Kisah Aparat TNI dan Kepedulian Terhadap Anak yang Tidak Dapat Melanjutkan Sekolah di Timika

Bagikan Bagikan

Mikhail Alom didampingi salah satu Anggota TNI menerima ijazah di SMK Taruna Rajawali Mimika yang beralamat di Jl.Hironimus Taime Ujung Jayanti Sempan, Kecamatan Mimika Baru, Mimika, Papua beberapa waktu lalu (Foto:Istimewa)

SAPA (TIMIKA) - Tidak selamanya aparat TNI harus berada di medan perang namun perwujudan sikap Nasionalimenya terhadap NKRI dapat juga dinyatakan melalui tindakan humanis ketika berada di tengah-tengah masyarakat.

Ini terbukti saat mengunjungi Kampung Nayaro, Distrik Mimika  Baru, Papua pada 4 Februari 2021 lalu, Dansatgas Pamobvitnas TNI, Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III, Brigjend TNI Stephanus Mahury, menebus ijazah Mikhail Alom, pelajar SMK Taruna Rajawali Mimika begitu mengetahui Mikhail tidak dapat melanjutkan pendidikannya karena tidak mampu menyelesaikan biaya administrasi sekolah.

Selengkapnya kisah Brigjend TNI Stephanus Mahury saat kunjungan ke Nayaro dan berkenalan dengan pelajar Mikhail Alom hingga menebus ijazahnya, berikut laporan Wartawan Salam Papua.

Dansatgas Pamobvitnas TNI, KogabwilhanIII, Brigjend TNI Stephanus Mahury berkesempatan mengunjungi Kampung Nayaro pada 4 Februari 2021 lalu.

Bersama sejumlah aparat TNI, kunjungan tersebut dilakukan untuk memberikan bantuan Sembako dan pelayanan kesehatan.

Saat kunjungan itu, Stephanus mendapat laporan bahwa ada seorang pemuda menggunakan baju dengan lambang bintang kejora.

Sang Jendral tidak memarahi pemuda itu, ia justru memanggilnya dengan lembut dan mengajaknya berbicara.

“Saya tidak memarahinya tapi saya memanggilnya dengan lembut, kami berdua bicara dari hati ke hati. Saya tanya apakah Mikhail sekolah?, dia bilang sudah tidak bisa lanjut sekolah karena tunggakan uang sekolah dalam jumlah yang besar,” cerita Stephanus kepada Salam Papua di Waanal Coffee and Resto, Kamis malam (26/5/2021).

Stephanus mengatakan, saat itu ia menyampaikan kepada Mikhail bahwa pihaknya yang akan menyelesaikan tunggakan uang sekolahnya.

Setelah mengetahui akan dibantu, menurut Stephanus, tanpa disuruh Mikhael langsung mengganti baju lambang bintang kejora dengan baju yang dibawa Stephanus.

“Singkat cerita setelah kegiatan dua hari di Nayaro saya pesan Mikhael ke Hotel Serayu dan ia datang. Saya bertanya dia mau lanjut sekolah atau mau ambil paket? Kami berkoordinasi dengan pihak sekolah dan pengelola paket katanya ada pengecualian untuk orang Papua ketika sekolah kelas 1, namun kelas dua dan tiga tidak sekolah tapi sudah tiga tahun bisa dianggap lulus. Itu di sini,” kata Stephanus.

Selanjutnya, ia berkoordinasi dengan pihak sekolah terkait jalan keluar untuk Mikhail dan pihak sekolah menyampaikan bahwa harus menyelesaikan administrasi.

“Saya tanya ke pihak sekolah berarti tidak perlu sekolah dong dia dan pihak sekolah mengatakan tidak perlu, dia sudah dinyatakan lulus dari tahun 2020. Saya tanya lalu masalahnya di mana? katanya tunggakan administrasi, saya tanya lagi berapa? dan mereka bilang Rp 13.310.000, langsung saya bilang saya bayar dan setelah bayar langsung dikasih ijazahnya,” kata Stephanus.

Ia mengatakan, untuk meningkatkan rasa nasionalisme kepada pemuda Papua perlu pendekatan yang humanis.

“Kalau ada pemuda yang memberontak seperti Mikhael ini jangan langsung dimarahi, dekati dan ajak bicara dengan baik. Mereka berontak karena kurang perhatian seperti yang dialami Mikhael ini jadi perlu didekati dengan baik,” pungkasnya. (YOSEFINA)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar