Anak-Anak Alami Pelecehan Seksual, Ratusan Orang Tua Datangi Sekolah Asrama Taruna Papua

Bagikan Bagikan

Suasana saat kedatangan orang tua dan keluarga ke Sekolah Asrama Taruna Papua (Foto:SAPA/Acik)

SAPA (TIMIKA) – Buntut dari adanya laporan pelecehan seksual terhadap 13 anak di bawah umur oleh seorang pria selaku pembina asrama berusia 30 tahun, ratusan orang tua dan keluarga mendatangi Sekolah Asrama Taruna Papua di lorong Sopoyono, SP4 Distrik Wania Mimika, Sabtu (13/3/2021).

Kedatangan ratusan orang tua ini untuk meminta pertanggungjawaban dari pihak sekolah.

Perwakilan orang tua, Oktovianus Kum mengatakan bahwa beberapa hari lalu telah dilaporkan ke pihak kepolisian terkait adanya pelecehan seksual serta kekerasan mental dan fisik yang telah dilakukan oleh salah seorang pembina asrama di Sekolah Asrama Taruna Papua. Menyusul laporan ke Kepolisian tersebut, dari anak-anak juga mengaku bahwa sebagian dari mereka mengalami pelecehan seksual dengan cara diajak oleh pelaku ke kamar mandi ataupun gudang dan disuruh telanjang bulat, lalu saling memegang kemaluan satu sama lain termasuk memegang kemaluan si pelaku.

“Anak-anak ini diancam kalau tidak mau. Itu terjadi sejak bulan November tahun 2020 hingga tanggal 9 Maret 2021 dan beberapa korban dibantu gurunya  langsung melaporkan hal itu ke Polres Mimika,” kata Oktovianus, Sabtu (13/3/2021).

Saat ini sebagian orang tua menginginkan agar anak-anaknya dipulangkan dan harus dihadirkan ke YPMAK untuk menyampaikan sendiri apa yang dialami.

Perlakuan ini tentunya sangat merusak mental semua korban yang masih anak-anak di bawah umur. Dengan demikian, sebagai orang tua, kami merasa geram dan kecewa, sehingga meminta agar pihak sekolah harus mempertanggungjawabkannya dengan berbicara secara terbuka.

Octovianus mengaku, ada dua anak perempuannya disekolahkan di Taruna Papua, sehingga dengan kejadian ini menimbulkan trauma dan keresahan bagi orang tua. Kejadian ini sudah menunjukan bahwa pengurus yang ada benar-benar tidak bekerja dengan baik. Setiap orang tua pun mengharapkan agar pelaku harus dipenjara sesuai dengan apa yang telah ia lakukan kepada anak-anak.

“Syukur anak-anak kita berani mengungkapkan ini. Kalau tidak, mungkin kejadian ini akan terus berlanjut tanpa diketahui pihak luar termasuk orang tua,” ujarnya.

Selain hal itu, yang orang tua inginkan adalah sekolah tersebut harus kembali dikelola oleh YPMAK dan bukan oleh pihak ketiga yaitu Yayasan Lokon.

Pantauan Salam Papua, tidak ada satupun pihak Sekolah Asrama Taruna Papua yang mau berbicara atas persoalan yang telah terjadi.

“Saya tidak bisa memberikan informasi tentang hal itu. Nanti pihak YPMAK yang akan jelaskan dan saat ini anak-anak sedang belajar,” ungkap Kepsek Taruna Papua, Johana M.M. Tnunay saat dihubungi Salam Papua via telepon di halaman Sekolah Taruna Papua.

Sedangkan petugas keamanan yang menjaga gerbang masuk mengaku bahwa kedatangan orang tua murid saat ini tergolong aman jika dibandingkan dengan tanggal 12 Maret lalu setelah mengetahui adanya laporan ke Polres Mimika.

Menerima laporan terkait kedatangan ratusan orang tua dan keluarga ini, puluhan personel Polres Mimika langsung menuju sekolah Taruna Papua dan mengamankan situasi, sehingga dapat mencegah terjadinya aksi anarkis.

Kapolsek Mimika Baru, AKP Dion Vox Dei Helan Paron mengatakan bahwa peristiwa pelecehan dan kekerasan yang terjadi tentunya menimbulkan kekecewaan bagi pihak orang tua dan keluarga, sehingga mereka menuntut pihak sekolah. Dengan demikian, guna menghindari terjadinya hal-hal yang tidak dinginkan, maka langsung direspon pihak kepolisian dan dibantu aparat TNI. 

“Kasus ini sudah ditangani oleh pihak kepolisian, dalam hal ini penyidik, sehingga diharapkan pihak orang tua bisa mempercayakan (hal itu) kepada pihak kepolisian,” katanya.

Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan pihak YPMAK dan beberapa hari ke depan akan dilakukan pertemuan bersama pihak Yayasan serta pihak sekolah dan pihak keluarga korban termasuk pihak PTFI yang menaungi sekolah tersebut.

“Hari ini aman saja dan tidak ada aksi anarkis. Memang ada protes karena ada ketidakpuasan dari masing-masing orang tua,” tuturnya. (Acik)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar