Sekolah di Mimika Mulai Tatap Muka Khusus Bagi Kelas Tingkat Akhir

Bagikan Bagikan
Proses belajar mengajar secara tatap muka di tengah pandemi covid-19 (Foto:SAPA/Jefri Manehat)

SAPA (TIMIKA) - Menyusul diperbolehkannya pembelajaran tatap muka khususnya untuk siswa kelas tingkat akhir, sekolah di Mimika mulai aktif kembali dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, Senin (22/3/2021).

Salah satu sekolah yang mulai melaksanakan pembelajaran tatap muka adalah SMP Negeri 2 Timika. Kepada wartawan, Kepala Sekolah SMPN 2, Mathius Sedan mengatakan, setelah diperbolehkan, kini proses belajar mengajar tatap muka telah dilakukan, namun hanya bagi kelas tingkat akhir.

Marthen mengaku timnya telah menyiapkan penerapan protokol kesehatan pada proses pembelajaran tatap muka tersebut.

"Tatap muka ini telah didahului dengan pertemuan antara Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika bersama para kepala sekolah, dan sesuai dengan instrumen, harus ada pembentukan Satgas covid-19, dan kami sudah membentuk satgas covid untuk mengawasi protokol kesehatan di sekolah selama proses belajar mengajar berlangsung," ungkap Marthen.

Dijelaskan, mekanismenya, setiap guru dan murid yang masuk ke halaman sekolah wajib diukur suhu tubuh, memakai masker, mencuci tangan sebelum masuk kelas dan menjaga jarak.

"Proses belajar mengajar di dalam kelas, guru dilarang untuk menyentuh siswa. Di dalam kelas hanya 50 persen, sedangkan jam belajar hanya 2 jam dan tidak ada jam istirahat. Jadi mulai masuk kelas jam 07:30 WIT hingga siswa pulang sekolah jam 10:00 WIT," terangnya.

Ia menambahkan, hanya ada 6 mata pelajaran yang diajarkan oleh guru dalam tatap muka kali ini yakni PKN, IPS Matematika, Bahasa Inggris dan IPA Bahas Indonesia, mata pelajaran lainnya tetap dilakukan secara online.

"Diberlakukannya sekolah tatap muka sudah mendapatkan persetujuan dari orang tua. Bagi orang tua yang tidak setuju anaknya belajar secara tatap muka, bisa mengikuti sekolah online. Pihak sekolah memberikan kebebasan kepada orang tua untuk memilih, jadi ini tidak ada unsur pemaksaan," tambahnya.

Namun, kepada wartawan dia mengaku, guru-guru  belum melakukan swab atau rapid tes, termasuk belum menerima vaksin covid-19.

"Kita belum ada yang divaksin, sebab belum ada program itu, tapi kita sudah mengisi formulir untuk vaksinasi, dan untuk saat ini kita hanya menggunakan pengukur suhu tubuh saja," terangnya.

Sementara itu salah satu orang tua murid, Frederik Yembise berharap guru-guru dapat memperhatikan protokol kesehatan. Ia juga meminta agar guru-guru melayani murid dengan baik, dan tidak harus menekan murid untuk selalu tepat waktu.

"Ini masih dalam pandemi covid-19, kita berharap kalau ada anak-anak yang terlambat masuk kelas, tidak harus menyuruh pulang atau segalanya, dan semoga ini bisa diterima baik oleh pihak sekolah," ujarnya. (Jefri Manehat)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar