Bentrok di Poumako akan Diselesaikan Secara Kekeluargaan

Bagikan Bagikan
Foto bersama Yohanes Yance Boyau, Tokoh Masyarakat Kamoro dan Insiyiur Abdul Rahman, SH, MH, Ketua DPP Pallawa Siri’na Pacce, bersama keluarga korban di kediaman Yohanes Yance Boyau (Foto:SAPA/Acik)

SAPA (TIMIKA) - Tokoh Masyarakat Kamoro, Yohanes Yance Boyau menegaskan bentrok yang terjadi di Poumako pada tanggal 7 Maret lalu akan diselesaikan secara kekeluargaan.

“Saya akan komunikasikan kepada masyarakat di Poumako agar persoalan ini diselesaikan secara kekeluargaan. Dari keluarga korban juga sudah setuju persoalan ini diselesaikan secara damai. Hari ini keluarga korban kumpul di sini dan kami sudah bersepakat untuk menempuh jalur damai,” ungkap Yance kepada Salam Papua di kediamannya di Kelurahan Kamoro Jaya, SP1, Sabtu siang (13/3/2021).

Ia mengatakan keluarga korban meminta kepada pelaku dan keluarganya untuk membantu biaya pengobatan korban.

Ia juga menegaskan bahwa dalam tradisi masyarakat Kamoro tidak ada bayar darah sehingga dalam persoalan ini keluarga korban hanya meminta bantuan biaya pengobatan.

“Di Kamoro itu tidak ada istilah bayar darah hanya bantuan biaya pengobatan. Saya dan keluarga korban akan bicarakan lagi persoalan ini dan segera menarik laporan di kepolisian. Kami akan menyelesaikan persoalan ini dengan jalur damai,” tegasnya.

Sementara itu, Abdul Rahman,SH,MH, Ketua DPP Pallawa Siri’na Pacce pada tempat yang sama mengatakan bahwa pihaknya berinisiatif menemui tokoh masyarakat Kamoro agar bentrok di Poumako diselesaikam secara damai.

“Alangkah indahnya kalau terjadi perdamaian dalam masalah ini. Pada hari ini juga kita sudah dengar permintaan dari keluarga korban dan sebagai Ketua DPP Pallawa Siri’,na Pacce dan kuasa hukum dari para tersangka akan menyampaikan kepada keluarga tersangka permintaan dari keluarga korban,” ujarnya.

Ia menambahkan hubungan kekeluargaan yang terjalin begitu harmonis antara masyarakar Kamoro dan masyarakat Sulawesi Selatan selama ini harus tetap dijaga.

“Orang Kamoro dan orang Silawesi Selatan tidak bisa dilepas secara emosional, kami sudah menjadi satu keluarga dan akan tetap seperti itu,” ungkapnya.

Ia mengatakan saat kabupaten ini belum padat penduduk, masyarakat Sulawesi Selatan sudah masuk dalam hutan hidup berbaur dengan masyarakat asli Mimika, dan telah berperan besar dalam pembangunan Mimika.

“Jadi kami ingin selalu hidup rukun dan damai dengan masyarakat dari suku manapun di Kabupaten Mimika ini,” tuturnya. (Acik)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar