Mama Reny, Korban Kebakaran di Gorong-Gorong Tinggal Baju di Badan dan Tidur di Emperan

Bagikan Bagikan

Mama Reny bersama menantunya saat berada di ruko bekas kebakaran (Foto:SAPA/Acik)

SAPA (TIMIKA) – Kebakaran hebat yang melanda pemukiman warga di kompleks Gorong-gorong Timika beberapa hari lalu menyisakan duka bagi kurang lebih 42 jiwa.

Satu di antaranya yang kehilangan tempat tinggal adalah Ibu Reny Fuatubun. Kost yang selama ini dikontrak sebagai tempatnya berlindung bersama suami dan anak-anaknya hangus terbakar, yang tersisa hanya pakaian di badan. Usai ditimpa peristiwa nahas tersebut, Ibu Reny terpaksa tidur di emperan selama tiga malam berturut-turut hingga akhirnya mendapat tumpangan ruang kosong dalam sebuah ruko yang juga sempat terbakar.

“Saya dan suami beserta anak dan menantu saya terpaksa tidur di pinggir toko selama tiga malam. Bagaimana semuanya sudah hangus. Sisa pakaian di badan saja. Suami saya mendulang sedangkan anak saya tukang ojek. Kami ada dua KK yang terpaksa tidur di emperan yaitu bersama keluarga Saya. Kasihan kami kena hujan, angin dan debu,” kata Reny, Jumat (21/5/2021).

Menurut dia, jumlah kerugian untuk semua perabot yang terbakar diperkirakan mencapai puluhan juta. Bersyukur untuk administrasi kependudukan sementara diganti Dinas Dukcapil yang langsung dilayani di posko TKP kebakaran.

Diapun berterimakasih dengan adanya beberapa posko organisasi masyarakat yang sigap membantu menyediakan makan dan minum.

“Kami belum terima bantuan langsung dari pemerintah khususnya untuk makanan ataupun materi lainnya. Bersyukur ada Dukcapil yang datang langsung menggantikan dokumen kami. Memang saya punya keluarga di Timika, tapi adanya di jalan Patimura dan di Samratulangi. Terlalu jauh kalau kami datang mau makan pagi, siang dan malam. Makanya lebih baik kami di sini saja,” ujarnya.

Dijelaskan, dinas sosial telah membantu beras dan mie instan bagi seluruh warga yang menjadi korban dan disalurkan ke posko dan dapur darurat.

Tentunya bantuan tersebut sangat disyukuri. Namun, diharapkan adanya perhatian khusus untuk tempat tinggal agar keluarganya memiliki tempat berlindung sambil melanjutkan hidup.

“Kemarin kami ada lihat Dinsos serahkan bantuan berupa beras dan mie instan. Kami sangat berterimakasih, tapi kami butuh tempat tinggal ke depannya. Sekarang ini kami sangat membutuhkan bantuan dari semuanya termasuk kepada Pemerintah,” katanya.

Di tengah musibah kemanusiaan ini, sejumlah ibu-ibu berpartisipasi menyediakan makanan melalui posko dapur umum Pilar Pangkep guna menopang kehidupan bagi 42 jiwa dari 17 KK yang menjadi korban.

Dapur Pilar Pangkep hadir agar setiap korban merasakan bahwa mereka tidak sendiri dalam duka yang dialami.

“Pilar Pangkep ini di bawah naungan KKSS (Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan). Kami memasak makanan siang dan malam selama tiga hari sejak peristiwa kebakaran ini terjadi. Kalau untuk makan pagi itu, ada yang memberikan nasi bungkus.  Ini bencana kemanusiaan, sehingga kita berjuang bersama memberi semangat hidup,” ungkap Neila Nisama selaku koordinator Dapur Umum Pilar Pangkep.

Untuk bahan makanan yang tersedia di dapur Pilar Pangkep ini dipasok dari masyarakat secara swadaya, baik berupa sayuran dari pedagang di pasar, beras, telur, bumbu dan jenis lainnya. Adapun yang datang langsung memberikan uang Rp 200ribu hingga Rp 400 ribu.

“Kami ibu-ibu dari Pilar Pangkep ini ada belasan orang yang sama-sama sediakan makanan di posko. Kami juga lakukan hal yang sama saat ada musibah kebakaran di kompleks Seroja beberapa waktu lalu,” katanya. (Acik)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar