Kepala Kampung Diloa Distrik Jila Mimika Resah ADD Dipotong Rp 60 Juta dalam Setahun

Bagikan Bagikan
Kepala Kampung Diloa Distrik Jila Mimika, Simion Deikme (Foto:SAPA/Acik)

SAPA (TIMIKA) – Adanya pemotongan ADD sebesar Rp 20 juta per-triwulan, Kepala Kampung Diloa 2 Distrik Jila Mimika, Simon Deikme mengaku resah tidak akan bisa mengcover honor bagi aparatnya.

Saat ditanya ke DPMK terkait alasan pemotongan, dijelaskan bahwa yang triwulan pertama untuk biaya pelatihan operator kampung, triwulan kedua dan ketiga itu untuk Dinkes, Inspektorat dan Pajak.

“Yang triwulan pertama sudah dipotong Rp 20 juta untuk kegiatan pelatihan operator masing-masing kampung. Nanti triwulan kedua dan ketiga juga akan dipotong, berarti selama satu tahun dipotong sebanyak Rp 60 juta,” ujarnya saat mengikuti pelatihan di salah satu hotel di Timika, Kamis (29/1/2021).

Secara pribadi ia tidak menerima adanya pemotongan tersebut, akan tetapi lantaran sudah ada kebijakan Bupati, maka terpaksa ia pun mengikuti pelatihan bersama empat orang stafnya. Sebelumnya, dari 133 kampung juga telah menolak langsung di DPMK terkait adanya pemotongan ini, mengingat setiap kepala kampung yang akan menjadi bulan bulanan masyarakat.

Alokasi ADD di setiap kampung bervariasi pertahunnya, dimana untuk kampung yang jumlah penduduknya banyak, ADD bisa mencapai satu hingga dua miliar, sehingga tidak bermasalah jika harus dipotong. Sedangkan untuk kampung Diloa, ADD tahun ini hanya sebanyak Rp 800 juta. Di triwulan pertama ini hanya menerima kurang lebih Rp 200 juta, dimana di dalamnya untuk membayar honor aparatur seperti Bendahara, sekretaris, Operator, RT, lurah, Kepala Dusun, Linmas termasuk yang telah dipotong sebesar Rp 20 juta tersebut.

“Dari Rp 200 juta yang ada tidak bisa mengcover semuanya. Saya harus bayar honor staf saya sebanyak 5 orang, masing-masing honornya hampir Rp 9 juta pertriwulan. Apalagi ADD ini juga untuk pemberdayaan masyarakat, jadi kalau sudah begini akhirnya masyarakat akan merong-rong ke saya, kenapa anggarannya kurang?” jelasnya.

Selain hal itu, yang harus diingat adalah di dalam ADD yang saat ini ada, juga dipakai untuk biaya Carter pesawat sebesar Rp 80 juta.

“Sekarang ini kami ikut pelatihan di kota, sama saja untuk buang-buang anggaran. Satu kali carter pesawat saat pulang itu Rp 80 juta. Saat kami datang ikut Susi Air dan itu subsidi,” ujarnya.

Sedangkan Kepala Kampung Distrik Mimika Timur, Andreas Kaokapaitiparo mengatakan, baru saja mendengar informasi bahwa pemotongan akan dilakukan untuk triwulan pertama, kedua dan ketiga. Itu berarti ADD satu tahun ada Rp 60 juta yang dipotong.

“Besok baru jadwal pelatihan untuk saya, karena hari ini untuk rekan-rekan dari kampung lainnya. Besok baru saya tanyakan alasan pemotongan itu, karena saya juga berpikir pemotongan Rp 20 juta itu untuk apa? Kalau memang betul, saya tidak akan mau ikut pelatihan,” kata Andreas. (Acik)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar