Hari Malaria Sedunia, 22 Pelajar Timika Diajarkan Identifikasi Jentik Nyamuk

Bagikan Bagikan
Fasilitator mengajarkan cara mengindentifikasi jentik nyamuk kepada peserta kegiatan di halaman SMK Amamapare (Foto:SAPA/Yosefina)

SAPA (TIMIKA) - Dalam rangka memperingati hari malaria sedunia pada tanggal 25 April 2021, 22 pelajar dari SMK Amamapare Timika dan SMK Negeri 2 Timika diajarkan cara mengindentifikasi jentik-jentik nyamuk oleh tim gabungan malaria.

Kegiatan ini dilakukan di SMK Amamapare Timika, Mapurujaya, Distrik Mimika Timur, mulai Kamis (22/4/2021) hingga Sabtu (24/4/2021).

Tim gabungan malaria terdiri dari Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Malaria Center, YPMAK, Community Health Departmen (CHD) PT Freeport Indonesia, YPKMP, Unicef, Yayasan Papua Care, GAPAI, dan PERDAKI.

Peneliti pada Yayasan  Pengembangan Kesehatan Masyarakat Papua, dr Enny Kenangalem mengatakan, kegiatan yang dilakukan terhadap pelajar merupakan suatu upaya menggiatkan peran serta masyarakat. Salah satu yang dilakukan adalah dengan membentuk 'laskar jentik'.

"Laskar jentik terdiri dari siswa-siswi SMA dan SMK yang dilatih dan diajarkan cara mengenali jentik-jentik nyamuk, baik anopheles maupun culex. Selain itu, bagaimana cara pencegahan penyakit malaria di lingkungan masyarakat," kata dr. Enny kepada wartawan di sela-sela kegiatan di pelataran SMK Amamapare, Jumat (23/4/2021).

Ia mengatakan, pembentukan laskar jentik ini untuk SMK baru pertama kali dilakukan dan kali ini dipusatkan di Mapurujaya bukan wilayah kota.

"Alasannya, kita jangan melupakan masyarakat di pinggiran. Karenanya memilih Mapurujaya mewakili daerah pedalaman dan pesisir," ujarnya.

Selain itu dua kampung di wilayah ini, yakni Kampung Kaugapu dan Mware memiliki kasus malaria tertinggi beberapa bulan terakhir.

"Jadi dalam kegiatan ini laskar jentik yang terdiri dari 11 orang siswa-siswi SMK Negeri 2 dan 12 orang siswa-siswi SMK Amamapare belajar teori di kelas kemudian praktek di halaman sekolah. Kita juga ada pekerjaan rumah, mereka harus mengumpulkan jentik di lingkungan mereka dan mengindentifikasinya. Kami sudah siapkan juga beberapa hadiah untuk peserta terbaik pada kegiatan ini. Nanti puncak dari peringatan hari malaria sedunia kami lakukan pada 29 April," kata dr Enny.

Dia berharap laskar jentik bisa menularkan atau memberikan edukasi kepada masyarakat di lingkungannya masing-masing. 

"Laskar jentik sendiri merupakan peran serta dari masyarakat untuk ikut serta membantu pencegahan dan penyebaran malaria di Mimika," ujarnya.

Selama ini, lanjut dr Enny, pemerintah dan stakeholder sudah berupaya mengatasi masalah malaria, mulai dari pencegahan sampai pengobatan. Tapi hasilnya kasus malaria masih meningkat, ini berarti benang merahnya belum tersambung.

"Jadi melalui pembentukan dan pelatihan laskar jentik ini, anak-anak muda bisa menyalurkan atau mengedukasi masyarakat di lingkungannya, mulai keluarga, teman, sampai dengan tetangga," ujarnya.

Melalui cara itu diharapkan masyarakat lebih paham dan mengerti untuk lebih memperhatikan penyakit malaria di Mimika.

Ini juga bertujuan untuk mengeliminasi malaria dan menjadikan Mimika zero malaria pada 2026 nanti.

"Semua ini bisa terwujud kalau digarap bersama-sama, mulai unsur pemerintah, pihak swasta, dan masyarakat. Tentunya leading sectornya tetap pemerintah daerah," pungkasnya. (YOSEFINA)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar