Danyonif Raider 754/ENK Yakin Bukan Anggotanya yang Melakukan Penembakan di Poumako

Bagikan Bagikan
Danyonif Raider 754/ENK, Mayor Inf. Doni Firmansyah saat bertemu insan pers (Foto:SAPA/Acik)

SAPA (TIMIKA) – Danyonif Raider 754/ENK, Mayor Inf. Doni Firmansyah mengaku yakin dan percaya bahwa anggotanya tidak melakukan penembakan kepada masyarakat saat terjadi bentrok di Kampung Poumako Distrik Mimika Timur, sekitar pukul 20.00 WIT tanggal 7 Maret lalu.

Mayor Inf. Doni menjelaskan, hal ini terbukti dari senjata dan amunisi dari kesatuan TNI Yonif 754/ENK telah dicek dan semuanya dalam keadaan lengkap dan aman. Protap khusus masalah amunisi di setiap kompi terdata jelas perbutirnya, sehingga setelah dilakukan pengecekan ternyata jumlahnya masih lengkap. Lagipula setiap butir amunisi yang keluar, pasti ada laporannya dan hingga saat ini kondisi amunisi di satuan terdata lengkap.

“Saya selaku komandan batalyon masih yakin dan percaya kepada anggota kami tidak melakukan hal tersebut, dalam hal ini tidak melakukan penembakan, karena senjata dan amunisi dari satuan kami sudah kami cek dan dalam keadaan lengkap dan aman,” ungkap Mayor Inf. Doni usai konferensi pers di Ruang Transit Mako Yonif Raider 754/ENK/20/3 Kostrad jalan poros Trans Nabire, Selasa (9/3/2021).

Dia mengimbau kepada seluruh masyarakat Mimika agar tetap tenang dan yakinkan penyelesaian masalah ini kepada pimpinan daerah dan juga TNI-Polri dalam melakukan penyelidikan. Masyarakat harus yakin dan percaya bahwa penyelidikan akan dilakukan hingga adanya hasil secara terang benderang berdasarkan bukti yang nyata.

Saat melangsungkan konferensi pers, Dia juga mengatakan bahwa saat kejadian di TKP dalam kondisi gelap dan telah ada kurang lebih tiga rekaman video yang saat ini beredar. Namun, dalam video itu pun  tidak terlihat jelas siapa yang melakukan dan personel yonif pun terlihat tidak membawa senjata.

“Jadi saya tidak ingin mengatakan, menunjuk atau apapun, karena nantinya akan ada pihak yang keberatan atas statement saya. Jangan sampai salah bicara, karena tanpa ada bukti,” katanya.

Karena itu, diharapkan melalui media, masyarakat bisa mengetahui bahwa proses ini sedang berjalan dan yakin bahwa siapapun pelakunya akan diproses secara hukum yang berlaku.

Ia pun berkomitmen, jika memang dari kesatuannya yang bersalah, maka akan diproses, tetapi kesalahannya pun akan di dalami.

“Jika kesalahan prosedur, sudah pasti prosedurnya yang salah, karena kami ada di sana, tetapi dalam rangka timbulnya korban harus dicari dan diteliti dahulu disertai dengan alat-alat bukti. Saat ini pun dari kepolisian dan TNI juga masih mencari bukti yang sah dan autentik,” ujarnya.

Dia juga menjelaskan bahwa kedatangan 10 personel Yonif ke TKP adalah untuk merespon laporan dari salah satu masyarakat yang ada  di lokasi. Usai menerima laporan itu, komandan kompi yang ada di kompi senapan C memerintahkan anggotanya untuk memonitor. Dalam hal ini, agar ada hal yang bisa dibantu kepada masyarakat, maka langsung dibantu.

“Setelah personel kami sampai di lokasi, kemungkinan masyarakat kaget dan timbullah prasangka yang negatif, sehingga anggota kami  langsung dilempari.  Dengan adanya pelemparan dari masyarakat, anggota kami mundur dan satu unit kendaraan yang dibawa terjungkal ke parit. Ada 10 anggota dipimpin 1 perwira yang diperintahkan ke lokasi untuk memonitor,” tuturnya. (Acik)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar