Bupati Paniai: Cari Uang Jangan di Pemerintahan (1)

Bagikan Bagikan
Bupati Paniai, Meki Nawipa (Foto:Istimewa)

SAPA (TIMIKA) - Bupati Paniai, Meki Nawipa selalu menegaskan kepada para ASN dan pejabat di lingkungan pemerintah kabupaten  Paniai bahwa untuk mencari uang jangan di pemerintahan karena pemerintah hanya pelayan masyarakat (public service), untuk itu masyarakat diarahkan berbisnis untuk mendapatkan uang agar dapat meningkatkan kesejahteraan.

Keseriusan Meki dalam meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat hampir terwujud karena dia melakukannya dengan sepenuh hati dan benar-benar memposisikan dirinya sebagai pelayan, yang mengutamakan kebutuhan rakyatnya bukan kebutuhan pribadinya atau kelompok-kelompok tertentu.

Selengkapnya kisah perjuangan Meki Nawipa untuk menepati janji politiknya kepada masyarakat Kabupaten Paniai seperti laporan wartawan Salam Papua setelah wawancara ekslusif bersama Meki Nawipa di Timika, di Kantor Salam Papua, Jumat pagi (21/5//2021).

---------------------------------------------------

MEKY Nawipa mempunyai prinsip bahwa  janji politik harus ditepati dan ia berkeyakinan selama pemimpin menempatkan diri sebagai pelayan yang melayani dengan setulus hati maka tidak ada yang tidak mungkin, janji politiknya pasti akan terwujud.

Dalam dua setengah tahun kepemimpinannya ia pun sudah membuktikan 95 persen janji politik yang menurutnya sudah terwujud. Pertama yang ia lakukan adalah mengubah cara pandang masyarakat bahwa di pemerintahan bukan tempat mencari uang, jika ingin mencari uang harus jadi pengusaha, harus jadi pebisnis,serta menjadi petani kopi. 

Meky tidak hanya mengubah cara pandang tapi ia bekerja mengajarkan masyarakat cara menjadi pembisnis yang baik agar bisa hidup sejahtera.

“Saya selalu bilang kalau mau cari duit jangan di pemerintah karena pemerintah hanya public service. Kalau mau cari duit di bisnis dan ini yang kita terapkan di Paniai,” ungkap Meky.

Meky yang sebelumnya menjadi pilot maskapai penerbangan Tariku aviation yang  terbang dalam pelayanan kesehatan di wilayah pedalaman Papua ini mulai mengajarkan masyarakat berbisnis sesuai dengan potensi yang ada di Paniai.

Ia mengajak masyarakat membuka kebun kopi sebanyak-banyaknya dan sebagai penyemangat ia memberikan insentif kepada masyarakat, di mana untuk satu pohon kopi yang ditanam dibayar Rp 2.500.

Terang saja masyarakat asli Paniai sangat antusias menanam kopi bahkan pelajar pun ikut menanam kopi sehingga mampu membiayai kebutuhan mereka dari hasil menanam kopi.

“Makanya dalam waktu dua setengah tahun ini kita berhasil menanam 185 ribu pohon kopi dan lahan kopi sekarang 152,8 hektar. Jadi ada satu petani kopi yang bisa dapatkan uang Rp 23 juta perbulan dari karena sudah tanam 9.200 pohon kopi. Ada petani kopi yang anak SMP dia punya 150 pohon jadi pendapatan setiap  petani bervariasi tergantung dari banyaknya pohon kopi yang ditanam. Anak SMP yang punya kebun kopi ini sudah bisa membiayai hidupnya sendiri,” ujarnya.

Dalam usaha pengembangan kebun kopi ini ia selalu menegaskan kepada masyarakat untuk sungguh-sungguh dan mengingatkan masyarakat dalam sebuah motto ‘ko jaga saya dansaya akan jaga ko (you look after then I will look after you)’.

“Jadi kalau masyarakat sungguh-sungguh menanam kopi, merawatnya dengan baik sampai berbuah, suatu saat hasil dari kopi ini akan menjaga masyarakat,” ujarnya.

Untuk pengembangan usaha kopi ini ke depan selain program green house yang sudah dijalankan, Meky berencana tahun depan 2022 akan membangun pabrik kopi pertama di Papua, sehingga bisa menjaga kualitas dan kuantitas kopi yang akan dijual di wilayah Papua maupun luar Papua.

“Kalau sudah ada pabrik kopi otomatis rakyat semakin banyak dapat uang, hidup mereka sejahtera saya sebagai pemimpin juga tersenyum bahagia,” ujarnya.

Selain mengembangkan usaha kopi, ia juga mengajarkan masyarakat membuka usaha perikanan dan sudah ada 232 petani ikan asli Paniai.

Saat ini sedang diperbaiki kolam-kolam ikan agar bisa memperbanyak populasi ikan setelah itu akan dipikirkan usaha-usaha yang berkaitan dengan perikanan di Paniai.

“Jadi populasi ikan kita naikan dulu setelah itu baru kita bicara tentang presto ikan dan pengembnagan usaha perikanan lainnya,” katanya.

Menurut Meky, ia baru saja memberikan uang Rp 2,2 M ke Kamar Adat Papua (KAPP) Paniai, untuk membantu masyarakat mengembangkan usaha perikanan dan pertanian.

“Jadi  KAPP bawa sayur dan ikan hasil dari petani Paniai ke Jayapura, kemudian mama-mama dari Paniai akan beli di KAPP kita sudah kasih modal sama mama-mama satu orang sekitar Rp 15 juta untuk mereka bisa jualan, nanti mama-mama beli sayur-sayuran itu dan jual lagi di Jayapura. Jadi pengembangan ekonomi kerakyatan semuanya hampir terwujud, kita usahakan pendapatan masyarakat perkapita perhari paling kurang Rp 100 ribu,” ungkapnya. (Yosefina)

(bersambung…)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar