Istri Kasad Titip Pesan Pada Putri Papua Lulus Seleksi Prajurit TNI

Bagikan Bagikan

Istri Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) Jenderal Andika Perkasa, menitipkan pesan pada putri Papua yang lulus prajurit TNI Angkatan Darat, Lisbeth Duwith. (Foto-Antara)

SAPA (JAKARTA)
- Istri Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) Jenderal Andika Perkasa, Hetty Andika Perkasa, menitipkan pesan pada putri Papua yang lulus seleksi penerimaan prajurit TNI Angkatan Darat. 

"Selamat mengabdi, jadi Kowad yang membanggakan, membanggakan Papua membanggakan Indonesia," kata Hetty Andika Perkasa dalam siaran TNI AD yang diterima di Jakarta, Kamis. 

Hetty Andika Perkasa sempat bertemu dengan putri-putri Papua sebelum pengukuhan anggota Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad). 

Istri Kasad sempat berbincang dengan Siswi Secaba Kowad asal Papua Lisbeth Duwith tentang perjalanan sang siswi dalam meraih mimpinya menjadi prajurit TNI AD. 

Lisbeth asal Sorong Selatan adalah anak keempat dari enam bersaudara. Ia menceritakan kisahnya penuh rintangan berangkat tes seleksi.

Lisbeth awalnya ikut seleksi reguler namun gagal di tingkat daerah, ia kemudian diarahkan untuk mengikuti jalur otsus. Dia pun harus berangkat dengan memakai gaji terakhir sang ayah. 

"Saya anak keempat, yang nomor tiga kuliah, tapi karena saya masuk anggota dia tidak jadi ikut kuliah, karena hari itu gaji terakhir bapak, saya yang pakai, sebenarnya gaji itu harusnya untuk kakak saya bayar semester," katanya. 

Jika dia lolos menjadi prajurit Kowad, Lisbeth bertekad gajinya dari mengabdi kepada bangsa dijadikan untuk membiayai pendidikan kakak dan adik-adiknya. 

Setelah lulus, Lisbeth bersama anak bangsa lainnya mendapatkan pendidikan di Secaba Kowad. Ia juga menceritakan pengalamannya selama mengikuti pendidikan. 

Lisbeth dan calon prajurit lainnya mendapatkan mental dan fisik agar siap menjadi patriot yang mampu mengemban tugas dengan baik setelah menjadi Kowad. 

"Saya (awalnya) merasa takut karena memang dari atas itu (di arena latihan perang saat merayap) benar-benar ditembak, ini antara hidup dan mati ini karena memakai amunisi, amunisi tajam," kata dia. 

Saat merayap dia sempat merasakan sakit di dadanya, namun untuk menggapai cita-citanya Lisbeth terus melanjutkan sampai menyelesaikan pelatihannya. 

"Pembina saya datang untuk membantu saya, saya dibantu sama-sama dengan pembina kita merayap sampai di depan (garis akhir)," ujarnya. (Antara)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar