Pendulang di Timika Bertikai, Satu Terkena Panah dan Lima Orang Ditangkap Polisi

Bagikan Bagikan
Lima orang yang ditangkap dan diamankan di sel tahanan Polsek Miru (Foto:SAPA/Acik)

SAPA (TIMIKA) – Dua kelompok pendulang di wilayah mile 24 dan 25 Timika bertikai mengakibatkan satu orang terkena panah dan dilarikan ke RSUD.

Meski sempat mendapat perlawanan, dalam pertikaian ini aparat kepolisian Polsek Mimika Baru (Miru) berhasil menangkap lima orang yang diduga sebagai penyebab pertikaian yakni RR  (30), DW alias Eli (39), TH (46), WR (42) dan NH (52). Lima orang tersebut bersama anggota-anggotanya melakukan pengrusakan camp dan fasilitas lainnya di lahan pendulangan.

“Kami sudah amankan lima orang. Mereka itu yang melakukan pengrusakan di lahan. Satu orang yang dipanah sekarang dirawat di RSUD. Informasi terakhir kondisinya baik. Pertikaian ini disinyalir oleh persoalan lahan. Dengan demikian, tentunya perlu  dikaji kembali guna memastikan adanya izin ataupun tidak,” ungkap Kapolsek Miru, AKP Dionisius Vox Dei Paron Helan usai memimpin langsung pengamanan di TKP, Kamis (25/3/2021).

Seorang pendulang yang melaporkan pertikaian ini mengaku bahwa insiden serupa sering terjadi, akan tetapi diselesaikan secara kekeluargaan. Namun, untuk saat ini Kepala Suku dua kelompok yang bertikai mengaku menyerah dan disarankan agar dilaporkan ke kepolisian guna penyelesaian secara hukum.

Pria yang tidak ingin namanya dipublish mengatakan bahwa satu dari lima orang yang berhasil ditangkap selalu melakukan intimidasi hingga bertindak premanisme terhadap pendulang lainnya. Hal ini tentunya sangat tidak diterima lantaran bertindak semena-mena dan terkesan pelaku ingin menguasai semua lahan pendulangan.

“Kalau tidak salah ini sudah terjadi yang ke enam kalinya, tetapi selama ini hanya diselesaikan secara kekeluargaan. Namun, saat ini atas saran kepala suku, makanya kami laporkan ke polisi. Kemarin sudah ada yang melapor ke Polres, tapi hari ini kami yang melapor ke Polsek Miru,” katanya.

Pelapor lainnya menuturkan bahwa salah seorang yang ditangkap polisi berinisial DW alias Eli selalu bertindak premanisme kepada pendulang lainnya dengan membuat aturan-aturan yang tidak dapat diterima. Selain itu, setiap yang baru masuk di wilayah pendulang harus menyerahkan uang sebesar Rp 400 ribu dan setiap pendulang wajib menyetor Rp 200 ribu perbulan.

“Coba dikalikan saja kalau setiap bulan masing-masing kami setor ke dia Rp 200 ribu? Belum lagi dia pungut Rp 400 ribu dari pendulang yang baru masuk. Itu semacam uang pendaftaran bagi yang baru masuk,” ujar pelapor lainnya. (Acik)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar