Octo Magai Sukses Kembangkan Usaha Kebun Hidroponik Berawal dari Hobi

Bagikan Bagikan
Okto Magai pemilik kebun hidroponik saat berada di ruang pembibitan (Foto:SAPA/Yosefina)

SAPA (TIMIKA) - Putra asli Suku Amungme, Octo Magai sukses mengembangkan usaha kebun hidroponik di SP3, Kelurahan Karang Senang, Distrik Kuala Kencana, Mimika, Papua.

Octo memulai usaha tersebut berawal dari hobinya berkebun yang kini menghasilkan sayuran segar yang disuplai ke PT Freeport Indonesia melalui PT. Pangan Sari Utama.

Usaha yang ditekuni Octo ini bisa menjadi peluang usaha untuk masyarakat Timika karena cara menjalankannya sangat mudah.

Usaha milik Octo ini juga diharapkan bisa dilirik oleh Pemkab Mimika melalui instansi terkait agar pengembangannya bisa menjadi lebih luas.

Dari usaha ini ia mempekerjakan 50 karyawan dengan memberikan mereka gaji yang sangat layak.

Kepada Salam Papua di perkebunan hidroponik tersebut, Rabu (21/4/2021), Octo menjelaskan bahwa ia merintis usahanya tersebut sejak tahun 2014 lalu.

Awal ketertarikannya dengan usaha itu ketika ia melihat tentang usaha-usaha hidroponik di internet. Selain itu ia melihat peluang yang bagus dari usaha ini karena belum ada sayuran lokal yang dipasok ke Freeport.

“Saya berpikir di Timika ini hampir semua sumber makanan yang dibutuhkan bisa disediakan. Seperti peternakan di Utikini yang sudah maju dan peternakan lainnnya di beberapa tempat. Mereka sudah memasok kebutuhan daging dan telur ke Tembagapura. Ada juga beberpa perkebunan kakao, kenapa tidak kita sediakan juga sayur-sayuran daripada didatangkan dari luar? Di situ saya tangkap peluang usaha kebun hidroponik ini,” kata Octo yang juga sebagai owner dari PT Namul Jaya Semesta yang mengelola perkebunan tersebut, Rabu (21/4/2021).

Karyawan yang bekerja di kebun hidroponik milik Octo Magai menunjukan hasil panen sayur salada

Di perkebunannya itu Octo mempekerjakan 50 karyawan Papua dan non Papua, umumnya mereka tidak memiliki latar belakang pendidikan formal.

“Mereka masuk di sini juga tidak ada surat lamaran. Mereka cukup datang membawa KTP, punya semangat kerja dan saya terima kerja. Gaji mereka di atas UMR dan selalu ada bonus yang mereka terima,” ungkapnya.

Dikatakan, 50 karyawan itu dibagi ke beberapa bagian yakni 15 orang laki-laki dan 15 orang bekerja di perkebunan hidroponik serta 20 orang bekerja di bagian gudang dan pengiriman.

“Saya terima karyawan di sini tidak lihat dari suku agama dan ras. Di sini ada orang Papua dan non Papua. Semua karyawan saya bekerja dengan sangat baik sehingga usaha ini bisa berjalan dengan baik juga,” tuturnya.

 Ia mengatakan, dalam usaha perkebunan hidriponik yang memiliki 62 ribu lubang pada pipa paralon itu ia menanam sayuran salada, sawi, kangkung, bayam dan kol.

Sayuran itu ditampung oleh Koperasi Pangan Muljaya Papua yang masih satu manajemen dengan PT Namul Jaya Semesta kemudian dipasok ke PT Pangan Sari Utama untuk memenuhi kebutuhan sayuran seluruh karyawan yang bekerja di wilayah PT Freeport Indonesia.

Selain mengembangkan usaha hidroponik saat ini, Octo yang mempuyai jabatan di Freeport sebagai General Superintendent Industrial Relation ini mempunyai 8 kelompok binaan perkebunan hidroponik di 6 lokasi yakni Kampung Limau Asri SP5,  Kelurahan Wonosari Jaya SP4, Jalan Budi Utomo, Kelurahan Timika Jaya SP2, Jalan Irigasi dan di Mile 32.

“Jadi setiap hari Senin, Selasa dan Rabu sayur-sayuran ini kita panen dan ditampung ke koperasi Pangan Muljaya Papua. Nanti di situ di tampung juga dengan sayur-sayuran dan buah-buahan dari kelompok binaan kami dan petani lokal lainnya yang bekerja sama dengan kami. Kemudian dipasok ke Tembagapura melalui Pangan Sari untuk memenuhi kebutuhan semua orang yang bekerja di wilayah PT Freeport Indonesia. Khusus di perkebunan hidroponik ini setiap bulannya kami bisa panen sekitar 4 ton,” terangnya.

Dikatakan, hasil panen sebanyak 4 ton ini masih belum mencukupi kebutuhan sayuran karyawan yang bekerja di lingkungan PT Freeport Indonesia, karena kebutuhan sayuran di wilayah tersebut sebanyak 20 ton, sehingga Okto berencana membuka perkebunan hidroponik yang baru.

“Saya rencana kembangkan lagi supaya kalau bisa semua kebutuhan sayuran diambil di Timika. Tidak perlu lagi didatangkan dari luar dengan begitu kita juga menyerap semakin banyak tenaga kerja,” katanya.

Ia menambahkan bahwa kebun hidroponiknya itu juga menjadi tempat praktik beberapa sekolah kejuruan di Timika.

“Setiap tahun ada beberpa sekolah kejuruan yang mengirim siswanya untuk belajar di sini. Ada siswa-siswi yang praktik selama tiga sampai empat bulan di sini. Setelah praktik kami beri sertifikat dan juga uang saku supaya mereka lebih semangat belajar,” tuturnya.

Okto Magai, pemilik kebum hidroponik didampingi karyawannya sedang memberikan penjelasan tentang usahanya kepada pengunjung

Ia mengatakan, dari usaha perkebunannya ini omset yang dihasilnya setiap bulan mencapai Rp200 juta hingga Rp500 juta.

“Kalau cuaca bagus tidak ada sayur yang rusak omset kami bagus,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut ia mengucapkan terimakasih kepada PT Freeport Indonesia atas dukungan untuk usahanya selama ini.

“Khususnya Pak Brian Eser dan jajaran Senior Manajemen PTFI yang telah mendukung saya dalam usaha ini. Terimakasih juga kepada PT Pangan Sari Utama yang telah menerima sayuran dari kebun hidroponik ini,” ujarnya.

Saat ini di kebun milik Octo bekerja 8 orang pensiunan dari kontraktor Freeport. Mereka sangat senang bisa tetap bekerja dan produktif setelah pensiun.

Ambarak Fimbay, salah seorang pensiunan karyawan Freeport yang bekerja 30 tahun di Portsite ini mengaku senang bisa berkarya lagi di perkebunan hidroponik tersebut.

“Saya senang bekerja di sini dari pada di rumah saja. Kerja di sini badan rasanya lebih sehat dan segar,” ujar dia.

Sementara Mama Yulita, seorang mama Papua juga mengaku merasa senang bisa bekerja di tempat itu. Selain penghasilan yang menurut Mama Yulita besar juga rekan-rekan kerja yang sangat baik dan saling peduli.

“Kita di sini kalau baru masuk diajarkan cara kerja, teman-teman di sini baik-baik ramah, saling memperhatikan. Penghasilan bulanan kami besar dapat bonus juga jadi bisa kerja dengan nyaman dan tenang di sini, padahal saya sama sekali tidak sekolah,” ujarnya. (YOSEFINA/Adv)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar