Manajemen PTFI Diminta Tidak Sepelekan Tuntutan Warga Tiga Lembah Bersatu Atas Dana 1%

Bagikan Bagikan

Karel Kum (Foto:SAPA/Acik)

SAPA (TIMIKA) – Generasi Terpelajar Suku Amungme melalui wadah “Organisasi Pemilik Gunung Nemangkawi Masyarakat Tiga Lembah Bersatu” meminta agar manajemen PTFI tidak sepelekan tuntutan yang telah disampaikan saat melakukan aksi di kantor OB1 Kuala Kencana tanggal 16 Februari 2021 lalu.

“Tuntutan itu belum berakhir. Tuntutan itu bukan untuk kepentingan perorangan dan kelompok tertentu, tapi itu untuk kepentingan masyarakat Amungme dan Kamoro. Kalau misalnya ada yang menilai bahwa aksi kami di OB1 karena kepentingan perorangan, itu tidak benar, dan provokasi seperti itu harus dihentikan,” ungkap Ketua Generasi Terpelajar Suku Amungme, Karel Kum di bilangan jalan Cendrawasih, Rabu (21/4/2021).

Karel menyampaikan bahwa salah satu poin yang telah dipublikasikan dalam aksi tanggal 16 Februari tersebut adalah menuntut dibubarkannya community development PTFI dan meminta Mabes Polri segera periksa oknum-oknum yang mengelola dana 1 persen yang disebut Freeport Fund for Irian Jaya Development (FFIJD). Sebab, generasi Terpelajar Suku Amungme menilai dana 1 persen FFIJD ini ibarat bom waktu bagi masyarakat lokal di sekitar areal PTFI/Freeport McMoRan INC (FCX) di Phoenix U S.A.

Generasi Terpelajar Suku Amungme juga menilai bahwa Lemasa dan Lemasko bukan pekerja PTFI, tetapi merupakan penengah, mediator dan  fasilitator bagi masyarakat. Tuntutan membubarkan Community development PTFI tidak untuk memuluskan kepentingan segelintir orang atau kelompok, tapi untuk kepentingan masyarakat lokal Amungme dan Kamoro.

Karena itu, manajemen PTFI tidak menyepelekan permintaan yang sudah disampaikan kepada manajemen FCX di Phoenix, tapi wajib berkoordinasi dengan manajemen FCX secara baik agar bisa duduk bersama membahas poin-poin yang disampaikan. Manajemen community development PTFI segera hentikan segala komunikasi dan provokasi yang tidak produktif terkait tuntutan yang sedang dibangun di tengah masyarakat.

Generasi kaum terpelajar dan kaum muda Amungme menilai dana 1 persen FFIJD dan program sosial yang dijalankan selama 25 tahun PTFI-YPMAK untuk masyarakat lokal ibarat penyakit kronis dan bom waktu, karena semua pihak wajib memahami keberadaan masyarakat lokal di Timika.

“Dana 1 persen itu sudah dikucurkan sejak tahun 1996, tapi setiap tahun juga selalu restrukturisasi lembaga dengan alasan yang sama. Kami generasi terpelajar dan pemuda tiga pemuda menilai komitmen Freeport McMoRan melalui Jim Bob James Mofett sangat baik kepada masyarakat lokal di areal produksi dan konsesi PTFI, tapi implementasi dari manajemen Freeport di Indonesia yang tidak optimal. Makanya kami minta kepada manajemen PTFI, pimpinan Lemasa, Lemasko dan tokoh masyarakat agar perhatikan tuntutan-tuntutan tersebut yang disampaikan sebelumnya,” ujarnya.

Dijelaskan, sejak adanya aksi tanggal 16 Februari di kantor OB1  termasuk permintaan untuk dipertemukan dengan Tony Wenas hingga saat ini tidak difasilitasi oleh manajemen PTFI, akan tetapi  Organisasi pemilik gunung Nemangkawi masyarakat tiga lembah bersatu hanya dimediasi oleh kepolisian di Mapolres di mile 32 Timika.

Ini tentunya sangat tidak menghormati langkah-langkah baik dari masyarakat.

“Menurut saya sangat penting PTFI maupun semua pihak pengelola dana 1 persen itu merubah mindset dan rubah paradigma lama. Kalau seperti yang saat ini, jujur kami bingung mana indeks pembangunan manusianya dan yang lainnya? Kira-kira mana ukuran keberhasilan dari dana besar ini?” katanya. (Acik)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar