Peringatan Hari Perawat Internasional, Suka Duka Mantri Saulus 10 Tahun Mengabdi di Pedalaman Mimika

Bagikan Bagikan

Saulus Pokniangge,S.Kep,Ns saat memberikan vitamin A kepada anak-anak di Puskesmas Alama beberapa waktu lalu (Foto:Istimewa)

SAPA (TIMIKA) - Menjadi perawat sudah merupakan cita-cita Saulus Pokniangge, S.Kep,Ns sejak kecil dan saat cita-citanya tercapai ia melakoninya dengan kasih. 10 tahun mengabdi di pedalaman membuatnya semakin mencintai profesinya ini meskipun begitu banyak rintangan menjadi perawat di daerah terpencil.

Berikut selengkapnya kisah pria yang biasa disapa pasien di tempat tugasnya sebagai Mantri Saulus ini.

Saulus yang lahir di Agimuga 15 April 1982 dari pasangan Petrus Pokniangge (alm) dan Dorkas Gwijangge (alm) ini sejak kecil sudah bercita-cita menjadi perawat.

Setelah tamat SMA Tahun 1999 lalu di SMA Negeri Agimuga ia memutuskan melanjutkan pendidikan di SPK Gunung Maria Manado, Sulawesi Utara.

Sulung dari empat  bersaudara ini menyelesaikan pendidikan SPK tahun 2002.

Setelah itu ia melamar di Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika.

Selama dua tahun di rumah sakit yang dikelola Yayasan Charitas Timika Papua ini, ia melayani pasien-pasien di Unit Gawat Darurat (UGD) yang sekarang diganti namanya menjadi Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Kemudian pada tahun 2005 ada penerimaan CPNS, Saulus pun mengikuti tes itu dan lulus. Pada tahun yang sama ia ditempatkan di Puskesmas Jita sebagai staf biasa sampai tahun 2008.

Melayani di daerah pelosok dengan fasilitas yang serba terbatas tidak mematahkan semangat mantri ini.

Ia tetap bekerja melayani dengan kasih semua pasien yang membutuhkan pertolongannya, meskipun tantangannya sangat luar biasa mulai dari transportasi, kebutuhan bahan makanan, fasilitas yang sangat terbatas dan perilaku masyarakat yang kadang menyakitkan.

“Perjalanan kita dari Timika ke Jita lewat sungai dan laut kita sering harus menginap di pinggir sungai dalam perahu di tengah hutan belantara karena air pasang surut. Kita kadang menahan lapar selama perjalanan karena persiapan bahan makanan yang sudah dimasak habis di perjalanan,” cerita Saulus saat ditemui Salam Papua di Bilangan Pendidikan, Timika, Rabu (12/5/2021).

Di Jita pelayanan kunjungan dari kampung ke kampung yang jaraknya cukup jauh harus ditempuh dengan berjalan kaki, menggunakan perahu dan bermalam di rumah warga.

“Di Jita itu ada 10 kampung. Empat kampung kita jangkau dengan jalan kaki, enam kampung dijangkau dengan naik perahu. Karena jarak dari Puskesmas ke kampung-kampung sangat jauh, kami harus nginap di rumah warga. Biasanya mereka suguhkan kami sagu dan ikan, kami ganti dengan kopi gula atau bahan makanan lain yang kami bawa dari kota,” ujarnya.

Tantangan lain saat menghadapi perilaku warga yang menyalahkan petugas kesehatan untuk kesalahan yang mereka lakukan sendiri.

“Pernah di Jita ada tujuh orang yang minum alkohol oplosan dan meninggal bersamaan. Warga menyalahkan kami tidak memberi pertolongan padahal waktu kami mengetahui kondisi mereka dan mau memberi pertolongan tujuh orang ini sudah meninggal. Untungnya warga tidak melakukan tindakan anarkis,” kata Saulus.

Ia pun sangat menyayangkan saat tidak bisa melakukan pertolongan yang lebih maksimal karena keterbatasan peralatan kesehatan dan obat-obatan. Belum lagi perjalanan ke kota membutuhkan waktu bisa dua hari kalau ada pasien gawat dan harus dirujuk.

“Kadang kita hanya bisa pasrah dan berdoa. Kita minta juga pasien dan keluarganya berdoa,” ujarnya.

Selama melayani di Jita tiga bulan sekali, ia ke kota untuk mengambil obat-obatan, membeli bahan makanan dan kebutuhan lain.

Di Jita selain melakukan pelayanan kesehatan, Saulus rajin melaukan pelayanan di GKII Jemaat Maranatha Jita.

“Di Jita saya dipercayakan jadi majelis,” ujarnya. 

Pada tahun 2008 ia mengajukan izin belajar kepada Pemkab Mimika dan disetujui sehingga ia melanjutkan pendidikan di Politeknik Kesehatan (Poltekes) Kemenkes Jayapura kelas Timika selama dua tahun.

“Selama dua tahun saya kuliah di Timika, saya melayani di Puskesmas Mapurujaya,” kenang Saulus.

Setelah selesai pendidikan di Poltekes tersebut, ia kembali ke Puskesmas Jita menjadi Pelaksana Harian (Plh) Kepala Puskesmas Jita, karena saat itu kepala Puskesmas definitif sedang cuti untuk urusan penting dalam jangka waktu yang lama.

Kemudian pada tahun 2014 ia melanjutkan pendidikan lagi di Program Studi Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura dan selesai pada tahun 2016. Setelah itu lanjut mengambil profesi keperawatan selama satu tahun di kampus yang sama.

Tahun 2018 awal ia kembali ke Timika dan dipercayakan menjadi Plh Kepala Puskesmas Alama dan dilantik menjadi Kepala Puskesmas Alama definitif oleh Bupati Mimika Eltinus Omaleng pada Tahun 2020 lalu hingga saat ini.

Pelayanan di Alama memiliki tantangan gangguan keamanan dan ketiadaan transportasi.

Sehingga pelayanan ke kampung-kampung di tempuh dengan berjalan kaki berhari-hari naik turun bukit yang terjal, menyeberangi sungai dan harus menginap di perjalanan.

“Mau tidak mau kita harus jalan kaki karena tidak ada transportasi. Kita istirahat dan tidur malam dalam perjalanan karena kampung-kampungnya jauh. Pelayanan ke kampung-kampung wajib dilakukan untuk Posyandu Lansia, Balita serta mengunjungi pasien yang tidak ke Puskesmas karena jarak yang jauh jadi petugas yang datang,” ujarnya.

Untuk gangguan keamanan, menurut Saulus lebih dirasakan rekan-rekan kerjanya yang perempuan harus menghadapi ancaman pemerkosaan bahkan pembunuhan dari orang yang tidak dikenal.

“Tapi Puji Tuhan tidak sampai terjadi pemerkosaan dan pembunuhan. Itu kejadian tahun 2020 lalu dan waktu itu saya dan teman-teman dievakuasi oleh aparat kemanan kembali ke Timika dan selama setahun tidak ada pelayanan kesehatan di Alama,” ujarnya.

Namun saat ini kondisi Alama sudah kondusif sehingga ia bersama rekan kerjanya sudah kembali bekerja seperti biasa. Hanya saja saat ini mereka sedang berada di Timika untuk mengambil bahan makanan dan obat-obatan. (YOSEFINA DAI DORE)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar