Warga Poumako Bentrok Gara-Gara Miras, Dua Orang Dilarikan ke RSUD Mimika

Bagikan Bagikan
Situasi ketika aparat keamanan berada di lokasi kejadian (Foto:Istimewa)

SAPA (TIMIKA) – Dua kelompok yang merupakan warga Asmat dan warga Kamoro di Kampung Poumako Distrik Mimika Timur bentrok usai mengonsumsi minuman keras (Miras), Minggu malam (7/3/2021).

Kepala Kampung Poumako Distrik Mimika Timur, Jhon Yohanis Yakiwur mengatakan bahwa kejadian itu terjadi sekitar pukul 19.00 WIT atau pukul 20.00 WIT, pada Minggu (7/3/2021), tepatnya di depan SPBU atau depan Ketua RT 11 Poumako.  Dua kelompok warga ini cekcok usai mengonsumsi Miras, tetapi cekcok tersebut berhasil dilerai oleh tokoh masyarakat dan pemuda di RT 8.

Namun masalah berlanjut setelah ada salah satu pemuda yang ingin mencegat mobil depot air dan meminta menumpang ke Timika, tetapi pemilik mobil depot tidak mengizinkan dan langsung memukul pemuda tersebut.

“Yang cekcok mulut itu sudah berakhir, tapi kemudian ada satu pemuda yang dipukul oleh pemilik mobil depot air, karena meminta menumpang ke Timika. Mobil depot air itu juga berdomisili di RT 8 Poumako. Itu laporan yang saya himpun dari warga saat malam kejadian,” ungkap Jhon saat dihubungi Salam Papua via telepon, Senin (8/3/2021).

Karena hal itu, terjadilah keributan antar masyarakat setempat dengan pemilik mobil depot air. Dengan adanya keributan itu, maka datanglah aparat keamanan.

Atas masalah ini ada satu warga Asmat dan satu warga Poumako yang dilarikan ke RSUD Mimika.  Warga setempat menduga, warga yang dilarikan ke RSUD lantaran terkena tembakan.

Dirinya pun mengingatkan warga Poumako agar tidak menebar informasi yang belum pasti kebenarannya, karena hanya menimbulkan sanksi bagi warga itu sendiri ketika kelak dimintai keterangan sebagai saksi dan yang lainnya.

“Saya sudah imbau kepada warga agar tidak menduga tanpa melihat jelas kronologi di TKP. Saya sampaikan ke warga saya, tidak boleh menebar informasi bahwa itu karena tembakan, karena itu bisa menimbulkan kekacauan. Kita tahu pihak keamanan itu ada Polisi dan TNI, sehingga tidak diperbolehkan menduga-duga,” ujarnya.

Saat kejadian, masyarakat setempat juga melakukan aksi pemalangan jalan dengan membakar Ban di jalan. Dengan demikian, tidak benar jika ada informasi adanya pembakaran kios-kios dan yang lainnya.

Namun, ada terjadi penjarahan barang-barang di kios-kios yang ada, akan tetapi belum bisa dipastikan siapa pelakunya mengingat hal itu diserahkan sepenuhnya kepada aparat Kepolisian.

“Jadinya saya bergadang dengan masyarakat dan berdiskusi. Bagaimanapun segala sesuatu itu harus diselesaikan dengan kepala dingin supaya pihak pemilik mobil depot air dan keluarga  dua korban bisa bertemu bersama dan menyelesaikan dengan baik. Negara kita ini adalah negara hukum, jadi apapun masalahnya harus diselesaikan secara hukum dan damai,” katanya.

Dia mengaku bahwa pada Senin pagi, (8/3/2021), dirinya telah berupaya menjenguk dua warga yang dilarikan ke RSUD tersebut, akan tetapi belum bisa menemui langsung dua korban tersebut lantaran dilarang pihak RSUD mengingat keduanya sementara dirawat dan membutuhkan ketenangan.

“Saya sementara di tengah jalan ini ke Poumako dari RSUD pulang jenguk dua warga itu. Satu orang korban itu warga Asmat dan satunya lagi warga Kamoro dari RT 7 Kampung Keakwa,” katanya.

Lebih lanjut ia mengingatkan bahwa faktor utama kericuhan ini karena Miras, sehingga harus menjadi bahan refleksi khusus bagi Pemkab Mimika.

Untuk persoalan Miras ini perlu adanya upaya bersama dari seluruh tokoh agama, masyarakat, Pemerintah, TNI dan Polri agar jika perlu dibasmi dari Mimika.

“Kita tahu Miras ini salah satu penyebab perpecahan antar warga yang ada. Makanya kalau boleh kita benar-benar sepakat bersama agar betul-betul dibasmi dari Mimika,” katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa hingga siang hari ini masih ada pemalangan yang dilakukan warga. (Acik)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar