Persediaan Makanan Mulai Menipis, Pengunsi Beoga Puncak Minta Dievakuasi

Bagikan Bagikan

Jenazah guru sekolah dasar Oktovianus Rayo yang meninggal akibat ditembak oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) tiba di kamar jenazah RSUD Mimika, Papua, Sabtu (10/4/2021). Oktovianus Rayo dan guru SMP Yonathan Randen meninggal akibat penyerangan oleh KKB di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak dan selanjutnya jenazah diserahkan kepada keluarga di Timika.(Foto-Antara)

SAPA (JAYAPURA)
- Para pengungsi di Beoga, Kabupaten Puncak, Papua kini mulai kesulitan bahan makanan akibat tidak lagi bisa berbelanja setelah insiden penembakan kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang menewaskan dua guru. 

Selain itu mereka juga berharap dievakuasi dan keluar dan bila keamanan sudah kondusif akan kembali berdinas di Beoga. 

Memang benar, kami mulai mengalami kesulitan karena kios atau warung tutup sejak terjadinya penembakan, Kamis (8/4), kata Maria nama samaran yang bertugas di Puskesmas Beoga, Kabupaten Puncak kepada Antara, Ahad. 

"Kami tidak mungkin bertugas dalam kondisi seperti ini karena diliputi ketakutan," kata tenaga medis yang mengaku masih honorer di Puskesmas Beoga dan kini bersama lima rekannya beserta dua anak balita mengungsi. 

Maria yang dihubungi melalui telepon dari Jayapura itu menuturkan ketakutan yang dialaminya beserta rekannya walaupun sebetulnya dirinya sudah membaur dengan warga karena saat ini hampir tiga tahun di Beoga. 

KKB, Kamis (8/4) menembak Oktovianus Rayo dan Yonatan Renden pada Jumat (9/4). Keduanya guru di Distrik Beoga. (Antara)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar