Pelaku Pelecehan Seksual Anak Taruna Papua Merupakan Guru Honor, Terancam Penjara 20 Tahun

Bagikan Bagikan

Pelaku pelecehan seksual terhadap anak-anak di Sekolah Asrama Taruna Papua (Foto:SAPA/Acik)

SAPA (TIMIKA) – Dua hari terakhir warga Mimika digegerkan dengan adanya kejadian pelecehan seksual dengan ancaman serta perlakuan kekerasan terhadap siswa yang merupakan anak-anak di bawah umur di Sekolah berpola asrama Taruna Papua.

Kasat Reskrim Polres Mimika, AKP Hermanto menjelaskan, pelaku berinisial DF berusia 30 tahun itu merupakan guru honor yang direkrut Yayasan dan mulai bekerja sejak tahun 2020 di Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP), Jalan Sopoyono SP4 Distrik Wania Mimika.

Awal mula kejadian terbongkar adalah ketika Kepala Sekolah menemui anak didiknya yang menangis di salah satu kamar. Saat ditanya, salah satu korban ini pun menceritakan hal yang dialaminya. Dimana, pelaku telah melakukan aksi bejatnya kepada anak-anak berusia 6 sampai 13 tahun sejak bulan November tahun 2020.

Saksi yang telah diperiksa sampai saat ini sebanyak 13 orang yaitu korban pelecehan seksual sebanyak 10 anak, Kepala Yayasan, Kepala Asrama dan tenaga pendidik.

Korban tercatat kurang lebih 25 anak perempuan dan 60 anak laki-laki, akan tetapi kekerasan kebanyakan dilakukan kepada anak laki-laki. 10 dari anak-anak ini yang mengalami pelecehan atau pencabulan seksual, sedangkan 15 lainnya kekerasan.

Modus yang dilakukan adalah setiap korban diajak ke kamar mandi pada saat pelaku menjalankan sift malam. Setelah mengajak korban ke kamar mandi, pelaku mengeluarkan alat vitalnya dan memaksa korban melakukan oral seks hingga mengeluarkan cairan.

“Barang bukti yang telah kita amankan adalah kayu dan kabel. Kayu itu digunakan untuk mengancam siswa saat melancarkan aksi pelecehan ataupun melakukan kekerasan. Apabila ada anak yang tidak mau melakukan oral seks, maka dipukul pelaku,” kata AKP Hermanto saat menggelar konferensi pers di kantor pelayanan Polres Mimika, Sabtu (13/3/2021).

Pasal yang diterapkan atas perbuatan pelaku adalah Undang-undang perlindungan anak dengan ancaman hukuman 5 hingga 15 tahun ditambah sepertiga dari hukuman tersebut menjadi 15 hingga 20 tahun.

“Intinya kami masih menunggu laporan susulan dari pihak sekolah, karena informasinya masih ada anak yang belum melaporkan dan sementara rencana mau melapor,” katanya.

Pelakupun telah mengaku bahwa hal itu bermula ketika ia sering memandikan anak-anak yang berusia kurang lebih 6 sampai 13 tahun dalam keadaan tanpa pakaian, sehingga muncul niat melakukan pencabulan.

“(Ada) satu orang anak perempuan yang dia coba cabuli, tapi sebatas memeluk saja, karena anak itu menolak,” tuturnya.

Polres Mimika akan terus menyelidiki untuk mengantisipasi adanya pelecehan yang dilakukan korban di tempat lain selain di SATP tersebut.

Selanjutnya, diminta kepada pihak sekolah agar jika ada siswa atau anak yang belum melaporkan diri untuk segera melaporkannya ke Polres Mimika supaya diketahui adanya korban lain.

Sat Reskrim juga akan berkoordinasi dengan ahli psikiater untuk melakukan screening kepada pelaku. Saat ini, para korban telah didampingi oleh pihak P2TP2A dari dinas Pemberdayaan Perempuan Mimika. (Acik)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar