Masyarakat Amungme Tuntut YPMAK Cabut Kerjasama Dengan Yayasan Lokon di SATP

Bagikan Bagikan

Ratusan orang tua dan keluarga korban pelecehan seksual dan kekerasan di SATP saat mendatangi YPMAK di Jalan Yos Sudarso (Foto :SAPA/Acik)

SAPA (TIMIKA)
– Buntut terjadinya pelecehan seksual  terhadap anak-anak dibawah umur di Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP), orang tua dan masyarakat Amungme menuntut agar YPMAK mencabut kerja sama  dengan yayasan Lokon. 

Diminta juga agar menghentikan sementara aktivitas yang dilaksanakan di SATP dan mengganti semua guru, pembina dari luar mengingat di Timika banyak figur yang bisa menjadi guru dan pembina asrama bagi anak-anak Amungme dan Kamoro. 

Selain hal itu, ratusan  orang tua dan keluarga para korban yang  memadati halaman YPMAK  ini mendesak agar ada tim pemcari   fakta yang netral guna mengawal kasus ini dan menginvestigasi. Harus dilakukan healing untuk pemulihan mental dan rasa trauma bagi semua anak-anak yang menjadi korban pelecehan ataupun kekerasan lainnya yang terjadi. Dan yang terakhir adalah harus menghukum pelaku seberat-beratnya seusai dengan hukum yang berlaku.

 Pantauan Salam Papua, perwakilan orang tua Okovian Kum meminta agar YPMK menghadirkan Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI) dan Direktur Yayasan Lokon yang mengurus SATP guna mempertanggungjawabkan kejadian ini dan mencari solusinya secara bersama-sama. 

 Namun yang terpenting menurut dia adalah hentikan atau cabut ijin kerja sama antar YPMAK dan Yayasan Lokon dan SATP dikelola kembali oleh YPMAK dengan mempekerjakan anak-anak Amungme dan Kamoro sebagai guru, pembina ataupun yang lainnya. 

Ratusan orang tua dan keluarga korban pelecehan seksual dan kekerasan di SATP saat mendatangi YPMAK di Jalan Yos Sudarso (Foto :SAPA/Acik)
“Cabut izin dengan Yayasab Lokon. Yayasan Lokon harus ke luar dari Timika. Di sini masih ada anak Amungme dan Kamoro yang sarjana dan bisa dipekerjakan sebagai guru dan pembina  di SATP,” kata Okto, Senin (15/3/2021). 

Tokoh perempuan sekaligus orang tua korban, Afolfina Kum menyampaikan bahwa tuntutan ini lantaran kejadian ini telah merusak mental anak-anak. 

Menurut dia, yang menjadi korban bukan hanya 30 lebih anak, tetapi juga dirasakan oleh semua anak lainnya di dalam SATP, dalam hal ini apa yang dialami oleh teman-temannya bisa menjadi trauma bagi yang lainnya. 

“Kita curiga ini terjadi secara tersistim,karena telah terjadi sejak bulan November tahun 2020. Kita juga curiga masih banyak lagi anak-anak yang lain yang dilecehkan ataupun mengalami kekerasan yang lainnya. Makanya  kami minta supaya hentikan saja kerjasama dengan Yayasan Lokon itu dan dikembalikan ke YPMAK sendiri,” tutur Adolfina. 

Menyambut kedatangan ratusan orang tua dan keluarga korban, Direktur YPMAK, Vebian Magal menjelaskan bahwa dirinya juga menjadi korban dalam peristiwa ini. Namun, semuanya harus didiskusikan secara baik. 

“Saya tidak bisa terima aspirasi ini di halaman kantor, tapi kita bicarakan bersama. Saya mengajak satu orang yang benar-benar orang tua korban dan beberapa tokoh perwakilan masyarakat untuk diskusikan di ruangan kami,” kata Vebian. 

Aksi ini dikawal ketat puluhan personil kepolisian Polres Mimika guna mengantisipasi terjadinya hal-hal yang dapat mengganggu Kamtibmas. 

PJs Kabag Ops Polres Mimika, Ahmad Dahlan mengatakan bahwa ini merupakan aksi damai yang dilakukan masyarakat khususnya ibu-ibu yang merasa kecewa atas peristiwa yang menimpa anak-anaknya. 

“Kami sudah siap dari jam 9 pagi, karena adanya rencana masyarakat akan mendatangi kantor YPMAK ini. Alhamdulillah dalam aksi damai dengan suasana kekeluargaan. Aspirasi mereka sementara dibahas di ruang rapat YPMAK di lantai 2. Berarti apa yang mereka tuntut nantinya akan dibicarakan kedepannya,” kata Dahlan. (Acik)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar