Karyawan Depot Air di Timika Dirundung Keluarga Istri Atas KDRT yang Terjadi Tahun Lalu

Bagikan Bagikan
S saat memberikan keterangan di Polsek Miru (Foto:SAPA/Acik)

SAPA (TIMIKA) – Seorang karyawan depot air zamzam di Timika dirundung oleh keluarga istrinya (A) yang berada di Bone Sulawesi Selatan atas dugaan KDRT yang telah dilakukannya di tahun lalu saat tinggal di Morowali Sulawesi Tengah.

Dengan bukti foto wajah A yang menjadi korban KDRT, keluarga A melaporkan S ke Polisi agar dihukum. Selain bukti foto tersebut, keluarga A juga menuduh S telah memfitnah dan mencemar nama baik A. Namun di sisi lain, A tidak ingin S diproses hukum lantaran masih mencintai.

“Kami sudah crosscheck ke korban dan ternyata foto yang beredar itu kejadian satu tahun lalu saat tinggal di Morowali Sulawesi Tengah. Korban ini tidak ingin suaminya diproses karena masih mencintainya. Ini hanya berupa desakan dari pihak keluarganya.Yang melaporkan ke keluarganya di Bone adalah keluarganya yang lain yang ada di Timika. Makanya S dan L kaget,” ungkap Kapolsek Mimika Baru, AKP Dionisius VDP Helan,SIK, Senin (3/5/2021).

Intinya untuk kasus ini bukan terjadi di Timika. Kemudian pelapor juga bukan berada di Timika, tetapi berada di Bone Sulawesi Selatan.

Dijelaskan bahwa pihaknya telah bertemu S dan L, dimana sampai saat ini S dan L masih merupakan pasangan suami istri yang sah.

Hal yang sama juga disampaikan Kanit Reskrim Polsek Miru, Iptu Lexi Mediyanto. Menurut dia, S mengaku bahwa benar dia lakukan KDRT, tetapi telah terjadi satu tahun lalu dan di luar Timika. Kemudian, adapun keributan terjadi di antara keduanya selama berada di Timika, tetapi itu merupakan kejadian yang biasa layaknya rumah tangga yang lainnya.

“Bagaimana kita mau proses? Yang namanya penganiayaan itu kuncinya pada hasil visum. Terus, kalau bekas KDRT dan bukti yang lainnya tidak ada, bagaimana caranya mau dilanjutkan? Seharusnya itu dilaporkan tahun lalu supaya rekam medisnya ada,” tutur Iptu Lexi.

L sebagai korbanpun menilai dengan adanya laporan dari pihak keluarga bisa menjadi efek jera bagi S. Dengan demikian diarahkan agar L berkoordinasi bersama keluarganya untuk kemudian hadir bersama S ke Polsek Miru agar bisa dimediasi dan selanjutnya membuat pernyataan.

“S hari ini kita bawa ke Polsek Miru, karena S juga ingin melindungi diri sambil menunggu keputusan keluarganya,” ujarnya. (Acik)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar