Fokus ke Pandemi Covid-19, Apakah Endemi Malaria di Mimika Terabaikan? (Tajuk)

Bagikan Bagikan

PENYAKIT malaria masih menjadi salah satu Primadona topik yang menarik dibahas, khususnya di Kabupaten Mimika. Dalam 1 tahun terakhir ini, kebijakan Pemkab Mimika seakan terfokus pada pencegahan pandemi covid-19, dan seakan upaya pencegahan wabah penyakit malaria di Mimika hampir-hampir hilang seiring maraknya pemberitaan seputar pandemi covid-19.

Seluruh anggaran baik di pemerintah pusat maupun daerah pun tersedot pada pencegahan pandemi covid-19 melalui tren refocusing anggaran. Apakah termasuk anggaran untuk program mengeliminasi penyakit malaria di Kabupaten ini pun direfocusing untuk pencegahan pandemi covid-19? Entahlah, belum ada informasi terkait hal tersebut.

Sebuah anekdot, Pemerintah Pusat RI dan pada umumnya masyarakat Indonesia sudah mengetahui dan mungkin juga sudah merasakan sakitnya terpapar covid-19, sehingga kebijakan Pemerintah Pusat di berbagai dimensi pun terfokus pada pencegahan pandemi covid-19 tersebut. Namun, bagaimana halnya jika beberapa “petinggi” di Pemerintah Pusat dapat merasakan “menggigilnya” serangan malaria Papua (Mimika?), apakah dimungkinkan kebijakan Pemerintah Pusat juga akan sama dengan pandemi covid-19 saat ini? Mereka (Pemerintah Pusat) mungkin baru tahu serangan covid-19, tapi belum tahu serangan malaria Papua (Mimika?).

Pastinya, penyakit malaria di Kabupaten Mimika masih tertinggi di Papua! Mungkin juga di Indonesia?

Walaupun Plt Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu,DHSM,MARS mengaku situasi kasus malaria di Indonesia mengalami penurunan sejak tahun 2010 sampai tahun 2020. Dimana pada 2010 kasus positif malaria di Indonesia mencapai 465,7 ribu, sementara pada 2020 kasus positif menurun menjadi 235,7 ribu. Tak hanya itu, penurunan kasus malaria juga diikuti dengan penurunan Annual Parasite Incidence (API) yang pada 2010 mencapai 1,96 dan 2020 mencapai 0,87.

(Sumber:malaria.id)

(Sumber:sehatnegeriku.kemkes.go.id)

Namun berdasarkan data terkini (2021) yang dilansir dari website resmi Kemenkes RI yakni malaria.id, tercatat sebaran kasus malaria di Indonesia tertinggi di Provinsi Papua, sebanyak 23099 kasus. Sangat jauh dibanding Provinsi yang lain seperti Papua Barat 884 kasus, Kepulauan Maluku 145 kasus, Kalimantan 437 kasus, Sulawesi 450 kasus, NTT 1171 kasus, Jawa 132 kasus, dan Sumatera 674 kasus.

Secara khusus di Kabupaten Mimika, pada pertengahan tahun 2020 melalui data Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika disampaikan bahwa jumlah kasus malaria mencapai angka 26.258 kasus. Sedangkan pada akhir tahun 2020, jumlah kasus malaria di Mimika terus meningkat dengan penambahan sebanyak 2045 kasus dengan rincian 1122 kasus malaria tropika dan 923 kasus malaria tertiana.

Jika dibandingkan antara data terkini (2021) yang dirilis Kemenkes RI terkait jumlah kasus malaria di Provinsi Papua secara utuh yakni 23099 kasus dengan data kasus malaria di Kabupaten Mimika di akhir tahun 2020 yakni 26.258, semestinya jumlah kasus malaria di Kabupaten Mimika juga sudah menurun pada April 2021. Namun angka pastinya belum diketahui karena belum dirilis secara resmi oleh Dinkes Kabupaten Mimika. Tapi yang jelas, jumlah kasus malaria di Mimika masih yang tertinggi di Papua dan mungkin di Indonesia.

Pada peringatan Hari Malaria Sedunia tahun ini, 25 April 2021, dengan mengangkat tema “Bersama Masyarakat Menuju Indonesia Bebas Malaria: Reaching The Zero Malaria Target”, Pemkab Mimika melalui Kadinkes, Reynold Ubra bersama jajarannya, diharapkan untuk tetap (atau mungkin bisa disebut ‘kembali’) memfokuskan perhatian pada upaya mengiliminasi dan mencegah endemi malaria di tanah Amungsa bumi Kamoro ini, seiring dengan upaya pencegahan pandemi covid-19 yang begitu gencar dengan kebijakan pembatasan jam aktivitas masyarakat dan realisasi vaksinasi covid-19 kepada seluruh pelayan publik dan elemen masyarakat.

Memang harus diakui dan didukung upaya Pemkab Mimika dalam mencegah dan mengeliminasi endemi malaria ini melalui sosialisasi kepada masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan, membagikan kelambu, membuang sampah pada tempatnya, dan sebagainya. Namun langkah-langkah ini perlu lebih dipertegas dan diperketat melalui kebijakan-kebijakan yang sama seperti halnya pencegahan covid-19. Termasuk salah satunya penyampaian data positif malaria secara intens di Mimika, seperti halnya data covid-19.

Yang jelas dan pasti, endemi malaria ini tidak perlu ditakuti karena obatnya sudah ada, berbeda dengan covid-19. Itulah salah satu alasan yang membuat Kabupaten ini sangat siap menjadi “tuan rumah” penyelenggaraan PON XX di Papua dan Pesparawi se-Provinsi Papua. Bahkan, jika Pemkab Mimika dengan berbagai kebijakan dan langkah-langkah aktif sosialisasinya serta didukung oleh seluruh elemen masyarakat yang penuh disiplin dan patuh pada kebijakan pemerintah, maka sangat berharap endemi malaria Papua (Mimika?) ini dapat ditekan perkembangbiakannya atau tidak menutup kemungkinan untuk dapat dieliminir.

Amole… Nimaowitimi…

Salam! (Red)


Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar