PT. Freeport Indonesia dan Upaya Mengatasi Ketimpangan Sosial di Papua (3-Selesai)

Bagikan Bagikan
PT Freeport Indonesia melatih putra-putri asli Papua mendapatkan skill dalam bidang industri pertambangan di Institut Pertambangan Nemangkawi (IPN) di Kuala Kencana (Foto:Istimewa)

SAPA (TIMIKA) - Ekspektasi untuk semakin banyak dan tinggi proporsinya karyawan Orang Asli Papua benar-benar menjadi isu yang dikelola dengan serius oleh PT. Freeport Indonesia (PTFI).

Upaya lainnya yang sangat menonjol adalah pendirian Institut Pertambangan Nemangkawi (IPN) yang memiliki program mulai dari pelatihan kompetensi dasar (literasi) hingga tingkat lanjut, yaitu program MBA yang dilaksanakan bekerjasama dengan SBM ITB untuk pengembangan karyawan dengan prioritas karyawan Orang Asli Papua.

Dibangun oleh PTFI pada tahun 2003, IPN berfokus pada pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan karakter. IPN terus beradaptasi dengan perkembangan dan kebutuhan industri, hingga kini telah memiliki 15 jurusan teknik, seperti Heavy Duty Mechanic, Miner Underground, Electrician, dan Construction. Selain itu, IPN juga memiliki program non-teknis, yang meliputi program D3 bisnis administrasi dan tata niaga. Berkat kurikulumnya yang lengkap, IPN berhasil membuat PTFI memecahkan rekor MURI sebagai “Perusahaan Tambang dengan Program Pengembangan dan Pelatihan Terlengkap bagi Masyarakat Lokal”.

Program andalan IPN adalah program magang untuk mempersiapkan SDM yang siap kerja sesuai dengan keterampilan yang dibutuhkan, khususnya di industri Pertambangan. Total peserta magang sejak tahun 2003-2018 mencapai 4.187, dengan komposisi 91% masyarakat asli Papua dan 9% pendatang.  Dan total peserta magang yang terserap sebagai karyawan di PTFI & kontraktor mencapai 2.982 orang. 

Untuk meningkatkan kemampuan dasar dan kedisiplinan kerja, IPN memiliki program Papuan Sustainable Human Capital. Pelatihan kepemimpinan juga diberikan kepada karyawan di tingkat supervisor.

Putra asli Papua sedang mendapatkan pelatihan alat berat menggunakan simulator di Institut Pertambangan Nemangkawi (IPN) Kuala Kencana

Selain itu, IPN juga menyelenggarakan Papuan Bridge Program (PBP) yang membekali generasi muda Papua yang telah menyelesaikan pendidikan di Perguruan Tinggi agar siap memasuki dunia kerja. Hingga tahun 2019, PBP telah melatih 203 generasi muda Papua (60 persen di dalamnya adalah perempuan), dengan berbagai pelatihan, pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam dunia kerja.

Akhirulkalam, tantangan PTFI untuk memenuhi ekspektasi kontribusi atas pencapaian SDG10 sangatlah besar, mengingat kondisi awal ekonomi dan sosial di tempat operasinya memang menantang.  Namun upaya yang telah dilakukan dengan petunjuk dari berbagai kebijakan dan standar, termasuk dari ICMM, membuat PTFI berada pada jalan yang mengarah pada pencapaiannya sehingga di tahun 2030 kemerataan sosial dan ekonomi di wilayah operasinya bisa membaik.

Bagaimanapun, kemerataan itu dapat tercapai jika terjadi sinergi dan kolaborasi yang baik antar pemangku kepentingan, baik masyarakat, pemerintah, lembaga adat, LSM, maupun pihak swasta. (Red/Adv)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar