Pemkab Mimika Pastikan Masyarakat Tiga Kampung Pulang dalam Keadaan Bebas Covid-19

Bagikan Bagikan
Wabup Mimika, Johannes Rettob,S.Sos,MM saat bertemu warga tiga kampung (Foto:SAPA/Acik)

SAPA (TIMIKA) – Pemkab Mimika pastikan bahwa masyarakat tiga kampung yaitu Banti I, Banti II dan Opitawak Distrik Tembagapura akan dipulangkan dalam kadaan sehat atau bebas covid-19.

Pemkab mau agar ribuan warga ini kembali ke kampungnya setelah melalui rapid test antigen yang akan dilaksanakan beberapa hari ke depan. Dengan demikian, setiap warga yang hasil testnya dinyatakan negatif maka langsung diberangkatkan dengan kendaraan yang disediakan PT. Freeport Indonesia (PTFI), sedangkan yang dinyatakan reaktif harus bertahan sementara di Timika hingga dinyatakan sehat.

“Pemeriksaan kesehatan nantinya akan dilakukan di mile 32. Hari ini kami rapat lagi dan data-data warga tiga kampung sudah kami dapatkan. Memang waktu lalu kita putuskan bahwa sebelum masyarakat pulang, semua fasilitasnya harus diperbaiki, tapi karena masyarakat menilai bahwa masih layak maka mulai beberapa hari lalu kita siapkan kepulanganya,” ungkap Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob,S.Sos,MM saat bertemu warga tiga kampung di posko pengungsian di Jalan Baru Timika, Senin (18/1/2021).

Dijelaskan bahwa kepulangan warga ini harus bertahap lantaran bis Freeport tidak bisa lagi diisi dengan 63 penumpang, karena sementara pandemi Covid-19. Jadi saat ini hanya bisa 30 orang dalam satu bis.

“Tidak bisa hari ini kita bicara dan besok langsung jalan. Minta maaf, karena kita harus diskusikan dengan PTFI dan salah satunya memastikan Bapak dan Ibu dalam keadaan sehat,” katanya.

Intinya Pemerintah, PTFI,TNI dan Polri benar-benar memastikan siapa-siapa yang harus diberangkatkan pertama. Masyarakat harus bersabar menunggu kepastian waktu keberangkatan sesuai dengan proses yang sedang diupayakan. Namun, harus melalui pemeriksaan kesehatan guna memastikan bebas covid-19.

“Kita semua sama-sama berharap agar mudah-mudahan di hari Rabu atau Kamis rombongan pertama sudah mulai jalan. Harus sabar, jangan marah-marah dan tidak boleh lakukan demo,” ujarnya.

Selama berada di Timika, telah beberapa kali dirinya mengunjungi warga tiga kampung, baik yang ada di jalan jeruk SP2 ataupun di tempat lainnya. Dalam pertemuan itu juga selalu disampaikan bahwa Pemerintah tetap mempunyai tanggungjawab untuk pulangkan ke kampung masing-masing. Namun perlu diingat bahwa ketika masyarakat turun ke Timika bukan karena keinginan Pemerintah, tetapi lantaran keinginan sendiri yang dikarenakan situasi tidak aman.

“Saat pertama-pertama sampai di Timika, Pemerintah sempat perhatikan, tetapi setelah itu kita sama-sama tahu bahwa kita dalam keadaan pusing dengan adanya covid-19. Itu makanya kita tidak bisa perhatikan Bapak dan Ibu secara baik-baik. Makanya saya minta maaf,” ungkapnya.

Beberapa waktu terakhir, kita sering bertemu khususnya dengan perwakilan masyarakat yaitu Mama Martina Natkime dan tokoh lainnya. Terakhir di tanggal 16 Januari telah dilakukan pertemuan bersama Bupati dan memutuskan bahwa sejak hari itu, mulai melakukan semua persiapan untuk kepulangan warga tiga kampung.

“Bukan berarti bahwa hari Sabtu itu pulang, tapi itu mulai melakukan persiapan-persiapan. Kami terus berusaha dengan semua pihak termasuk TNI dan Polri untuk bagaimana caranya bisa pulangkan Bapak dan Ibu. Hari ini juga kami rapat lagi,” katanya.

Putusan pulang harus melalui pemeriksaan kesehatan ini sempat ditolak oleh masyarakat melalui perwakilannya. Seprianus Omabak selaku perwakilan masyarakat mengatakan bahwa banyak Ibu-Ibu yang tidak ingin mengikuti tes dengan cara ditusuk melalui lubang hidung, akan tetapi hanya ingin agar Pemerintah membagi obat anti malaria.

“Ibu-Ibu ini tidak ingin kalau tes yang ditusuk ke lubang hidung. Mereka mau supaya bagi obat malaria saja,” kata Seprianus.

Hal tersebut dijelaskan kembali oleh Wabup Rettob bahwa semua yang diupayakan Pemerintah adalah untuk kebaikan masyarakat.

“Itu bukan tes yang berbahaya, sehingga tidak perlu takut demi kesehatan,” kata Wabup Rettob.

Usai dijelaskan, Tokoh Perempuan tiga kampung, Martina Natkime mengatakan bahwa upaya Pemerintah akan dituruti asalkan tujuan utama untuk pulang ke kampung harus terwujud.

“Dari pertama kami sudah sampaikan bahwa kami tidak inginkan yang lain. Kami hanya ingin pulang ke kampung, karena itu kampung yang sudah disediakan untuk kami oleh Tuhan. Untuk tempat tinggal itu masih layak untuk kami. Kami sudah terbiasa hidup di gua dan itu sejak nenek moyang sudah terjadi,” kata Martina.

Pantauan Salam Papua, pertemuan ini dikawal ketat aparat Kepolisian Polres Mimika yang dipimpin langsung Kapolres AKBP I Gusti G Era Adhinata.

Hadir mendampingi Wabup Rettob adalah Asisten I Bidang Pemerintahan, Yulius Sasarari, Staf Khusus Bupati Bidang Politik Publik Max A Werluken, Staf Khusus Bupati Bidang Informasi dan Komunikasi, Cristian Victor Kabey, Kadinkes Mimika, Reynold Rizal Ubra, Kepala Kesbangpol, Yan Selamat Purba, Kepala BPBD, Yosias Losu, dan Kepala Distrik Tembagapura, Thobias Yawame. (Acik)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

1 komentar:

  1. Ayoo.. Kunjungi dan bergabung bersama Bola165A titik com sarana slot Game online dan sportsbook yang memberikan kenyamanan buat para maniac gamers.!! Bonus bonus yang menakjubkan selalu di persiapkan
    untuk teman teman yang ingin bergabung bersama kami, yuks.. jangan buang waktu segera buktikan kalau Bola165A titik com paling best ya guys...Click Disini

    BalasHapus