Berikut Profil Alm. Klemen Tinal, Sosok yang Selalu Ajarkan Rendah Hati Kepada Adik-Adiknya

Bagikan Bagikan

(Dok:SAPA)

SAPA (TIMIKA) – Jenazah Wakil Gubernur Papua almarhum Klemen Tinal,SE,MM telah disemayamkan di tempat peristirahatan terakhirnya di pemakaman keluarga Tinal jalan Poros Kuala Kencana SP3 Timika, Senin (24/5/2021).

Berikut Profil Almarhum Wagub Papua Klemen Tinal. Lahir di Beoga Kabupaten Puncak pada tanggal 23 Agustus 1970 dan menghembuskan nafasnya yang terakhir pada Jumat (21/5/2021) jam 04:00 WIB di rumah sakit Abdi Waluyo Menteng Jakarta.

Almarhum merupakan anak pertama dari pasangan pendeta Anfield Tinal,S.Th (Almarhum) dan Elisabeth K. Tinal (Almarhumah).

Almarhum Klemen Tinal meninggalkan 1 Istri dan 3 orang anak.

Almarhum Klemen Tinal mulai mengenyam pendidikan sekolah dasar (SD) Negeri YPJ Tembagapura (1976-1982), pendidikan sekolah menengah pertama (SMP) Negeri YPJ Tembagapura (1982-1985), pendidikan sekolah menengah atas (SMA) Negeri 1 Bandung (1985-1988), lulus Sarjana S1 di Universitas Surapati tahun 2003 dan lulus S2 di Universitas Cenderawasih Papua (2006).

Almarhum Klemen Tinal memulai kariernya dengan menjadi Administrative Supervisor PT. Freeport Indonesia pada tahun 1993, dan selanjutnya terjun ke dunia politik.

Almarhum terpilih dan menjadi Bupati Mimika periode pertama pada tahun 2001- 2006, kemudian kembali terpilih menjadi Bupati Mimika periode kedua tahun 2008-2013. Selanjutnya terpilih menjadi  Wakil Gubernur Papua bersama berpasangan dengan Gubernur Lukas Enembe periode 2013-2018 dan periode kedua tahun 2018-sekarang.

Almarhum juga pernah menjadi ketua pemuda Pancasila Provinsi Irian Jaya tahun 1997-2001, ketua DPC Partai Golongan Karya (Golkar) tahun 2003- 2010, Ketua Perdasi Papua tahun, ketua DPP Perserosi, Ketua DPP Partai Golkar tahun 2013 sampai sekarang.

Empat orang adik kandung Almarhum Klemen Tinal merasakan kehilangan sejak orang nomor dua di Pemprov Papua itu menghembuskan nafas terakhirnya di RS Abdi Waluyo Menteng Jakarta sekitar jam 04.00 WIT tanggal 21 Mei 2021.

Adik ke empat Alamarhum Klemen, Yansen Tinal mengisahkan, sejak masa kecil ia rasakan bahwa almarhum merupakan figur yang bijaksana dan menjadi figur orang tua bagi semua adik-adiknya.

Almarhum selalu mengajarkan adik-adiknya agar selalu rendah hati dan tidak sombong. Diingatkan juga agar apapun yang adik-adiknya miliki harus ingat untuk berbagi kepada sesama sebagai sumber berkat bagi orang-orang di sekitar.

“Itu selalu saya  ingat dari kecil yang selalu almarhum ajarkan. Tidak boleh sombong dan selalu rendah hati katanya. Almarhum itu jadi sandaran kami saat susah,” ungkap Yansen usai prosesi pemakaman mantan Bupati Mimika tersebut di pemakaman keluarga Tinal di SP3 Timika, Senin (24/5/2021).

Selain hal itu, almarhum Klemen juga ingatkan adik-adiknya agar bisa hidup mandiri tanpa harus bergantung kepada orang lain termasuk kepada kakak ataupun keluarga lainnya. Keempat adiknya pun diajarkan untuk selalu bijaksana serta bersyukur atas semua yang didapat.

“Almarhum bukan saja sebagai kakak bagi kami adik-adiknya, tapi juga menjadi sosok Bapak yang selalu memperhatikan kami. Almarhum sangat tidak mau kami semua bikin pusing orang tua, sehingga kalau kami melakukan kesalahan maka selalu diingatkan agar kesalahan itu tidak diulangi agar jangan sampai orang tua menjadi pusing dan sakit,” tuturnya.

Yansen Tinal menuturkan, saat berkumpul bersama, almarhum selalu menyela ketika adik-adiknya membicarakan hal-hal yang terkait keburukan sesama. Sebab, menurut almarhum lebih baik nama kita jelek di mata orang lain, daripada kita harus menjelek-jelekkan orang lain.

“Menghargai orang lain itu selalu penting di mata almarhum. Almarhum selalu bilang, tidak boleh selalu menjelekkan orang lain. Kalaupun ada kejelekan orang lain, tapi jangan kita menjelekkannya. Kita sama sebagai manusia pasti ada kejelekan. Biar saja kita dijelekkan, asalkan kita tidak menjelekkan orang lain. Kata-kata itu yang selalu saya ingat terus,” tutur Yansen dengan mata berkaca-kaca.

Bagi almarhum, setinggi apapun jabatan setiap manusia, tetapi tidak harus bersifat arogan dan merendahkan orang lain sekecil apapun. Menurut almarhum, adik-adiknya tidak boleh memiliki sikap arogansi dan membeda-bedakan antar sesama, baik suku, agama ataupun kedudukan.

“Almarhum juga sosoknya cara bicaranya singkat. Kalau dia sudah sampaikan sesuatu hal, maka setelah itu langsung diam dan siapapun yang dia kasih tahu harus terjemahkan sendiri,” jelasnya.

Dijelaskan, dalam menjalani tugasnya sebagai petinggi pemerintahan menurut dia, almarhum terkenal baik di kalangan pejabat ataupun di organisasi-organisasi yang dipimpin. Dimana, selain tegas, almarhum juga mempunyai rasa empati terhadap sesamanya.

Lebih lanjut Yansen katakan bahwa setiap petua dari almarhum sulit dikaitkan dengan tanda-tanda jelang kematiannya. Namun, yang jelas di setiap momen almarhum selalu menyampaikan wejangan yang baik kepada semua adik-adiknya.

“Jelang-jelang kematiannya pun sulit saya simpulkan bahwa itu sebagai pesan terakhir, karena memang semua yang  disampaikan adalah hal yang sama dan tentang kebaikan seperti rendah hati, mandiri, berempati, tidak boleh membedakan satu dengan yang lainnya serta tidak boleh menjelekkan sesama, siapapun itu,” katanya.

Satu hal di masa kecil yang paling berkesan adalah ketika almarhum mengajari pelajaran matematika khususnya perkalian kepada sang adik.

Pasalnya, sebagai adik ke empat dari lima bersaudara, Yansen tergolong sulit memahami mata pelajaran matematika, sedangkan Almarhum Klemen Tinal merupakan sosok yang mahir untuk pelajaran matematika.

Dengan demikian, suatu saat almarhum sangat merasa bosan mengajari Yansen soal pelajaran matematika, sehingga almarhum pun melempari adiknya tersebut menggunakan pensil dan dipukul menggunakan sapu lidi.

“Karena dia marah, saya menangis. Karena saya menangis, almarhum langsung peluk dan minta maaf kepada saya, sambil menjelaskan ulang soal perkalian,” tuturnya. (Jefri/Acik)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar