah meninggalkan lokasi pendulangan saat masyarakat tiga kampung dipulangkan.

“Kalau nanti para pendulang ini tetap ada dan masuk dengan cara begitu maka nanti akan ada konflik antar suku,” ujar Martinus.

Mendengar hal ini, Anggota Komisi C DPRD, Yulian Solossa mengharapkan agar Pemkab dan PTFI harus bersama-sama mengantipasi masuknya warga luar yang mengambil ampas emas di wilayah tiga kampung tentunya sangat tidak baik dan bisa menimbulkan kekacauan.

“Laporan ini harus diperhatikan dan jangan dianggap sepele. Kalau memang wilayah itu tidak bisa masuk sembarang orang luar yang bukan karyawan PTFI, lalu kenapa bisa lolos yang ratusan pendulang itu? Kita harus sama-sama antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” kata Yulian dalam pertemuan tersebut. (Acik)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

2 komentar:

  1. Bunuh saja pendulang 2x liar
    ( bukan warga 3 kampung)
    Memamfaatkan kesempatan dalam kesensaraan itu khususnya oyame, nanti TNI_POLDRI dan ptfi tangung jawab...

    BalasHapus
  2. Ayoo.. Kunjungi dan bergabung bersama Dupa88 titik org sarana slot Game online yang memberikan kenyamanan buat para maniac gamers.!! Bonus bonus yang menakjubkan selalu di persiapkan
    untuk teman teman yang ingin bergabung bersama kami, yuks.. jangan buang waktu segera buktikan kalau Dupa88 titik org paling best ya guys...Slot games

    BalasHapus