Corcom PTFI Diskusi Ringan Bersama Pimpinan Media di Mimika Bahas Isu Smelter, Tailing dan Dana 1%

Bagikan Bagikan

Suasana di akhir kegiatan diskusi ringan Corcom PTFI dan Pimpinan Media Massa di Mimika (Dok:SAPA)

SAPA (TIMIKA) – Corporate Communications (Corcom) PT. Freeport Indonesia (PTFI) menggelar Diskusi Ringan bersama pemimpin media massa di Kabupaten Mimika yang bertempat di Ballroom Hotel dan Resto Cenderawasih 66 Timika, Papua, Senin (5/4/2021).

Hadir pada kesempatan itu yakni Vice President Corcom PTFI, Rizal Pratama, Vice President Community Relations PTFI, Nathan Kum, Project Manager Tailings Utilization PTFI, Harry Joharsyah, Manager General Constructin & Special Project PTFI, Lenny Josephina, Manager External Affairs Corcom PTFI, Kerry Yarangga, dan Manager Community Economic Development PTFI, Yohanes Bewahan, serta para pimpinan media massa di Mimika yang diundang dalam pertemuan tersebut.

Dalam berbagai isu penting seperti pembangunan Smelter, Tailing, dan sebagainya yang dibahas pada diskusi ringan tersebut, salah satu hal yang tidak kalah penting yang diungkap Vice President Community Relations PTFI, Nathan Kum bahwa dana 1% yang disalurkan PTFI kepada 7 Suku di Mimika melalui YPMAK untuk tahun 2021 ini adalah sebesar Rp 568,5 Miliar.

Dari dana tersebut, selain digelontorkan untuk program pendidikan, kesehatan dan ekonomi, juga di dalamnya direalisasikan bagi program terbaru pada tahun 2021 ini, yakni program dana kampung sebesar Rp 40 Miliar.

“Jadi tahun ini (2021) PTFI memberikan dana terhadap 7 suku di Mimika melalui YPMAK sebesar Rp 568,5 Miliar. Di dalamnya juga terdapat dana untuk program terbaru yakni dana kampung sebesar Rp 40 Miliar, dimana Rp 20 Miliar untuk kampung di pesisir pantai dan Rp 20 Miliar untuk kampung yang berada di dataran tinggi,” ungkap Nathan Kum menjawab pertanyaan jurnalis Salam Papua pada pertemuan tersebut.

Nathan Kum menegaskan bahwa semua program yang dijalankan menggunakan dana dari PTFI tersebut terhadap 7 Suku di Mimika tetap berada di bawah pengelolaan YPMAK, bukan dibagi-bagi langsung secara terpisah kepada masing-masing suku.

Namun secara khusus untuk program ekonomi dalam 1 tahun terakhir ini belum dapat direalisasikan dikarenakan masa transisi di tubuh YPMAK yang mengalami perubahan dari sebelumnya sebagai LPMAK.

“Semua program dari dana PTFI untuk 7 suku (di Mimika) itu masih di bawah YPMAK. Namun sepanjang sekitar 1 tahun berjalan ini khusus untuk program ekonomi belum dijalankan karena masa transisi (YPMAK),” ungkapnya.

Nathan Kum (Dok:SAPA)

Di samping itu, sehubungan dengan usulan jurnalis Salam Papua agar PTFI menyampaikan data secara detail dan intens setiap tahunnya terkait pencapaian-pencapaian atas hasil dana 1% PTFI terhadap 7 suku di Mimika melalui YPMAK, Nathan Kum mengatakan akan melakukan evaluasi terkait hal tersebut di tubuh YPMAK, yang mana Dirinya mengaku data tersebut juga sangat dibutuhkan PTFI.

“Kemudian untuk data, seperti apa yang disampaikan (jurnalis Salam Papua) itu, mengenai perubahan (YPMAK) ini memang kami (PTFI) juga lagi berkoordinasi dan ke depan kita akan evaluasi, karena memang kami juga perlu untuk data itu,” ujarnya.

Vice President Corcom PTFI, Rizal Pratama menambahkan, alasan mendasar adanya perubahan dari LPMAK menjadi YPMAK adalah transparansi.

“Satu hal yang saya tambahkan, jadi tujuan berubahnya LPMAK menjadi Yayasan adalah karena alasan transparansi. Sehingga bisa diaudit, terbuka, dan dapat dilihat program-program yang jelas. Seperti sarannya (jurnalis Salam Papua) tadi agar lebih intens disampaikan supaya masyarakat bisa tahu hasil-hasil apa saja yang telah dicapai (dari penggunaan dana PTFI itu),” tambah Rizal.

Rizal Pratama (Dok:SAPA)

Di sisi lain, Pemred Salam Papua yang turut hadir pada diskusi yang memakan waktu sekitar 4 jam tersebut, menanyakan terkait pemberian beasiswa dari dana PTFI kepada anak-anak orang asli Papua (OAP) tapi tidak banyak terserap sebagai tenaga kerja di PTFI atau pegawai negeri sipil (PNS) di Papua, khususnya di Kabupaten Mimika.

Selain itu, Dirinya juga mengusulkan agar ke depannya PTFI atau melalui YPMAK untuk dapat berkoordinasi dengan Pemprov Papua dan Pemkab Mimika terkait formasi-formasi CPNS yang dibutuhkan atau akan dibuka lowongan pekerjaan. Supaya lebih terfokus pemberian beasiswa hanya kepada anak-anak OAP yang akan menempuh pendidikan tinggi dimana bidang keahliannya sesuai dengan formasi CPNS di daerah ini.

Menanggapi hal ini, Rizal Pratama mengungkapkan bahwa saat ini karyawan langsung PTFI sudah ada sekitar 40% adalah Orang Asli Papua. Di samping itu, PTFI juga melatih orang asli Papua untuk memiliki keterampilan-keterampilan khusus dan mampu bekerja di mana pun.

“Saat ini karyawan langsung Freeport sebanyak 40% adalah orang asli Papua. Dan kita (PTFI) punya program namanya Nemangkawi Institut (IPN, Red), yang mana kita mencoba memberikan pelatihan vokasi berupa keterampilan-keterampilan khusus kepada masyarakat asli Papua, dengan harapan mereka memiliki kemampuan tapi tidak harus bekerja di Freeport. Bisa saja bekerja di Freeport maupun dapat bekerja di mana pun termasuk menjadi pengusaha-pengusaha secara mandiri (berwirausaha),” ungkap Rizal. (Red)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar