PT. Freeport Indonesia dan Upaya Mengatasi Ketimpangan Sosial di Papua (2)

Bagikan Bagikan
Hasil pertanian kopi binaan PTFI untuk masyarakat di sekitar perkampungan Tembagapura, menghasilkan Kopi Amungme yang saat ini dijual di Kota Timika (Foto:Istimewa)

SAPA (TIMIKA) - Di Indonesia, peluang ketenagakerjaan untuk masyarakat lokal, peningkatan kapasitas dan peluang untuk bisnis lokal, serta upaya pemberian dukungan bagi masyarakat lokal untuk mendapatkan beragam sumber pendapatan sudah banyak dilakukan oleh perusahaan tambang, walau mungkin tidak selengkap apa yang menjadi ekspektasi International Council on Mining and Metals (ICMM).

Salah satu anggota ICMM yang memiliki operasi di Indonesia adalah Freeport, yang di Indonesia menjadi PT Freeport Indonesia (PTFI).  Walaupun kini mayoritas sahamnya telah dimiliki oleh Pemerintah Indonesia melalui MIND ID, BUMN holding pertambangan, namun kebijakan dan praktiknya terus dipandu oleh ekspektasi ICMM tersebut.

Dalam laporan PTFI yang telah diverifikasi oleh pihak ketiga dan dapat diakses oleh publik, dapat dilihat kesesuaian antara petunjuk ICMM tentang mitigasi dampak negatif dan penguatan dampak positif untuk pencapaian SDG10 di tingkat lokal.  Beberapa yang paling menarik adalah yang terkait dengan ketenagakerjaan dan pendidikan sebagai upaya PTFI dalam mengatasi ketimpangan sosial di Papua.

PT Freeport Indonesia melalui Tim Community Economic Development (CED) membina masyarakat lokal dalam pembuatan hingga penjualan noken bagi mama-mama di Kampung Utikini SP 12 Timika

PTFI dan Tenaga Kerja Orang Asli Papua

Studi yang dilakukan oleh LPEM UI di tahun 2019 menyebutkan bahwa PTFI telah menciptakan 230.000 kesempatan kerja tidak langsung, 122.000 di Papua dan 108.000 di luar Papua. Sedangkan secara langsung PTFI dan mitra kerjanya telah menyerap 30.542 tenaga kerja, di mana sebanyak 24,7% dari jumlah tersebut atau sebanyak 7.529 adalah karyawan Orang Asli Papua. Jumlah ini adalah yang terbesar dalam penyerapan tenaga kerja perusahaan di Papua.

Di bidang usaha kecil, mikro dan menengah, pada tahun 2019, PTFI melalui program UMKM telah memberikan pendampingan kepada 182 pengusaha Orang Asli Papua, di mana 70% di antaranya merupakan pengusaha Orang Asli Papua asal Tujuh Suku di Kabupaten Mimika. Program ini menciptakan kesempatan kerja bagi 1.477 orang di kota Timika di mana 62% merupakan tenaga kerja Orang Asli Papua. Pendapatan para pengusaha tersebut mencapai Rp 256,4 miliar.

Kontribusi bidang pembangunan ekonomi, PTFI melalui Yayasan Jaya Sakti Mandiri mendidik masyarakat lokal beternak ayam di kampung Utikini SP 12 Timika

PTFI dan Pendidikan Orang Asli Papua

Ekspektasi untuk semakin banyak dan tinggi proporsinya karyawan Orang Asli Papua benar-benar menjadi isu yang dikelola dengan serius.  Para pemangku kepentingan sepakat bahwa untuk bisa meningkatkan jumlah dan proporsi karyawan Orang Asli Papua, pendidikan dan pelatihan adalah kuncinya. 

PTFI telah mendirikan dan mengelola 5 asrama untuk mereka yang berasal dari dataran tinggi Kabupaten Mimika, sekaligus sekolah yang diprioritaskan untuk menampung anak-anak tujuh suku asli Papua di Kabupaten Mimika yang diseleksi oleh lembaga pengelola dana kemitraan, yaitu YPMAK, yayasan yang tadinya bernama LPMAK (Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme Kamoro).

Sekolah Asrama Taruna Papua di SP 4 Kota Timika, salah satu kontribusi
 PT Freeport Indonesia di bidang Pendidikan untuk anak-anak asli Papua

Melalui dana kemitraan bagi pengembangan masyarakat, PTFI juga memberikan beasiswa kepada anak-anak yang berasal dari 7 suku tersebut—khususnya Amungme dan Kamoro—mulai dari tingkat pendidikan dasar sampai perguruan tinggi bagi siswa yang terpilih melalui seleksi yang dilakukan mitra profesional.

Sejak 1996 hingga sekarang, PTFI telah memberikan beasiswa kepada 10.736 anak asli Papua dari berbagai tingkatan pendidikan dan jurusan. Secara khusus pada tahun 2019, PTFI melalui LPMAK telah memberikan beasiswa kepada 1.231 anak asli Papua untuk berbagai tingkatan pendidikan. Beasiswa untuk tingkat Perguruan Tinggi diprioritaskan bagi anak-anak Papua yang menempuh pendidikan di bidang ilmu alam, teknologi, teknik, dan matematika.

Bantuan pendidikan lain termasuk pendukung operasional pendidikan juga diberikan, termasuk transportasi untuk menjemput dan mengantar anak-anak dari lokasi-lokasi terpencil, pengadaan guru bantu, pemberian kelas matrikulasi untuk penyesuaian anak-anak yang akan melanjutkan studinya di luar Papua. (Red/Adv)

Seperti apakah program pendidikan PTFI yang lebih spesifik dalam membekali orang asli Papua untuk bisa langsung terserap di dunia kerja?

Bersambung… (3)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar